Aku Akan Terus Berjalan, Meski Dalam Keadaan Pincang - Kuliah Bebas 4

Syukur, sudah sampai di kampus. Motor aku parkir, kemudian segera aku menuju ruang kelas. Ketika aku melintasi mading penglihatanku menyaksikan sesuatu yang membuat aku penasaran, “waow… tulisan kak Faizin dapat feed back dari pembaca,” ucapku dalam hati. Langkah kaki aku arahkan menuju mading, aku perhatikan dengan seksama mencari tahu apa sih tanggapannya, “modelmu zin-zin ngaca dulu,” bacaku. Karena kemarin aku sudah baca tulisan kak Faizin, jadi aku mengerti apa maksud dari feedback itu.

Setelah membacanya muncul semangat baru dalam diriku. Selanjutnya kembali aku melangkah dan pergi meninggalkan mading menuju ruang kelas. Semangat baru itu membuat aku tak sadar ternyata aku berjalan dengan gaya yang seharusnya aku jaga. “Memang luar biasa dampak dari perasaan cinta, baru ada di otak aja udah bikin berantakan, apa lagi sampai berhadapan, hehe… harus kuat Iman pokoknya” bhatinku. Sesampai di ruang kelas aku sedikit lega, ternyata belum ada dosen. “Nanti perkuliahan selesai aku langsung nemuin dia ah, tapi kira-kira dimana ya, ah itu gampang nanti dicari-cari, yang penting sekarang aku punya bahan,” pikirku bergejolak.

“Saya kira itu, minggu depan jangan lupa yang bertugas presentasi kelompok 3, tolong dipersiapkan makalahnya,” seru bapak Dosen saat mengakhiri perkuliahan. Aku segera merapikan peralatan tulisku, setelah aku pastikan peralatan tulis sudah tersimpan dengan baik, aku beranjak meninggalkan kelas mendahului teman-teman, bahkan dosen “waduh aku sudah berbuat tidak sopan, dosen aja belum keluar masak aku sudah main kabur gitu aja, besok aku gak bakal izinkan diriku berbuat seperti itu lagi.” Niatku penuh penyesalan.

“Sip, aku baru nyadar kalau setiap hari Minggu dan Rabu jam 12:00 – 13:00 kan ada rapat redaksi gazebo, pasti dia ada di sana,” sangkaku. Perasangka itu ternyata benar, di gazebo sudah ada kak Nashir dan kak Ali, segera aku percepat langkahku mendatanginnya.

Mumpung belum di mulai rapat redaksinya, langsung aja aku tanyakan bahan yang aku dapat tadi dari mading, “kak sudah tahu belum kalau tulisan kak Faizin dapat respon dari pembaca?” tanyaku pada mereka berdua. “Oo… sekarang kalau bicara isu-isu kampus yang aktual dan faktual, LPM Gazebo tidak diragukan lagi, jadi pastilah kita tahu apa, siapa, dimana, kapan, mengapa, dan bagaimana.” Jelas kak Ali. “5 W plus 1 H, donk kak?” kataku. “Ia lah, jurnalis gitu!,” lanjut kak Ali. “Terus pendapat kakak tentang respon pembaca tadi bagaimana?” tanyaku, ingin menggali apa sikapnya tentang itu.
“Eh, sepertinya kak Nashir mau bicara,” bhatinku, dengan semangat ganda. Aku arahkan pandangan pada kak Nashir, kening aku kerutkan, mata sedikit aku sipitkan, mencoba untuk menunjukkan bahwa “ini kak, aku betul-betul perhatikan apa yang akan kakak katakan,” kataku dalam hati.

“Sisi etika atau subtansi, Mila?” ternyata kak Nashir mengajukan pertanyaan padaku, sepertinya dia ingin fokus dalam menjawab. Aku pun mulai berfikir untuk mempeta-petakan fokus apa yang ingin aku gali dari kasus ini. “Subtansinya kak, kalau etikanya sih sudah jelas aku sendiri bisa menyimpulkan,” jawabku agak meninggi, biar di liat berkelas gitu.

“Sudah hampir jam 12, saya jawab singkat ya!” minta kak Nashir. “Jadi begini respon pembaca itu mencoba mengingatkan begini bahwa sebelum kamu bicara, sebelum kamu berpendapat, sebelum kamu memberikan nasihat, coba lihat dirimu dulu apakah sudah sesuai.” jelas kak Nashir. “Iya bener ya kak,” sambutku.

“Itu sama kasusnya dengan aku tadi!” sambut kak Ali, “apa Li?” tanya kak Nashir. “Aku tadi disuruh ngisi materi tentang Entrepreneur sama anak-anak HMJ Syari’ah, aku sadar siapa sih aku ini, ya emang aku punya usaha tapikan sekalanya masih kecil. Jadi menurut pandangan umum aku gak layaklah jadi pemateri,” jelas kak Ali panjang lebar. “Tetapi aku punya prinsip, aku akan terus berbagi meskipun dalam keadaan pincang,” lanjut kak Ali.

“Kak Ali ini selalu aja pakai istilah-istilah aneh, maksudnya apa kak Dalam Keadaan Pincang?” tanyaku cari tahu. “Tidak sesuai keadaannya dengan apa yang menjadi inginnya. Contoh sinetronnya itu lho Mak Ijah Pengen ke Mekkah dan Tukang Bubur Naik Haji, pastinyakan kita akan berpandangan begini, ngaca donk miskin kok mau naik haji, hehehe… makan aja susah. Tetapi karena mereka punya tekad, dengan menabung maka Allah memampukannya dengan jalan lain yang tidak disangka.” Jelas kak Ali. “Artinya apa, kita jangan lupa dengan Allah, bahwa Dia adalah Maha Memampukan, nah tugas kita sebagai manusia adalah mencari sebabnya apa agar kita dapat dimampukan, gitu ya Mila!” nasehat kak Ali.

“Sepertinya kita punya pemikiran yang sama Li, kalau gitu Mil saya tidak perlu jelasin lagi ya?” minta kak Nashir. “Iya kak aku sudah paham sekarang kak,” sebenarnya itulah ketakutanku untuk melakukan apa-apa, karena aku merasa belum punya atau bisa apa-apa.

“Jadi intinya begini tidak apa mengajar meskipun kita belum bisa menerapkan apa yang kita ajarkan. Tidak apa kita memberikan nasehat misal tentang kaya, berbuat baik, ibadah, dan sebagainya meskipun kita belum melakukannya. Tidak apa kita menuntut ilmu meskipun kita takut tidak dapat mengamalkannya, tidak apa kita bersedekah meskipun hati belum ikhlas,” kak Ali menyimpulkan apa yang dia sampaikan tadi, dan itu memperjelas bagaimana aku harus bersikap.

“Oh ia sampaikan ya sama teman-teman kamu, kalau pembaca bisa kok menyanggah tulisan-tulisan yang diterbitkan. Kita contoh Al-Ghazali dan Ibn Rusyd, mereka berdua keren lho dalam menyampaikan ketidak sepakatannya atau tidak sepahamnya,” Perintah kak Nashir. “Sip kak,” jawabku.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Aku Akan Terus Berjalan, Meski Dalam Keadaan Pincang - Kuliah Bebas 4"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel