Mindset Pecundang, Membuat Aku Kalah Dengan Kehidupan - Kuliah Bebas 3


“Aku lihat, sepertinya pada dirimu belum terjadi harmonisasi hati,” celetuk kak Ali. “Kok tau kak?” jawabku, “ya taulah dari indikasi galaunisasi sikap pada dirimu.”  “Hehehe… kak Ali ini menguasai betul Kamus Besar Bahasa Vicky (KBBV), udah habis berapa halaman kak?” candaku. “Itukan bagian daripada usaha blenderisasi kata, hahaha…” kembali kak Ali memancing tawa. Aku coba sedikit mengingat ucapan-ucapan Vicky yang membuatnya populer, “kalau gitu kak, mari kita konspirasi kegalauan, hehehe…” ajakku mengimbangi kak Ali.

“Mila!” seru kak Muhtar, “iya kak” jawab ku. “ngomong-ngomong masalah harmonisasi hati, saya jadi ingat kata-kata Faizin Bersama,” belum selesai kak Muhtar bicara aku sudah mengajukan pertanyaan “siapa itu Faizin Bersama, kak?” Kak Muhtar memandangku dalam, kemudian dia lanjut bicara “kamu waktu mau tes masuk STAIS kemarin, ikutkan kegiatan Bimbingan Tes Intensif (BTI)?” Kak Muhtar mencoba membawaku pada suatu kegiatan yang memang aku mengikutinya, “iya kak aku ikut dikegitan itu” jawabku. “Nah, Faizin Bersama itu yang sama-sama saya menyampaikan materi tambahan, tentang organisasi”. Akupun sejenak mengingat “Ooo… yang kurus tinggi itu ya kak?” tanyaku, mencoba cross cek apakah benar ingatanku itu, “ya itu dia,” jawab kak Muhtar.

Memang aku lagi galau tapi tetap bisa konsentrasi, terbuktikan aku masih bisa mengingat kejadian lama yang ditanyakan sama kak Muhtar. Oh iya, aku belum kasih tau ya, dimana keberadaan kami, “BEM, Sekret, Perpus, Gazebo, atau dimana yo?” Coba tebak, tempatnya banyak pasir, airnya asin, terus jalan menuju kesana kalau hujan becek, kalau kering berdebu. Udah tahukan? Kalau bicara becek dan berdebu pastinya masih berada di wilayah Sangatta ya kan? Ah gak tau itu kenapa pemerintah bangun jalan lama betul jadinya, pasti ini mereka sedang konspirasi kemakmuran, walah keluar lagi nich blenderisasi kata, istilah kak Ali.

Suasana memang asik, kami duduk bersimpuh di atas pasir, bersama angin yang berhembus, tak pernah putus, menembus hati, mencari arti, besarkan diri, hadapi hari, penuh mimpi, bersama dia, yang tak mengerti, kalau hati, sedang menanti, blenderisasi cinta sejati. Walah muncul lagi istilah kak Ali.

“Nah waktu itu Faizin Bersama bertanya pada peserta BTI,” kak Muhtar kembali bicara, “pertanyaannya begini, coba saya ingin tau pasangan hidup seperti apa yang anda inginkan, yang berparas menawan atau yang biasa-biasa saja, katanya?” Eheheh… sepertinya obrolan akan sejalan dengan apa yang aku alami akhir-akhir ini. “Jawaban peserta pada intinya adalah, mencari pasangan hidup yang biasa-biasa saja yang penting orangnya sholeh, baik, penuh perhatian, dan lain-lain” lanjut kak Muhtar. Aku pikir jawaban itu wajar, akupun kalau ditanya soal itu jawabanku pasti juga akan begitu. Tapi aku yakin kak Muhtar pasti punya maksud untuk menggugah mindsetku, “emangnya kenapa kak dengan jawaban itu?” aku ajukan pertanyaan untuk mengarahkan obrolan supaya mengikuti logika berfikirku.

“Ya..ya..ya, aku dulu juga ikut nyimak, Faizin Bersama berbicara tentang komparisasi hatikan? hahaha…” kami pun serempak tertawa, “sepertinya Ali sudah terjangkit oleh penyakit blenderisasi kata, hahaha…” celetuk kak Muhtar, yang masih diiringi dengan gelak tawa kami. “Emang lho kak Ali ini” kataku ikut menghakimi.

“Emang tho Faizin dulu mengangkat masalah bagaimana membandingkan sesuatu dengan benar untuk dipilih?,” kak Ali lanjut bertanya. “Iya kak,” jawabku “nah kalau begitu benar tho saat hati kita mengukur, ini begini, itu begitu atau ini segini, ini segitu terhadap suatu pilihan disebut sebagai komparisasi hati?” jelas kak Ali yang masih membutuhkan akan pembenaran. “Sebentar ya kak aku pikir dulu…, ah iya aja dech,” jawabku membenarkan.

Di kejauhan aku pandangi sosok yang berjalan, namun terlihat perjalanannya beberapa kali diselingi dengan berenang. Semakin dekat sosok itu, semakin besar pula harapanku, “mudah-mudahan dia menghampiri kami di sini,” begitu kata hatiku. Namun untuk menghilangkan kenampakan yang ada pada diriku, akupun mencoba mengalihkannya dengan menyeru kak Muhtar, agar segera menjawab pertanyaanku tadi. “terus emang kenapa kak dengan jawaban peserta tadi, bukankan itu jawaban yang ideal!” seruku coba mengingatkan.

“Begini kalau Faizin, menjadikan kasus itu sebagai ilustrasi Cara Benar Membandingkan, saya akan mencoba menggunakan kasus itu untuk melecut diriku sendiri agar lebih keras dan cerdas dalam usaha, syukur-syukur kalu Mila juga bisa ikut mengaplikasikan itu.”

“Makusdnya kak,” tanyaku. “Sebelum saya jelaskan coba kamu cerna pernyataan-pernyataan ini, jadi kaya belum tentu bahagia, mending biasa-biasa aja yang penting bahagia. Kenapa harus berorganisasi kalau nilai akademik dapat NASAKOM (Nilai Satu Koma), mending jadi mahasiswa biasa aja tapi dengan nilai sempurna. Apa yang bisa kamu tarik kesimpulan dari pernyataan-pernyataan barusan dan pernyataan peserta BTI?” Tanya kak Muhtar.

Alis aku angkat, mata aku fokuskan pada sebatang pohon sambil berusaha memeras otak, mencari hubungan apa sich sebenarnya yang ditanyakan sama kak Muhtar. Ya ya ya, mungkin ini kesimpulan, eh kak Ali sudah angkat bicara duluan, “mereka punya kesamaan mindset,” kata kak Ali. Ternyata yang dikatakan kak Ali sama dengan yang aku pikir tadi.

“Nashir! sekalian mampir kewarung belikan saya rokok, U-Mild ya!” perintah kak Muhtar sambil menunjuk warung yang berada di dekat kami. “Itulah realita yang terjadi di kalangan kita,” lanjutnya. “Sekarang ayo apakah saya, Mila, Ali juga punya pola pikir yang sama dengan mereka, silahkan tanyakan pada diri sendiri, dan coba renungkan apa hasil capai dari pola pikir itu,” ajak kak Muhtar.

“Ini rokoknya ketua,” kak Nashir memberikan rokok U-Mild yang dipesan kak Muhtar tadi. “Kok lama sekali Shir beli rokoknya, beli di Bontangkah?” pancing kak Muhtar. Selanjutnya kami pun terlarut dalam obrolah-obrolah tentang blenderisasi hati, karena formula ku dan dia berada pada momen yang tepat. Hihihi…

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Mindset Pecundang, Membuat Aku Kalah Dengan Kehidupan - Kuliah Bebas 3"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel