Ya Allah, Jangan Pernah Jadikan Hati, Pikiran, dan Sikapku Sebagai Hakim Kehidupan


Dalam rangka hidup bermasyarakat, hehehe... seperti mau buka acara saja ya? Tapi begini sahabat. Apapun itu sebagai manusia kita ini tidak bisa terlepas dari kehidupan bermasyarakat. Nah dari itulah kita pastinya akan selalu dihadapkan pada banyak karakter yang berbeda-beda dari segala hal. Begitu juga dengan ukuran keimanan!

Ngomong-ngomong soal itu, aku baru-baru ini mengalami peristiwa yang menggetarkan hatiku. Suatu ketika, aku dan dua orang sahabatku ada misi akan mengunjungi sebuah desa terpencil yang sangat jauh. Untuk sampai di sana kami harus menempuh perjalanan lima atau bahkan sampai tujuh jam, dengan melintasi hutan belantara dan jalanan yang penuh dengan lubang.






Pada saat itu Alhamdulillah, mobil yang kami gunakan mengalami masalah. Pompa bahan bakarnya tidak bekerja dengan baik. Sehingga mobil pun macet, tidak mau menyala.

Peristiwa itu terjadi sekitar pukul sebelas malam. Namun sungguh, dalam keadaan seperti itu, mana di tengah-tengah hutan lagi, aku perhatikan wajah-wajah sahabatku nampak tidak ada beban sedikitpun. Begitu juga dengan aku, perasaan panik, jengkel, atau apalah itu, sama sekali tidak aku rasakan. Padahal kepergian kami mengejar deadline.

Sementara kemampuan dan peralatan otomotif tidak kami miliki. "Kita tunggu saja, ini pasti ada hikmahnya kawan!" ucapku pada kedua sahabatku.

Tidak berhenti sampai di situ saja, usaha-usaha kecil tetap kami lakukan. Dari utak-atik air radiator, tali gas, telpon teman-teman yang kami anggap mumpuni soal itu, hingga menghentikan truk yang kebutulan melintas untuk kami mintai bantuan. Dua mobil telah kami hentikan, "waduh kami tidak megerti mobil injeksi," hasil yang kami dapat dari truk yang pertama. "Itu tali gasnya putus, coba dicek!" kata sopir truk yang kedua.

Kami amat senang dengan jawaban-jawaban mereka, meskipun tidak menyelesaikan masalah kami. Walaupun juga disampaikan tanpa terlebih dahulu mencoba untuk melihat-lihat apa yang sesungguhnya terjadi. Mereka menjawab dengan tetap berada di mobil, kemudian mereka tancap gas lagi untuk melanjutkan perjalanan.

Cukup lama kami menunggu mobil berikutnya untuk kami hentikan dan mintai bantuan. Akhirnya dari kejauhan aku melihat sorot lampu yang terang menyilaukan, dengan segera aku berjaga-jaga, bersiap untuk memberi isyarat. Ketika berada pada jarak yang aku perkirakan, tangan aku lambai-lambaikan. Mobil yang melaju kencang seketika melamban, dan ternyata rem tak mampu menghentikan tepat pada posisiku, akibat lajunya. Mobil akhirnya benar-benar berhenti setelah kira-kira berjarak dua puluh meter dari keberadaanku. Langsung saja aku berlari menghampirinya, "minta tolong om, mobil kami mogok kira-kira kenapa ya om?" tanyaku pada sang sopir.

Tanpa aku duga, sopir truk yang ketiga ini langsung turun dan disusul dengan dua orang temannya, mungkin dia adalah kernet atau anak buahnya. "Kok bisa, bagaimana kejadiannya?" Tanyanya tatkala telah dekat denganku, dekat sekali hingga aroma mulut tercium olehku. Aroma yang khas menyengat di hidung, "hem..., alkohol!" gumam batinku.

"Itu om, pas turunan di depan itu gas saya lepas. Nah, pas tanjakan ini saya injak gasnya. Tiba-tiba saja gak mau ngangkat, malah mesinya mati. Beberapa kali saya coba start, eh tetap saja gak mau hidup, sepertinya gas gak main om!" jelasku.

"Coba mas dinyalakan!" perintahnya ketika kami telah sampai. Kap depan mobil udah terbuka. Mereka bertiga dan dua sahabatku serius memperhatikan mesin, sedang aku melaksanakan perintah sang sopir.

"Di kontak-kontak aja mas, tidak usah digas?" ucapnya lagi, memberikan panduan padaku apa yang harus aku lakukan. Aku ikuti saja apa yang dia perintahkan.

"Bensinya ini tidak nyembur mas." Terangnya memberikan kesimpulan, aku lalu turun dan ikut serta nimbrung memperhatikan mesin mobil. "Pompa bensinya ada di mana ya? Kalau mobilku yang inova ada di sebelah kanan sini." Tunjuknya dan meraba-raba, mencari sesuatu. Itu karena kami hanya menggunakan hp senter dan kamera sebagai penerangannya.

Lalu karena apa yang dia cari tidak ditemukan di situ, dia memalingkan wajahnya ke sebelah kiri, dan aku tepat berada di sisi kirinya itu. "Oh di sana, ada di bawah situ," aroma khas yang tadi tercium olehku kembali menusuk hidungku.

Dengan kondisi seperti itu-bilang saja mabuk, gitu ya-dia masih peduli denganku. Setelah dua kali aku mencium aroma khas itu, barulah aku tersadar. Hati dan tubuhku bergetar, teringat perkataan Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA dan amirul mukminin Umar Bin Khottob. Yang kesemua itu mengajarkan kepadaku bahwa tidak ada hak sedikitpun bagi aku mengklasifikasi kedudukan di sisi Allah. Bagaimanapun dan apapun perilakunya, sebab itu bukanlah kompetensi aku sebagai manusia, dan itu adalah murni hak Allah.

Semua itu adalah untuk menjaga keberhati-hatianku jangan sampai hati, pikiran, dan sikapku terbesit anggapan yang telah diwanti-wantikan oleh kedua tokoh di atas. Kata Umar bin Khottob, "...Tidakkah mereka khawatir tergolong orang yang riya’, berlebihan, dan sok alim? Sesungguhnya riya’ dalam ibadah, sama seperti riya’ dalam kesombongan. Karena keduanya menampakkan ketertarikan pada dua hal, kehidupan dunia dan agama." Kasus kenapa Umar mengatakan begitu adalah ketika melihat seseorang berlagak sok alim atau berlaku zuhud. Itu barulah sebatas dirinya sendiri, bagaimana jika pencapaian keimanan itu dijadikan dasar untuk mengukur, mengklasifikasi antara dirinya dengan orang lain di mata Allah, sungguh celakalah aku mudah-mudahan aku dijauhkan dari hal itu. Sesungguhnya aku yakin semua dari kita adalah belajar untuk mencapai Allah. Bukan dengan apa yang kita pelajari lantas menghakimi.

Begitu juga nasihat Nasaruddin Umar, jangan pernah menganggap diri lebih tinggi. Bisa jadi orang yang dianggap itu mendapatkan ridho Allah, sedangkan kita belum tentu. 

Kisah bagaimana seorang pelacur, yang kotor, sampah masyarakat, menjijikkan, perusak kehidupan rumah tangga, dapat terampuni hanya gara-gara keikhlasannya memberi minum seekor anjing. Itu sangat sepele tidak sebanding dengan kelakuan sebelumnya, tapi siapa yang sangka bahwa ridhoNya terletak pada kesepelean itu.

Sebab kenapa kita tidak diberikan hak tersebut, karena kita sedang dalam proses belajar dan ujian, jadi nilai dan hasil belumlah dapat kita ketahui dan tidak boleh diberitahukan. Begitulah kira-kira analoginya.

Oh iya sahabat, sebagai trigger (pelatuk/patokan) yang akan mengkontrol kita agar tidak menjadi hakim keimanan atas orang lain perlu saya kemukakan bahwa Iman mempunyai lebih dari 60 cabang. Adapun salah satu hal yang paling sederhana adalah menyingkirkan duri di jalanan. Hem, berbuat seperti itu saja akan bisa membuat pelakunya berkedudukan tinggi di sisi Allah. Jadi mari kita jaga hati, pikiran, dan sikap kita terhadap orang lain.

Kembali ke masalah mobil.

Setelah kira-kira lima belas menit mereka mengotak-atik mesin mobil. "Ini sudah pasti pompa bensinnya mas, kalau bukan yang di mesin sini, bisa jadi yang ada di tangki bensi," ujarnya."aku tidak bawa alat, ada bawa tali? Kalau ada aku bantu tarik." tawaran bantuan lebih lanjut.

"Waduh tidak ada om!" kataku.

"Bagaimana ya, aku juga lagi gak bawa tali. Tadi sama anak-anak ditinggal?" sesalnya.

"Sudahlah om tidak apa, biarlah kami menunggu sampai pagi."

"Besok pagi kalau aku lewat sini lagi, aku bawakan tali. Ya sudah ya kami tinggal?" pamitnya, dan yang membuat aku bergetar lagi adalah harapan yang dia berikan pada kami membuat getaran-getaran yang menenangkan.

"Oke om, terima kasih banyak ya!"

Truk mereka lalu pergi meninggalkan kami. Aku dan sahabat-sahabatku akhirnya sepakat untuk tidak lagi meminta bantuan malam itu. Kami menunggu pagi kemudian barulah kami mencari bantuan. Karena malam itu badan kami sudah merasa lelah dan kantuk, kamipun akhirnya tidur lelap meskipun badan terlipat-lipat tidur di dalam mobil.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Ya Allah, Jangan Pernah Jadikan Hati, Pikiran, dan Sikapku Sebagai Hakim Kehidupan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel