Oh, Modal Menjadi Penulis Itu Cuman Keberanian Ya?


Membaca cuplikan isi buku Saatnya Aku Belajar Pacaran, karya Toge Aprilianto dipostingan facebook beberapa hari yang lalu, kemudian sikap penulisnya saat dituntut untuk mempertanggung jawabkan isi materinya, yang dianggap oleh banyak pihak tidak sesuai dengan norma-norma yang berlaku. Membuat aku sadar bahwa untuk menghasilkan karya tulis, aku harus punya keberanian, atau bisa juga dibilang menjadi penulis itu sebenarnya modalnya cuman keberanian.

Sebelum aku tau sikap penulisnya, aku adalah termasuk orang yang ikut menghujatnya -tapi dalam hati saja-. Kurang ajar, bisa-bisanya dia menulis dan menyebarkan pemikiran gila seperti itu. Bagaimana jadinya generasi masa depan, jika diajarkan cara-cara begitu -ciah... sok-sok mikirin generasi masa depan segala-. Tidak diajarkan saja sudah banyak bayi yang terbuang di jalanan, tong sampah, wc, kebun atau dikubur hidup-hidup, digugurkan dan ketega-tegaan lainnya. Itu semua akibat melakukan kenikmatan seperti yang dituliskan oleh Toge Aprilianto dalam bukunya tersebut. Begitulah kira-kira kata hatiku, setelah membacanya.

Baca Juga: Penulis Terkenal Berawal Dari Pemula Yang Kuat Mental 

Menurut beberapa sumber yang aku baca katanya penulisnya adalah ahli psikologi. Akhirnya dia pun menuliskannya dengan menggunakan sudut pandang psikologi. Sehingga mungkin, dia mengira itu hal yang wajar dan bisa diterima pembaca. Tetapi ketika karya tulis telah dipublikasikan, maka karya itu bukan lagi milik penulis. Sehingga penulis tidak bisa lagi mengendalikan pandangannya itu. Jadi yang tadinya penulis menganggap itu wajar, eh ternyata orang lain menganggapnya kurang-ajar.

Setelah aku browsing tentang dia, aku pun jadi tau kalau dia ternyata sudah minta maaf dan berjanji akan menghentikan penjuaalan buku tersebut. Seperti yang dipublikasikan oleh situs berita republika.co.id (2/2/14). Selain itu dia juga bersedia mengembalikan atau mengganti uang pembaca yang sudah membelinya, jika mereka menginginkannya. Aku jadi salut sama dia, ketimbang dengan pejabat yang sudah jadi tersangka korupsi, tapi masih ngotot tidak mau mengakui kesalahannya.

Waduh jadi kemana-mana pembahasannya, padahal yang mau aku bahas itu soal menulis butuh keberanian, bisa-bisanya sampai nyasar ke koruptor segala. Tapi beneran lho, aku lebih suka orang ngaku salah, daripada orang ngaku-ngaku benar. Apa kalian juga?

Hem..., oke begini. Saat aku ingin membuat tulisan, aku selalu dihantui oleh ketakutan. Dan ternyata semua ketakutan itu bersumber dari penilaian atau anggapan orang lain terhadap tulisan yang akan aku hasilkan nanti. Takut tulisan jeleklah, gak mutu, gak berbobot, gak nyambung, atau bahkan mungkin ketakutan akan melanggar aturan seperti yang dilakukan oleh Toge Aprilianto. Dari ketakutan-ketakutan itulah penyebab yang bisa membunuh keinginan menulis secara berlahan.

Kejadian yang dialami oleh Toge Aprilianto, terlepas dia niat atau karena ketidak tahuannya terhadap apa yang dia tulis. Aku jadi punya pandangan baru, untuk bisa terus menghasilkan tulisan. Bahwa memang menulis itu butuh keberanian, jadi prinsip itulah yang saat ini aku tanamkan, agar aku tetap kuat melawan dan mempertahankan keinginan menulisku.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Oh, Modal Menjadi Penulis Itu Cuman Keberanian Ya?"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel