Ingin Jadi Penulis? Inilah Nasehat Hebat Dewi Dee Lestari

Dewi Dee Lestari

Siang menjelang sore. Saat aku sedang tidur, dering ponsel jadul menggema di telingaku. Dongkol. Suaranya itu lho sangat menganggu sekali. Terlanjur mata sudah terbelalak, aku berusaha mencari letak sumber suara. Aku melihatnya, dia berada di atas kusen jendela, tak jauh dari tempatku terbaring. Tapi tetap saja aku harus bangkit untuk meraihnya. Sebenarnya aku sedang dalam posisi uwenak, berada di depan pintu dengan angin sepoi tak henti-hentinya berhembus, semilir terhempas manja menggerayangi seluruh tubuh. Dari tadi, sebelum aku tertidur, tidur, hingga terbangun.

Sebelum panggilan berakhir aku sempat menggapainya, "hallo!" sapaku layu. Dengan tanpa berperasaan, dia yang ada di seberang sana langsung to the point melacak keberadaanku, "KAMU DI MANA COY? DI RUMAH?" begitu tanyanya tegas. "Ya, aku di rumah!" jawabku masih layu. "Oke aku ke sana sekarang," balasnya.

Baca Juga: Membongkar Rahasia Menulis Raditya Dika

Dengan senang hati aku menyambut baik dia yang akan bertamu ke rumah. Kedatangan tamu itu artinya kedatangan rejeki, pikirku melawan kelayuan akibat kantuk.

Tidak lama kemudian dia datang. Tak sendirian, dia datang bersama gadis cantik yang menemaninya. Aku sambut mereka, mempersilahkan masuk, kemudian kami saling sapa dan mereka mengutarakan maksud dari kunjungannya ke rumah, yaitu untuk konsultasi tentang laptop si gadis yang bermasalah.

Dengan senang hati aku coba membantunya. Laptop aku otak-atik, masalah aku temukan dan berusaha untuk memperbaikinya. Cukup lama akhirnya aku berhasil membuat laptop tersebut menjadi normal kembali. Entah nasib laptop itu sekarang bagaimana, apakah masih normal ataukah kembali bermasalah? Karena setahu aku masalahnya itu sangat sensitif, jadi gampang untuk rusak kembali.

Setelah beres dengan urusan laptop, obrolan kami berlanjut pada tema lain. Ketika gadis itu menanyakan tentang cerita novel yang aku tulis. "Tulisannya tentang apa sih Kak?" Begitu kira-kira kalau aku tidak salah ingat. Ah dia ternyata tahu kalau aku belum lama ini telah selesai menulis novel.

Baca Juga: Kata Mereka Menuliskan Mimpi Adalah Langkah Awal Menuju Sukses

Ditanya seperti itu aku pun bersemangat untuk menjelaskannya. "Kisah tentang seorang pemuda yang hidupnya diwarnai dengan persoalan melepaskan," ucapku. "Pertama, dia dihadapkan pada pilihan apakah harus melepas impiannya atau kekasihnya? Dengan pengetahuannya pemuda itu memutuskan untuk melepas kekasihnya." Aku beri jeda, agar gadis itu mencernanya.

"Setelah itu kembali pemuda itu bertemu dengan dua orang gadis bersahabat yang sama-sama memiliki rasa cinta kepadanya. Ketika si pemuda memilih salah satu di antara mereka, maka gadis yang dipilihnya itu dihadapkan pada masalah berat yang berakibat pada lepasnya persahabatan atau cinta yang dia miliki. Setelah tau masalah itu maka pemuda itu tetap berperasangka baik pada Sang Penguasa Alam atas jalan cintanya, sebab dia yakin apa yang dia dapat adalah yang terbaik untuk dirinya." Jelasku panjang lebar.

Tidak hanya sampai di situ saja, aku menambahkannya. "Selain dari drama melepaskan itu, aku berharap pembaca akan memahami lima konsep yang dijadikan konstruksi dari cerita tersebut, yaitu Dream, Action, Passion, Commitmen, Time." Begitu jelasku secara utuh, kali-kali dia tertarik untuk beli novelnya. Hehehe..., boleh ya ngarep dikit.

Lanjut cerita, kami banyak membahas soal dunia tulis menulis, yang paling membekas di ingatanku, saat si gadis mengatakan bahwa dia juga suka menulis. Pas ada atau dapat kata-kata atau kalimat yang bagus menurutnya, dia pun menuliskannya. Lalu aku memberikan apresiasi, "betul itu, pokoknya tulis, tulis, dan tulis." Cuman katanya itu hanya untuk dirinya sendiri, tidak di publikasikan, kurang percaya diri atas kualitas tulisannya, begitu alasannya. Jika itu masalahnya sebenarnya aku sudah menuliskannya dengan judul Oh, Modal Menjadi Penulis Itu Cuman Keberanian Ya? Dengan memahaminya aku yakin itu akan mampu memperkokoh untuk terus menerus melahirkan karya tulis.

Ada tambahan, ini dari seseorang yang mempunyai kredibilitas dalam dunia tulis-menulis. Menurut aku ini adalah nasehat hebat yang wajib diketahui, dia adalah sosok yang karya-karyanya sangat diminati pembaca, antara lain Novel Supernova : Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh, Akar, Petir, Partikel, Gelombang, Kumpulan Prosa dan Puisi "Filosofi Kopi", Kumpulan Cerita Rectoverso, Perahu Kertas, Kumpulan Cerita Madre. Ya, dia adalah Dewi 'Dee' Lestari.

Baca Juga: Oh, Modal Menjadi Penulis Itu Cuman Keberanian Ya?

Nasehat itu aku kutip dari blog ikakoentjoro.com, begini kutipannya "Draf pertama bukan final, tapi tanpa draf kita tidak akan bisa menyelesaikan sebuah tulisan. Tulisan buruk bisa diperbaiki, sementara apa yang bisa diperbaiki dari halaman yang kosong."

Waow nancep pokoknya, apa yang bisa diperbaiki dari halaman yang kosong. Bagaimana bisa dipahami ya? Betul, yang paling penting dalam menghasilkan karya tulis, yaitu adalah menulis itu sendiri. Kemudian mengapa nasehat itu muncul? Berdasarkan dengan pengalamanku berada dalam komunitas menulis, di sana aku banyak berinteraksi dengan orang-orang yang berniat ingin menulis. Sebagian besar dari mereka dihadapkan pada angan-angan tentang tulisan yang berkualitas, dari pola pikir seperti itu maka akibatnya adalah mereka akan mulai menulis jika mereka anggap hasil dari tulisannya nanti benar-benar berkualitas. Sedang kenyataanya tidak seperti itu. Untuk membuat tulisan itu jadi bagus dan berkualitas butuh proses yang tidak bisa dielakkan yaitu menuliskannya terlebih dahulu, barulah kemudian dipoles.

Pandangan itu menjadi momok dan meruntuhkan mental mereka untuk menghasilkan karya tulis. Jika demikian boro-boro tulisan berkualitas, bisa jadi tulisan dengan kualitas biasa saja tidak akan mampu dihasilkan. Maka tulis saja, kualitas jangan dipikirkan dulu!

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Ingin Jadi Penulis? Inilah Nasehat Hebat Dewi Dee Lestari"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel