Jiwa Bangsa, Letak Tangguhnya Pancasila Hadapi Tuntutan Zaman

lomba blog pusaka indonesia 2013Sejarah panjang telah tergores dimana persatuan terjalin dari berbagai macam suku bangsa. Perjalanan yang penuh dengan perjuangan dan kerja keras yang tidak ternilai harganya, menjadi tonggak dimana kita akan hidup bersama. Indonesia, inilah wujud persatuan dari berbagai macam karakter itu, untuk mencapai dan mewujudkan ide atau cita-cita mulia.

Terbentuknya Indonesia sebagai negara membutuhkan dasar atau nilai yang wajib dijadikan sebagai prinsip kehidupan baik individu maupun kelompok, dengan tujuan agar dapat mewujudkan cita-cita bangsa. Dengan demikian para tokoh pendiri bangsa telah berhasil merumuskan prinsip-prinsip untuk ber-Indonesia yaitu Pancasila. Nilai-nilai yang terkandung di dalamnya itulah yang membentuk karakter kita sebagai bangsa Indonesia, sehingga dengan nilai-nilai itu pula bangsa ini tetap akan terjaga.

Namun perjalanan waktu yang membawa dunia pada suatu keadaan dimana kita dapat dengan mudah melihat, mendengar, atau mengetahui informasi mengenai segala sesuatu, termasuk budaya atau pola hidup dari bangsa lain. Ketika informasi tersebut terus menerus mendominasi, tidak menutup kemungkinan dapat mempengaruhi kehidupan bangsa kita. Indonesia yang saat ini masih berada pada tataran konsumtif -penikmat- menjadikan rentan akan pengaruh budaya-budaya yang dibawa oleh arus globalisasi. Hal ini dapat berdampak buruk pada lunturnya jati diri Indonesia. Bagaimana tidak, dengan semakin terbukanya pembatas ruang maupun waktu, penyajian berbagai macam bentuk budaya dapat dilakukan dengan mudah. Pada situasi demikian ini pemain -produsen- yang akan diuntungkan. Ketika bangsa ini belum mampu menjadi pemain, maka jelas dapat terpengaruh oleh aktifitas pemain.

Didasarkan pada kehidupan manusia yang dinamis, membawa dampak pada berkembangnya keinginan akan hal-hal yang baru yang dianggap ideal untuk diikuti. Pola kehidupan semacam itu merupakan kodrat manusia yang pasti berlaku. Namun yang menjadi masalah adalah ketika hal-hal yang baru dan ideal itu bukan berasal dari diri kita, maka itu akan menggadaikan jati diri bangsa.

Kondisi ini menjadi tantangan baru yang mempertarungkan Pancasila dengan budaya yang datang melalui pintu globalisasi. Budaya bangsa akan menjadi korban; terlindas, terbuang, terabaikan, bahkan mati jika Pancasila tidak cukup tangguh untuk menghadapi globalisasi tersebut.

Disekitar kita, dalam kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai prilaku-prilaku yang dipengaruhi oleh budaya luar. Sebagai contoh misalnya dari sisi bahasa ketika berdialog lantas menggunakan atau menyertakan bahasa asing, maka kita akan dielu-elukan -dibanggakan-. Tetapi ketika kita menggunakan bahasa daerah, semisal jawa, bugis, dayak, atau yang lainnya. Maka kita akan dihadapkan pada wajah-wajah penuh dengan senyum tapi sinis, tertawa namun menghina -Kok enggak keren ya? Kok enggak gaul ya?-. Begitu juga dengan berpakaian dan gaya hidup yang lainnya, itulah yang terjadi sekarang ini.

Hal semacam itu juga terjadi pada ranah pendidikan yang dijelmakan dalam RSBI atau SBI, namun untung saja jiwa-jiwa Pancasila dapat meruntuhkan kesalahan atau penyimpangan yang terjadi. Ini merupakan contoh bukti bahwa Pancasila dapat menjaga dan mempertahankan apa yang menjadi jiwa bangsa kita.
Bukan juga dimaksud bahwa tidak penting untuk mengtahui dan mempelajari budaya yang bukan berasal dari kita. Hal itu tetap penting untuk dilakukan, namun harus paham akan posisi dan penggunaannya. Budaya luar seharusnya memiliki posisi untuk dipelajari, dan dijadikan sebagai dasar dalam menentukan siasat untuk memenangkan posisi budaya kita dalam arena globalisasi. Bukannya malah menggantikan posisi budaya kita.

Sesungguhnya kalau kita berfikir jernih dan mendalam, mereka (baca: budaya asing) mendapatkan posisi sebagai budaya yang diminati atau mempengaruhi, bukan didasarkan pada baik atau buruknya sebuah budaya. Karena baik dan buruknya budaya adalah sesuatu yang relatif. Namun posisi itu, diperoleh karena mereka adalah pemeran utama dalam permainan globalisasi. Dinamika hidup yang terjadi saat ini seharusnya membawa kita pada nilai dan cita-cita bangsa, yaitu untuk bersanding dan bersaing, bukan terpengaruh atau mempengaruhi. Untuk mencapai itu, maka sejauh mana konsistensi individu maupun kelompok dalam memahami, menghayati, serta mengamalkan nilai-nilai yang telah menjadi kesepakatan bersama menjadi menarik untuk diulas. Demikian ini, setidaknya dapat dijadikan sebagai sarana untuk mengetahui kekuatan yang terkandung dalam Pancasila. Dengan kekuatan tersebut dapat dijadikan motivasi dan optimisme dalam mengamalkan pancasila.

Sebagaimana menurut Noor Ms Bakry bahwa pada awal pancasila lahir merupakan cermin budaya masyarakat yang dirumuskan oleh para tokoh. Karena sifatnya tersebut merupakan pola atau tata kehidupan masyarakat yang berkembang maka pancasila merupakan ideologi terbuka. Maksud terbuka bukanlah serta-merta mengamalkan atau melaksanakan budaya yang datang dari luar kehidupan kita, sebagai bangsa Indonesia. Namun terbuka yang dimaksudkan adalah dinamisasi dari kreatifitas dan inovasi yang terlahir dari bangsa kita sendiri.

Cinta tanah air dan bangsa merupakan salah satu nilai yang bisa dijadikan pedoman, penghayatan, serta pengamalan untuk menjadi pemain -bersaing dalam arena globalisasi-. Menurut Kabul Budiyono dalam bukunya Pendidikan Pancasila bahwa cinta tanah air dan bangsa merupakan penjabaran nilai dari Pancasila, yaitu Persatuan Indonesia.

Dengan cinta tanah air dan bangsa yang didasarkan pada sifat pancasila yaitu sebagai ideologi terbuka. Maka ini memberikan peluang bagi kita, sebagai penganutnya untuk terus-menurus berkarya atau berprilaku sesuai dengan zaman dimana kita hidup. Usaha untuk bersaing, usaha untuk berkembang, usaha untuk sesuatu yang lebih baik, dan usaha-usaha lainnya yang menjadi dasar hidup manusia, diberikan peluang dan dorongan untuk terus dilaksanakan dalam wilayah persatuan Indonesia.

Semakin jelas bahwa ketika kita memiliki tekad untuk bersatu dalam Indonesia, maka kita akan mencintainnya dan kalau kita cinta maka menciptakan sejuta usaha, sejuta ide, menumpahkan seluruh kekuatan untuk menjadikan yang dicintai mendapat kedudukan tinggi dihadapan kita dan dihadapan orang lain. Itulah nilai yang seharusnya tertanam, itu barulah satu nilai yang terkandung dari satu dasar yaitu; persatuan Indonesia, bagaimana dibayangkan betapa kokohnya Indonesia jika seluruh jiwa yang ada di dalamnya memiliki nilai dari lima dasar negara kita.

Hingga pada akhirnya, tidak ada lagi kata bahwa bangsa kita tidak keren, bangsa kita tidak gaul, bangsa kita ini kuno, atau sebutan-sebutan lain yang merendahkan. Namun yang ada adalah dengan pancasila akan aku buktikan bahwa budayaku layak bersanding, bahasaku gaul diucapkan, bajuku keren digunakan, itulah aku berbeda tapi satu dalam INDONESIA.

MOCH KHOIRUL FAIZIN

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Jiwa Bangsa, Letak Tangguhnya Pancasila Hadapi Tuntutan Zaman"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel