Penulis Terkenal Berawal Dari Pemula Yang Kuat Mental

penulis terkenal

“Saya bukan orang yang cerdas dan pintar, itu relatif. Semua itu mengalir begitu saja. Jadi penulis itu harus kuat mental, tahan banting dan berani mengambil risiko yang terburuk sekalipun. Setelah kita sukses, semua itu akan menjadi mudah tentu. Saya telah merasakannya sekarang” Prof. Deddy Mulyana (news.unpad.ac.id).

Kritik wajar saja menghampiri seorang penulis apalagi penulis pemula, mengapa? yah karena tulisan masih belepotan sana sini, namanya saja baru mulai menulis, ya begitulah jadinya.

Saya melihat ada dua macam kritik –hinaan, merendahkan, meremehkan, dll-, yang pertama adalah kritik yang bersifat membangun, kedua kritik yang sifatnya menghancurkan. Kok bisa tahu? karena dia mengitik-itik hatiku, ya.. ya... Kritik dengan kebencian itu bencana, kritik dengan canda bisa diterima.

Sebenarnya semua kritik yang datang jika disikapi positif akan berbuah pada motivasi untuk berbuat lebih baik. Jadi yang membedakan dari 2 bentuk kritik yang saya sampaikan di atas adalah pada penerimaannya saja. Jika kritik disampaikan dengan nada kebencian, secara umum jiwa kita semua akan berontak, menolak, sampai pada penyalahan diri kita kenapa saya berbuat seperti ini, seperti itu, dan parahnya lagi membawa pada trauma tidak akan berbuat lagi untuk hal itu –dalam hal ini misalnya tulisan dikritik, terus gak mau nulis lagi, gitu-. Nah kalau canda sih biar dicaci maki, dihina sampai metrek-metrek -bahasa apaan ini- tetap kita akan merasa baik-baik saja, disinilah letak perenungan dan perbaikan diri.

Baca Juga: Ingin Jadi Penulis? Inilah Nasehat Hebat Dewi Dee Lestari

Sebagai seorang penulis utamanya adalah penulis pemula –seperti saya nih- dan berkeinginan menjadi penulis terkenal, dalam menghadapi kritikan harus bersikap positif entah itu disampaikan dengan canda atau benci.

Saya pernah membaca kisah orang yang sukses sebagai penulis di kompasiana. Sebagai penulis pemula, ia mengalami kesulitan untuk menemukan ide atau ada ide tapi sulit menjadikannya sebuah tulisan. Akhirnya ia pun menyajikan tulisan dari hasil copy paste tulisan orang lain. Ternyata dari kopi paste tersebut kritik pedas dan hinaan datang menghampirinya sampai-sampai ia tidak sanggup lagi menghadapai kritik dan hinaan tersebut. Dari itu ia pun memutuskan untuk berhenti dari aktifitas menulis di kompasiana.

Niatan itu diutarakan kepada teman-temannya, kemudian kata dia ada salah seorang temanya yang menyarankan untuk tetap terus menulis. Dari situlah ia tersadar bahwa untuk mengatasi masalah, tidak harus dengan menghindari atau meninggalkannya. Ia pun bertekat dan ingin menunjukkan bahwa dirinya juga mampu menghasilkan karya tulis yang baik dan otentik. Ternyata tekad tersebut diwujudkan dengan terus menulis, yang pada akhirnya menjadi seorang penulis terkenal dan kini banyak tawaran menulis yang datang menghampirinya.

Pengalaman serupa namun beda juga pernah menimpa saya dan teman-teman, hasil karya tulis kami direndahkan –dilecehkan- di depan mata dan pendengaran kami sendiri oleh seseorang yang menurut kami sesungguhnya tidak boleh ia lakukan itu. Sebab dia adalah salah satu pimpinan di kampus kami, yang seharusnya buah motivasi yang dilontar ketika dinilai apa yang kami hasilkan tidak sesuai dengan harapan. Dengan hinaan itu kami pun merasa down, terpukul, sedih, dan berbagai macam perasaan yang membawa kami pada posisi lanjut atau berhenti.

Meskipun saat ini kami semua belum ada yang menjadi penulis terkenal, namun kami tetap akan terus menulis, meskipun dan siapapun yang mengkritik, menghina, atau merendahkan hasil karya tulis kami.

Memang pada praktiknya saya sering menjumpai dan merasakan, seorang penulis pemula yang hendak menulis akan dibayangi dengan perasan ketekutan-ketakutan, yang menghambat atau bahkan sampai menghentikannya dari mencoba hidup dalam dunia tulis-menulis. Ketakutan itu seperti takut karena tulisannya jelek, tidak berbobot, takut dikeritik, dihina, atau bagaimana kalau ada yang tersinggung, bahkan sampai pada persoalan hukum.

Memantapkan dan menguatkan mental adalah jalan yang wajib dilalui untuk menjadi penulis terkenal, kembali saya kutip pernyataan Prof. Deddy Mulyana “Saya bukan orang yang cerdas dan pintar, itu relatif. Semua itu mengalir begitu saja. Jadi penulis itu harus kuat mental, tahan banting dan berani mengambil risiko yang terburuk sekalipun. Setelah kita sukses, semua itu akan menjadi mudah tentu. Saya telah merasakannya sekarang.”

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Penulis Terkenal Berawal Dari Pemula Yang Kuat Mental"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel