Bersyukur! Bukan Hanya Karena Tercapainya Harapan

harapan, doa, usaha, ujian
Sobat, apa kalian pernah berharap sesuatu? Aku yakin pastilah ya! Ekstrimnya lagi nih, kata Hal Lindsey, tanpa harapan kita ini hanya mampu hidup satu detik. "Manusia dapat hidup 40 hari tanpa makan, sekitar 3 hari tanpa air, sekitar 8 menit tanpa udara, tapi mati hanya 1 detik tanpa harapan," begitu katanya.

Huh! luar biasa, amat singkatnya harapan memberi kesempatan waktu pada kita. Sebegitu pentingkah dia mempengaruhi hidup. Ah, tapi maaf sobat dalam kesempatan ini aku tidak membahas keterkaitannya secara ilmiah, baik keterkaitan biologi maupun psikologinya. Aku hanya ingin membahas bagaimana sikap kita dalam menyongsong harapan, sebatas itu ya sobat!





Jika mendasarkan pada pernyataan Hal Lindsey, dan dikaitkan dengan fakta hidup yang memiliki banyak dan bermacam-macam harapan, itu artinya hidup ini berjalan di atas layer-layer harapan, gampangnya disebut hidup ini di atas lembar-lembar harapan. Apa benar begitu sobat? Merenung sejenak..! Ya, sepertinya begitulah.

Baik, sekarang saya ingin mengajak sobat untuk menengok kebelakang. Ada apa di sana? Lemari dengan tumpukan buku, atau kasur yang tertata rapi, atau gadis cantik yang sedang lirak-lirik, atau lalu-lalang kendaraan-hati hati kalau baca jangan di jalan ya? Nanti bisa ketubruk lho-, atau sekumpulan orang yang sedang menikmati me ayam-hai sobat, ajak-ajak ya kalau pergi ke warung-. Hehehe..., becanda sobat. Maksud aku adalah mari kita ingat bagaimana kita menyongsong harapan itu.

Tentunya semua dari kita pernah merasakan bahwa ada harapan yang terwujud dan ada juga harapan yang tidak terwujud/gagal. Menurut sobat mana yang baik, terwujud atau yang tidak terwujud? Secara umum pemahaman kita pasti akan mengatakan bahwa yang terwujud adalah yang baik. Karena memang itu yang kita harapkan.

Jadi sobat kira-kira masalahnya ada di mana? Sepertinya tidak ada masalah, ya kan?

Aittt… tunggu dulu, mari kita samakan presepsi. Apa sobat sepakat bahwa hidup di dunia ini adalah ujian dari Tuhan. Jika sobat menjawab sepakat, maka di sinilah letak masalahnya, kenapa? Karena pandangan tentang tercapaian harapan di atas bertolak belakang dengan apa yang kita sepakati, mestinya terwujud atau tidak semua adalah kebaikan, atau sebaliknya terwujud atau tidak semua adalah keburukan, tergantung dari bagaimana kita mengusahakannya. Karena pada dasarnya kita ini sedang diuji, pada posisi apapun kita sedang mengerjakan soal-soal dari Tuhan yang harus kita jawab.

Namun dasar lemahnya manusia selalu saja menganggap bahwa ketika harapan kita tercapai, Tuhan ridho terhadap kita. Ketika harapan itu tidak tercapai, kita anggap Tuhan tidak ridho terhadap kita. Pantas saja banyak di antara kita yang bila harapannya tidak tercapai lantas berlaku lemah, bersedih, dan putus asa. Dan sesuai juga dengan kata Nabi, bahwa kita ini sering tergesa-gesa dengan doa kita.

Perhatikan, menurut aku ayat ini bisa dijadikan dasar karena mengandung maksud sama seperti yang aku maksudkan.

"Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, maka sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'. Dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim." [3:140]

Pada dasarnya apapun hasil dari usaha dan doa kita, seharusnya kita siap menghadapinya dan meletakkanya pada posisi bahwa itu adalah soal yang harus kita jawab. Sehingga kita akan terbebas dari sikap lemah, bersedih, dan putus asa, dan juga tidak termasuk orang-orang yang tergesa-gesa dalam doa. Jadi, "Nothing is either good or bad but our thinking makes it so." Shakespeare

Jika begitu permasalahannya, maka sebenarnya letak syukur itu bukan pada tercapainya harapan. Tetapi syukur itu terletak pada apakah jalur yang kita tempuh dalam mengusahakan harapan tersebut adalah jalur yang benar. Jika ya, maka bersyukurlah kita sebab Tuhan akan ridho atas itu, terlepas dari apapun hasil yang Dia berikan. Jika belum, maka tugas kita adalah terus mencari kebenaran itu. Ini adalah ciri-ciri yang membedakan mana orang-orang yang hebat dan kuat dan lulus akan ujian, dan mana-mana orang yang lemah dan gagal dalam ujian.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Bersyukur! Bukan Hanya Karena Tercapainya Harapan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel