Mereka Bilang Kami Jomblo, Jelasnya Kami Tidak 'Ngoyo' Gitu Lho!

jomblo man

Malam itu setelah Isya', seperti biasa aku sering berada di mess kampus dari pada di rumahku sendiri. Aku mendengar ada keramaian di sebuah ruang yang difungsikan sebagai tempat masak oleh penghuni mess, aku pun mendatanginya. Benar, ternyata di sana ada dua orang sahabatku yang sedang memasak. Sahabat yang bertubuh gemuk sedang asyik mengulek sambel, sedang yang kecil dengan energiknya membolak-balik tempe di atas penggorengan.






"Mantap, bisa ikutan makan deh? Apa yang kalian masak?" Basa-basiku menyapa mereka.

"Bikin menu spesial, tempe dan sambel tomat," balas sahabatku yang berbadan gemuk. Mentang-mentang dia berbadan besar, jadi dia dapat tugas untuk menghancur-leburkan racikan sambel yang akan menjadi teman tempe nanti.

Sekedar perkenalan, malam sebelumnya kami tampil membawakan dua lagu di acara teman-teman mahasiswa. Aku yang pegang bass, sahabatku yang bertubuh kecil vocal, sedang yang gemuk pegang gitar. Di tambah lagi satu sahabatku sebagai pemukul drumnya, tapi dia tidak masuk dalam catatan ini, makanya dia kami suruh sembunyi dibelakang vocal. Lihat gambar di atas, dari kiri ke kanan. Aku kira cukup ya perkenalannya?

Ternyata ketika aku datang, memasaknya sudah hampir finish. Jadi tak lama kemudian tempe telah matang, dan sambal pun sudah siap. Jika sudah begitu, apa lagi yang ditunggu? Mereka pun segera akan mengeksekusinya, dan menawariku.

Dasar perut lapar, apalagi terpancing dengan aroma tempe, bawang goreng, lombok, dan campuran rempah-rempah lainnya yang saling menyatu. Aku pun tergoda, jadi aku tak menolak ikut bergabung dengan mereka menyikat olahan yang menggoda perutku itu. Sebenarnya qiyas dari bangsa kita ini sama persis dengan olahan tersebut, mereka dari unsur yang berbeda, jenis yang berbeda. Jika mereka dalam kesatuan, maka akan mampu menghasilakan aroma yang memikat dan rasa yang lezat. Begitulah Bhineka Tunggal Ika, mudah bukan memahami PANCASILA? Gitu kok ada yang gak mau dengan pancasila. Hehehe...

Alhamdulillah kenyang. Rasa-rasanya mungkin semua orang sama ya? Setelah selesai makan yaitu sejenak menenangkan diri, menunggu makanan larut dan mengendap di perut. Saat-saat seperti itulah kami bertiga kompak seperti ada yang menginstruksikan, agar menyantaikan diri dengan duduk-duduk di pelataran gedung sambil menikmati dayuan spoi angin malam.

Aku dan sahabatku yang bertubuh kecil duduk berjajar di selembar papan. Panjang papan itu kira-kira tiga meter dan disangga tiga balok, di ujung yang satu, di tengah, dan di ujung yang ke dua, dengan tinggi sebatas lututku. Sehingga nyamanlah untuk kami duduk-duduk di situ.

Sedang yang gemuk duduk di kursi tepat di hadapan kami berdua. "Kita ini punya nasib yang sama ya? Gak pernah punya pacar!" Ucapku mengawali obrolan, setelah kami bertiga duduk dengan tenang.

"Bro apa kamu juga mikiri cewek?" Tanya sahabat yang di sebelahku kepada sahabat yang duduk di depan kami.

"Ya, iya lah!" Jawabnya.

Sungguh pertanyaan yang tidak masuk akal, bisa-bisanya dia bertanya seperti itu. Sudah pasti lah sebagai seorang laki-laki biar bagaimana pun pastinya juga memikirkan atau mendambakan sosok wanita yang akan menjadi kekasih hidupnya. Kecuali dia adalah lelaki yang sudah tidak normal.

"Kenapa kita seperti ini? Sebab kita tidak NGOYO!" Lanjutnya menyimpulkan keadaan. Ngoyo itu yang menurut artikata.com adalah memaksakan diri melakukan sesuatu tanpa mempertimbangkan kemampuan, kondisi, dan waktu. Kalau menurut yang aku pernah dengar saat ngaji kitab Nashoihul 'Ibad, kiyai dalam pengajian tersebut juga memberikan arti kira-kira begini, bahwa ngoyo itu adalah usaha mencapai tujuan dengan menghalalkan segala cara, begitu katanya.

Kata itu sejenak membuat aku termenung, ngoyo?. Benar juga, kemarin-kemarin kami belum punya rencana atau kesiapan untuk tindak lanjut akibat dari jalinan cinta. Jadi jika kita ngoyo harus punya pacar hanya untuk menuruti style jiwa muda yang mulai terlena oleh cinta, tapi takut akan rencana pasti itu adalah bencana, karena hanya bermain dengan nafsu belaka.

Jujur saja, aku ataupun dua sahabatku itu sebenarnya juga tidak mampu mendefinisikan dengan jelas apa sebenarnya alasan kami untuk tidak ngoyo. Ah, mungkin anggapan yang salah jika kami tidak punya nilai jual. Sampah saja ada nilainya, masak kami yang mampu mendaur ulang diri tidak mampu terjual. Atau mungkin tawar-menawar kami yang terlalu tinggi?

Ah itu tidak penting, yang jelas akhir-akhir ini begitu trand di kalangan muda atau pihak-pihak yang tak ingin hubungan pra-nikah terjadi antara muda-mudi. Itu tergambar dalam kicauan-kicauan mereka di media sosial, buku-buku, benner-benner, dan lain-lain. Mereka menggalakkan diri agar berlaku seperti kami. Kata mereka, udah langsung aja nikah, ta'arufan saja, jangan pacaran, atau udah putusin aja, dan lain sebagainya. Nah, itu semuakan seruan agar hidup tanpa kekasih sebelum ada mas si kawin. Hehehe...

Ini adalah kesimpulan dari pengalaman kami. Jika kalian wahai pemuda, tersentuh dan berniat ingin melaksanakan atau meyakini kebenaran kampanye tersebut. Maka saran aku adalah jika kamu belum pasti punya tujuan -menikah- maka janganlah ngoyo terhadap cinta. Insya Allah kalian akan bisa menghindarinya.

Tapi ingat itu ada dampaknya lho, kalian akan menghadapai hal sulit saat kalian akan memutuskan untuk mencari seseorang yang akan kalian nikahi. Hahaha... Just Kidding!

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Mereka Bilang Kami Jomblo, Jelasnya Kami Tidak 'Ngoyo' Gitu Lho!"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel