Aku Perempuan - #2

Aku Perempuan

"Dewi, aku turun di sini saja?"

"Kenapa? Sekalianlah aku antar sampai depan rumah, tanggung amat!"

"Jangan!! Biar, aku turun di sini saja."

Dewi menghentikan motornya. Menoleh ke arah Suci yang mulai beranjak turun dari motor. Dewi saksikan ada ketakutan, sesuatu mungkin akan terjadi jika dia tidak menuruti kehendak teman yang diantarkannya itu. Apalagi kalau bukan ketakutan yang juga sering dia rasakan dan juga dirasakan oleh banyak perempuan seperti mereka.

Dewi tak mau memperpanjangnya dengan sok-sok peduli atas apa yang sedang dialami oleh Suci, makanya dia mengabaikan rasa penasarannya itu, dengan menuruti apa yang diinginkan Suci.

Apalagi senja juga terus berlari, tak ikut berhenti bersama mereka. Jika dia melibatkan diri dengan urusan Suci, pasti senja akan jauh meninggalkannya tanpa mampu mengejar dan menghalanginya untuk tidak segera hengkang.

"Aku langsung ya, keburu magrib?"

"Dewi, makasih ya?"

"Ya," ujar Dewi singkat. Motor digebernya. Melaju. Menjauh. Lalu menghilang dari penglihatan Suci. Gerung motor berganti dengan lantunan ayat-ayat Al-Qur'an, sahut-menyahut terdengar dari corong-corong yang terletak di ketinggian masjid.

Bulu kuduk Suci bangkit terbangun, kalbunya ikut-ikutan bergetar bersama vibrasi suara para pelantun kitab suci. Perasaan bersalah, berkecamuk campur aduk menekan jiwanya. Setiap kali dalam keadaan seperti ini, sayatan-sayatan itu yang dia rasakan. Dia pun tak pernah mengerti, mengapa ketika berbuat dia lupa akan semua itu?

Suci mulai berjalan mengendap-endap, pandanganya tajam penuh kewaspadaan. Memandang tajam kedepan, pintu depan rumahnya sudah tertutup, lampu di teras dan di dalam rumah sudah menyala. Berhenti. Berfikir sejenak, tepat di dekat bunga rosela. Bunga yang dipercaya banyak orang memiliki multi khasiat, salah satunya bisa mengobati tubuh yang lesu, seperti yang sedang Suci rasakan. Berada di sisinya, Suci tak terlihat oleh orang yang mungkin sedang duduk-duduk di ruang tamu.

Bunga itu dia yang menanamnya. Kuncup-kuncup merah segar dan siap akan bermekaran, menyambut esok pagi. Dia menanam dan merawatnya dengan kelembutan tangan dan hatinya. Bunga seyogyanya sebagai simbol keindahan dan kasih sayang, di hadapannya orang akan merasakan senang, tenang, dan nyaman. Tapi tidak dengan Suci kali ini, bunga itu hanyalah seperti bagaimana makhluk lemah menjadikannya sebagai seonggok semak yang melindunginnya dari ancaman dan bahaya, tak lebih dari itu.

Bagaimana dia bisa menikmatinya jika bayang-bayang kemurkaan begitu tergambar dengan jelas di otaknya.

Lewat depan nanti ketahuan, seolah-olah aku datang menantang. Kalau lewat belakang kayak pecundang, tak bertanggung jawab. Tapi lebih aman ah, lewat belakang semoga tidak ketahuan.

*****

Beres dengan urusan membersihkan badan, kini dia sudah bisa tenang. Berlagak tak ada masalah. Mereka sudah pergi bersama tetesan air yang dia guyurkan saat mandi tadi.

Ibunya yang membuka pintu belakang untuknya. Jadi dia bisa masuk dengan aman, tanpa terjadi perang yang dia takutkan

Tadi sebelum dia melangkah masuk juga tetap masih dalam keadaan waspada, dengan menyisir pandangannya ke seluruh area yang akan dia lalui. Begitu aman, barulah tanpa menunda-nundanya lagi dia pun menyerobot masuk, menaruh tas di kamar, lalu pergi membersihkan badan.

Sampai pada saat ini dia juga masih belum mendapati Ayahnya.

Seperti biasa setelah shalat magrib dia sering menggunakannyan untuk membaca Qur'an hingga menjelang isya.

Ketenangannya, kerinduannya, mengisi suasana hati, mengiring keindahan makna yang dia baca dari barisan-barisan ayat yang membawanya pada pemahaman bahwa apa yang dilakukannya adalah bukan sesuatu yang dilarang.

Semakin tenang, semakin benarlah yang dia rasakan sekarang.

Soal Ayahnya, bisa jadi itu karena cinta atau pengalaman hidup. Semua adalah untuk menjaganya. Tapi jika begitu terus, maka nasibnya tak akan jauh beda dengan Ibunya saat ini, hanya berkutat pada wilayah domestik.

Dia tidak menyalahkan, dia sangat menyayanginya. Hanya saja Suci ingin dirinya melakukan sesuatu yang tak hanya membawa manfaat bagi anak-anaknya kelak, tetapi juga bagi orang lain di luar sana. Dengan membicarakannya terus menerus pada Ayahnya adalah mungkin caranya, selain itu juga bukti dia akan baik-baik saja di luaran sana.

Aku adalah anakmu Ayah. Kenalilah aku. Jangan samakan aku dengan mereka. Ayah pasti punya cara untuk hidupku. Tapi bagaimana dengan caraku?

Sebuah sensasi plong, membawa dampak pada perut yang berasa keroncongan. Lapar. Seharian energinya telah terkuras habis. Terakhir dia memberikan asupan siang tadi, kala makan bersama teman-teman dan panitia di tempat kegiatan. "Shalat isya dulu, lalu makan. Jadi gak beribet nanti, sip!" Celetuk Suci akan rencananya.

*****

Selesai...

Mukenah Suci lempar di atas ranjang. Setengah berlari kecil, pergi menuju dapur. Sudah segitu parahkah dia menahan lapar? Bagaimana dengan shalatnya tadi, apakah khusyu'? Dasar manusia, apa dia tidak bisa sedikit bersabar? Apa dia tidak tahu, bukanlah makanan yang membuatnya hidup, tetapi Allah. Kalau benar hanya gara-gara lapar lantas dia tidak khusyu', berarti sama saja hatinya tak menyatu dengan Allah, masih ada yang lain di sana.

Apa selalu begitu sikap manusia kepadaNya, mungkin Allah telah maklum. Itulah mengapa pintu taubat selalu terbuka untuk manusia, jika mereka menyadarinya.

Belum sempat Suci sampai ke dapur, dia berpapasan dengan Ibunya. Suci menyapanya, menanyakan perihal keberadaan Ayahnya, yang sejak tadi tidak dia lihat. "Ibu apa Ayah belum datang?"

"Jam sembilan nanti baru sampai rumah. Ayah tadi menanyakanmu?"

"Terus Ibu jawab apa?"

"Biasanya Ayah tidak pernah bertanya seperti itu, paling dia hanya menanyakan keadaanmu. Tapi tadi menanyakan keberadaanmu. Ibu tidak berani bohong, apalagi sepertinya Ayah sudah curiga dengan kamu. Suaranya tinggi saat menanyakanmu. Jadi ya, Ibu jawab dengan jujur!"

"Mati aku," celetuk Suci. Dia ketakutan, wajahnya langsung pucat dan tubuhnya bergetar. Perut yang tadi lapar, langsung saja berubah urung atas kebutuhannya.

Ayah pasti akan marah besar denganku, aku harus bagaimana ini?

Berfikirlah, apa yang baru saja dia yakini dan pahami, itu adalah hal yang benar, ayo perjuangkanlah!

Sebelumnya Aku Perempuan - #1

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Aku Perempuan - #2"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel