Sari dan Saran dari Sekolah

contoh cerpen pendidikan

Sari tertegun lesu membaca kata demi kata dalam surat itu. Lunglai jalannya bukan karena terik yang membakar kulitnya dalam perjalanan pulang sekolah. Akan tetapi karena bimbangnya tentang surat tersebut. Akankah ia serahkan surat itu dan memaksa bapaknya tertekan batin karena harus menebus buku-buku bermutu yang dijanjikan sekolah, atau ia simpan saja kertas itu agar bapaknya tak semakin bertambah risau dengan kehidupan mereka yang sudah cukup merisaukan itu?, toh pada akhirnya buku-buku itu memang tak akan terbeli. Lagi pula Sari tak akan tega melihat bapaknya menambah jam kerjanya hingga tengah malam, hanya untuk menebus buku-buku tersebut, mengais-ngais sampah bukanlah pekerjaan yang menyenangkan dilakukan sepanjang hari hingga malam. ya, sari akan menyimpan saja kertas dari sekolah itu. Toh tak ada paksaan dalam surat itu, hanya “saran”. Setidaknya begitulah yang dikatakan surat itu.

Baca Juga: Kiat Menulis Cerpen

Sari tertegun lesu, lunglai dan seperti tanpa jiwa. Sebuah buku bersampul biru berkibar-kibar di tangannya mengikuti lambaian lunglai tangannya. Bukan terik matahari yang masih saja tak lelah membakar kulitnya yang membuatnya terseret-seret langkahnya. Tapi kesimpulan dalam buku raport ditangannya yang membuatnya enggan pulang. Tidak naik kelas bukanlah berita yang mampu ia sampaikan kepada orang tuanya. Pengorbanan orang tuanya terlalu besar untuk diganjar berita seperti itu. Ia menyesal kenapa tidak bisa memiliki buku-buku itu. Buku-buku dimana semua jawaban dari ujian kenaikan berada.Aandai ia memilikinya, tentu ia akan mendapati hasil yang berbeda. Ah.. kenapa saran untuk memiliki buku-buku tersebut, yang sekolah sampaikan dulu, tak ia gubris?. bukan! bukan ia tak mau menggubris… tapi memang tak bisa menggubrisnya.

Entah kenapa jembatan diatas kali setail itu tiba-tiba menjadi nyaman untuk sari berhenti. Ia terduduk bingung.. bagaimana ia akan menyampaikannya?. Menyampaikan berita itu seperti membunuh harapan orangtuanya. menyampaikan sari tak naik kelas sama dengan menyampaikan bahwa anak harapanmu tak bisa diharapkan. tiba-tiba sari merasa bahwa berita itu tak harus disampaikan, karena memang tak layak disampaikan. Matanya nanar menatap aliran sungai di bawahnya…

Tubuh kecil itu timbul tenggelam mengikuti aliran sungai, tak ada gerakan… sebuah buku bersampul biru masih tergenggam erat di tangannya yang mulai kaku memutih, pucat. Ketika itu teriakan warga mulai ramai sahut menyahut.. ada mayat! ada mayat! ada mayat!

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Sari dan Saran dari Sekolah"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel