Aku Perempuan - #1

Wanita Karir
Ilustrasi: store.rumahmadani.com

"Kau perempuan! Tidak sepantasnya melakukan aktivitas seperti itu?"

"Tapi Ayah! Aku punya mimpi." Wajah memelas, meratap agar Ayahnya menuruti keinginannya.

"Mimpi apa? Sekolah yang benar, cukup!" Hardik lelaki berkumis dan berjanggut tebal itu. Tatapan matanya tajam menyayat harapan. Melihat rasanya pupus sudah kebebasan, harus takluk dalam ketidak berdayaan.

Lelaki itu tetap saja memandang bengis, meski gadis mungil di depannya tak lagi berani menatap. Dayanya menguap lari tunggang-langgang, menjauh dari kebengisan yang siap menerkam.

"Aku pingin Ayah dan Ibu bangga ke aku," ucap siur gadis itu. Rupanya dia mencoba untuk berani melawan dalam ketakutan, dengan tubuh bergetar dan sukar.

"GAK... GAK PERLU SEPERTI ITU!" Suaranya makin lantang menolak alasan putrinya. "Kamu itu jadi anak yang nurut!" Lanjutnya.

Mata gadis itu berkaca-kaca, reaksi perasaan hati yang tersakiti. Ayahnya sedikit pun tak mau mengerti keinginan putrinya untuk mengikuti kegiatan ekstra di sekolahnya.

"Sudah... sudah sana, bikinkan Ayah kopi, Pokoknya Ayah tidak mengizinkan," printah Ayahnya yang tak mau lagi memperpanjang pembicaraan.

Anak perempuan kok aneh-aneh, nanti bisa ngurus anak, ngurus suami, begitu saja kan sudah cukup. Ikut-ikut begitu paling hanya untuk senang-senang dengan teman-temannya.

Gadis yang mulai beranjak dewasa itu berjalan tertatih membawa amarah, kedongkolan, terbesit dalam hatinya ingin berontak, membangkang. Kecewa dia, amat kecewa dengan keputusan Ayahnya.

Tidak hanya kali ini, sebelumnya juga tak pernah diberikan izin tanpa tau apa alasan Ayahnya, mengapa dia terus saja melarangnya. Padahal kegitan-kegiatan yang ingin dia ikuti adalah hal-hal yang positif untuk menggali dan mengembangkan potensi-potensinya.

Kalau gitu besok-besok aku langsung aja pergi. Percuma kasih tau Ayah, gak bakal dapat izin juga.


******

Hari ini Suci begitu gembira, bercengkrama ria bersama rombongan teman-temannya. Dia lupa bahaya mengancamnya setelah ini, atau memang tak mempedulikannya, atau mungkin dia punya cara untuk terbebas dari ancaman itu. Berbohong mungkin, atau dia sudah tau saat-saat yang tepat untuk mencuri waktu.

Ya, saat ini dia sudah kuliah. Sudah punya sedikit keberanian dan muslihat yang hebat untuk lari menghindar dari amarah Ayahnya.

Rombongan peserta oleh panitia diangkut menggunakan mobil pick up menuju pantai kenyamukan, termasuk Suci. Mereka akan camping di sana selama dua hari, Sabtu-Minggu. Kata panitia hari sabtu akan diisi dengan materi kepemimpinan, berharap dapat menjadi bekal bagi peserta untuk menapaki jalan kehidupan dengan sukses. Sedangkan hari minggu akan mereka gunakan untuk bakti sosial pada sekolah dasar yang ada di wilayah itu. 

Meski menggunakan mobil pick up untuk menghantar kepergian mereka, tak jadi masalah. Mereka tampak senang. Malah terdengar sorak bangga saat mobil menerjang jalan rusak berlubang yang ada di badan jalan, atau saat berselisih dengan mobil lain yang menghempas tanah-tanah halus ke sekujur tubuh mereka.

Derita perjalanan seketika tergantikan oleh ketakjuban. Memandang liar jauh ke depan, semua terlihat biru berayun tak pernah padam. Sampai saat ini Suci tak juga mengerti, gelombang ada karena angin atau angin ada karena gelombang?

Oh iya... ya...! Ini kan pengetahuan umum, masak gitu aja aku gak tau. Bodohnya aku! Ini semua salah Ayah yang tak pernah memberiku kebebasan. Meskipun pengetahuan itu bisa aku baca dari buku atau internet. Tapi aku kan butuh pemicunya! Ini salah Ayah, Ayah tak bisa mendidik anak. Huh...! Aku benci sama Ayah.

"Wah... indah sekali, ayo Ci kita kesana," teriak Dewi. Menarik lengan Suci. Melompat turun dari bak, bahaya terjerembab tak lagi ada di otaknya, tak sempat terpikir. Suci tersentak, reflek ikut loncat. Hujatan-hujatan pada Ayahnya lenyap secepat kilat. Dia pun berjalan terhuyung-huyung mengimbangi langkah Dewi.

Sepuluh langkah lagi Dewi dan Suci akan menggapai bibir pantai. "Hai nanti...! Barang-barang kalian di mobil di simpan dulu!" Umpat panitia cewek yang baru saja turun dari motornya. Panitia tidak ikut naik mobil pick up, mereka membawa kendaraan masing-masing.

"Hai... hai..., simpan dulu barangnya dek," ulangnya. Gerahamnya berhantup rapat, menahan emosi karena tak dipedulikan.

Huh..., anak gadis sekarang tanggung jawab di nomor duakan, hanya gara-gara menuruti kesanangan dirinya saja.

*****

Goresan pena beralur serasi, meliuk-liuk membentuk sudut lancip bagai pedang di akhir liukannya. Banyak pasang mata serius menatapnya. Bibir mereka menganga kagum. Dalam pikir penuh tanya dan ingin segera meniru.

Kakak ini kok bisa bikin seperti itu ya?

Lembar kertas dikibaskan, diusapnya dua kali. "Nah ini, sudah jadi," ujar Suci lega.

"Wuih bagusnya Kak...!" celetuk salah satu diantara mereka yang tadi serius memperhatikan. Dia menggoyang-goyang lengan Suci meminta untuk segera diajari.

"Sabar... sabar, ini kertas dan pensil dibagikan dulu ke teman-teman yang lain." Perintah Suci setelah berhasil menenangkannya.

Pria kecil, rambut acak-acakan, baju putih ke kuning-kuningan, celana pendek warna merah buluk terbungkus debu. Pria dengan tinggi kira-kira semeter itu dengan cepat menyambar kertas dan pensil yang Suci sodorkan kepadanya. Suci menyunggingkan senyum, tersentuh dengan semangat anak itu. Dengan semangatnya itu, dia tak butuh waktu lama untuk membagikan kepada semua temannya.

"Sudah dapat semua ya? Oke kalian semua duduk yang rapi disini. Kalian nanti buat seperti yang Kakak buat ini." Selembar kertas hasil karyanya tadi, Suci tunjukkan lagi pada mereka.

Kemudian Suci mengambil isolatip dan selanjutnya menempelkan selembar kertas itu pada dinding, dekat dengan kerumunan anak-anak yang diaturnya.

Setelah itu Suci mondar-mandir di belakang kerumunan. Anak-anak itu serius dengan pekerjaannya masing-masing. Di sisi jauh ada Dewi yang juga sedang mengawasi sekelompok anak yang sedang mencincang-cincang botol minuman plastik. Suci dan Dewi saling melempar pandang, keduannya pun senyum sungging tanda kepuasan terhadap apa yang sedang mereka lakukan.

Suci kembali fokus pada anak-anak yang ada di depannya, "dek..., dek, coba perhatikan kesini dulu," tegur Suci. "Caranya itu begini. Letakkan ujung pensil... Kalian kira-kira sendiri, terserah kalian. Kemudian nariknya yang cepat, seperti ini perhatikan ya? Sreeet..., nah baguskan? Sekarang coba kalian!" Ucap Suci mengajarkan tekniknya.

"Begini kah Kak?"

"Ya, bagus."

"Punyaku Kak?"

"Ya."

"Kak.., Kak.., begini kah Kak?"

"Ya, tapi ini kurang sedikit kesini nariknya!"

"Punyaku Kak! Punyaku Kak!" seru yang lainnya ingin juga diperhatikan.

Getar-getar yang selama ini belum pernah Suci rasakan, dia hadir membawa kenikmatan bersama ucapan-ucapannya kala memberikan apa yang dia miliki. Tips-tips terdengar sederhana, tapi sungguh akan bermanfaat bagi perkembangan potensi anak-anak tersebut. Anak pesisir itu semestinya mendapatkan hak yang sama dengan anak-anak lain yang lebih beruntung, hakikat ini yang sering terlupa. Tak benar jika lepas tangan, seharusnya hal itu diatasi bersama, begitulah mungkin seharusnya. Apa yang Suci alami hari ini semakin menguatkan hasratnya.

Sore telah tiba. Sudah setengah jam yang lalu Suci menyudahi aktifitas sosialnya, Dewi juga, begitu juga yang lain, sesuai dengan jadwal yang ditetapkan panitia. Bahwa bakti sosial dilakukan sampai pukul 16:30.

Sekarang sudah pukul 17:00, tapi panitia belum juga memberi instruksi untuk berangkat pulang. Ada kesalahan. Mobil pick up yang kemarin mengantarkan mereka tak kunjung datang menjemput.

Suci tak tenang. Berulang kali dia menengok ke jalan, arah munculnya pick up yang akan datang menjemput. Tapi berkali-kali itu juga Suci kecewa, dia tak mendapati apa yang diharapkannya. Senandung waktu terus berlalu, mukanya berubah merah terbakar. Marah, kesal, kecewa, berkecamuk tak kuasa diungkapkan. Padahal butuh waktu satu jam perjalanan ke kota.

Sampai di rumah bisa kemalaman nih, bisa gawat. Ayah pasti sudah pulang.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Aku Perempuan - #1"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel