Demokrasi! Hai, Bagaimana Cara Kamu Memilih Pemimpin?



Demokrasi! Apa yang sobat pikirkan ketika kata demokrasi tersebut dikaitkan dengan terpilihnya seseorang sebagai pemimpin? Ya benar sekali, bahwa kita semua yang berada dalam wilayah kepemimpinannya mempunyai hak untuk memilih atau menentukan siapa yang akan dijadikan pemimpin. Nah, gara-gara si demokrasi itu, kita sebagai rakyat biasa pastinya juga menjadi target buruan yang dikejar-kejar oleh berondongan-berondongan pemikiran mereka-para elit politik-yang menggebu-gebu, haus akan kekuasaan agar kita masuk ke dalam perangkapnya.

Bisa disaksikan kala momen menjelang pemilu, spanduk, baliho, semarak kegiatan-kegiatan kemasyarakatan, de el el, bertebaran dimana-mana. Berbekal selogan-selogan hebat-menurutnya sih-, mereka mencoba untuk menanamkan karakter bahwa dialah yang layak untuk dipilih. Ngomong-ngomong nih ya sobat, di daerahku, provinsi Kalimantan Timur, tahun 2015 ini akan serempak menggelar Pemilihan Umum Kepala Daerah (PEMILUKADA) di sembilan Kabupaten/Kota, termasuk di Kabupaten tempat aku tinggal, Kabupaten Kutai Timur.

Pastinya, usaha untuk merebut hati-hati kita akan terus terulang, terulang, dan terulang lagi selama si demokrasi yang memberikan hak pada kita untuk memilih itu tetap ada. Di sisi lain kita diberikan keistimewaan, tetapi di sisi lain itu sebenarnya adalah beban yang harus kita pertanggung jawabkan.

Sobat inilah perihal yang ingin aku sampaikan sebagai dasar pikir. Kata Emha Ainun Nadjib, kira-kira begini, bahwa dengan si demokrasi ini antara emas dan batu-kalau batu akik sih mendingan, kalau batu koral? Kasihan, rugi besarkan kita?-memberikan kedudukan yang sama di antara keduanya. Sehingga dengan begitu kita dapat tertipu dengan pilihan yang ada. Disinilah letak beban kita, beban kesalahan dalam memilih. Sebab itulah kita harus berhati-hati dalam memilih agar tidak tertipu dan salah pilih. Mungkin sebagian dari kita ada yang mengatakan, "ha..lah, tinggal coblos salah satu calon gitukan beres, pakai repot-repot segala." Kita tidak boleh begitu sobat, menurut aku seharusnya kita harus berfikir kedepan. Cinta tanah air, cinta daerah dimana kita tinggal adalah suatu kewajiban, salah satu bentuknya adalah benar dalam memilih pemimpin.

Bumi yang kita pijak, air yang kita minum darinya adalah arena dan sumber energi untuk belajar akhlak, untuk berakhlak, dan untuk mengajarkan akhlak. Apakah kita mau, karena kesalahan kita kepentingan besar akan arena dan sumber energi itu, terambil oleh mereka yang akan mencabik-cabik, mengkoyak-koyak, merong-rong, bahkan menghancur leburkannya? Oleh sebab itu mata harus terjaga, telinga harus peka, otak harus analisa, hati harus waspada akan segala macam tipu daya, itulah kecerdasan.

Jujur, selama ini dalam memilih, apakah kita telah mengenal betul pilihan-pilihan itu? Apalagi pengetahuan itu hanya sebatas melalui baliho, spanduk, dan atau media massa? Hem..., memang dasar seperti itu cara kerja si demokrasi. Meskipun kita tidak memiliki kompetensi dalam hal itu, dia akan tetap memaksa kita untuk melakukan tugas-tugas itu. Sudah barang tentu jika kita menyerahkan suatu hal pada yang bukan ahlinya maka bisa dipastikan akan berpeluang terjadinya kekacauan.

Kemudian juga apakah kita telah yakin dengan janji-janji kerja mereka untuk mengabdikan jiwa raga mereka demi kehidupan kita yang lebih baik, ketika kita memilihnya menjadi pemimpin? Tidak segampang itu bukan? Bahwa memberikan kepercayaan kepada manusia tidak serta-merta hanya didasarkan pada janji-janji yang mereka ucapkan, karena jika mendasarkan pada ucapannya saja bisa jadi mereka akan ingkar.

Inilah yang menjadi persoalan bagi rakyat biasa, inilah beban kita. Adanya si demokrasi ini, sesungguhnya mengharuskan kita untuk mengetahui dua hal. Yaitu pertama, adalah kemampuan kita dalam mengidentifikasi persoalan-persoalan yang kita hadapi. Kedua, adalah kemampuan kita dalam mengidentifikasi siapakah orang yang memiliki kompetensi dan komitmen untuk memimpin kita dalam mengatasi masalah-masalah tersebut.

Apakah kita mampu menguasai kedua hal tersebut? Itu adalah pertanyaan yang harus kita jawab, agar kita tahu dan tidak tertipu. Jika kita ingin memilih pemimpin yang tepat, sesuai dengan harapan kita.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Demokrasi! Hai, Bagaimana Cara Kamu Memilih Pemimpin?"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel