Hidup Tak Cukup Hanya Menerima Tantangan, Tapi Harus Menciptakannya!


"Kenapa bangsa kita lambat berkembangnya, kak?" Pertanyaan singkat dari teman wanita yang baru aku kenal. Orangnya cantik, enak diajak ngobrol, apalagi ketika ngaji, huh... pokoknya bikin tenang perasaan hati deh. Jujur ya, kalau saja dia belum punya teman dekat-pacar-, sebenarnya aku merasa cocok dengan tipe gadis seperti itu, tapi yang menjadi masalah adalah dia-nya mungkin yang gak cocok sama aku, hahah... asyik ya?

Makanya ketika pertama kali aku dengar dia mengaji, saat sore hari dan lihat di situ ada pacarnya juga, langsung saja aku nyeletuk, "beruntunglah kamu mendapatkan dia, pertahankan dan jaga dia baik-baik." Begitu ucapku sok-sokan memberi nasehat. Tidak apa lah ya!

Oke, pada lain kesempatan aku bertemu lagi dengan dia. Entah aku lupa apa yang sebelumnya kami bahas, namun tiba-tiba saja dia melontarkan pertanyaan seperti itu. Pada waktu itu kami juga sedang berkumpul bersama teman-teman yang lain termasuk adalah sahabatku yang telah menjadi teman dekatnya tersebut.

Dia mengajukan pertanyaan itu padaku, karena aku orang yang paling tua di antara mereka yang saat itu sedang berkumpul. Sehingga dikira mungkin aku adalah orang yang bisa memberikan jawaban atas apa yang ingin ia ketahui.

Wah itu pertanyaan berat bagi aku, apalagi yang dibicarakan adalah soal bangsa, sungguh bukan masalah yang sederhana, Tapi dimana letak harga diriku berhadapan dengan gadis cantik seperti dia, jika aku tidak mampu memberikan jawaban yang membuatnya paham akan persoalan.

Untuk mengatasi hal itu, aku mencoba membelokkan gambaran, namun tetap pada intinya yaitu kelambanan proses menggapai sesuatu untuk sebuah perkembangan. Aku kira bahwa majunya suatu bangsa adalah juga dipengaruhi oleh manusianya, atau bisa dibilang juga karena individu-individu yang ada pada suatu bangsa tersebut. Sebab itulah ketika si gadis mengajukan pertanyaanya, aku pun balik bertanya, tapi kepada pacarnya bukan padanya. "Lima atau sepuluh tahun lagi apa yang ingin kamu capai?" Tanyaku pada pacar gadis teman baruku itu.

"Ingin sukses bang," jawabnya singkat.

"Sukses yang bagaimana?" kembali aku menimpalinya.

"Kaya bang."

"Yang bisa membuat kamu kaya itu melalui apa, atau lantaran apa?"

Dia terdiam. Berfikir. Mencari-cari jawaban. Benar, dia tidak memiliki konsep jelas atas dirinya sendiri. Semua orang atau sebagian besar mereka ingin hidup kaya, hidup sukses. Namun bagaimana mungkin itu bisa tercapai, jika tak tahu apa yang dapat membuatnya sukses.

Bukan, aku tak bermaksud menjatuhkan harga dirinya di depan kekasihnya. Tetapi aku ingin menunjukkan secara tidak langsung kepadanya jawaban atas pertanyaan yang dia ajukan padaku tadi. Kenapa hal itu terjadi, utamanya adalah bagi mereka yang masih muda. Aku pernah membahasnya kemarin, yang aku beri judul kesalahan fatal seorang pemuda.

"Lalu apa yang bisa kamu optimalkan dari dirimu 5 (lima) atau 10 (sepuluh) tahun lagi, jika kamu tidak tahu apa yang harus dilakukan." kataku serius.

"Nah, jika itu masalahnya, pastilah kita tidak akan pernah bisa menggapai tujuan kaya atau sukses tersebut. Sebab kita tidak mengoptimalkan diri dari penyebab-penyebab dapat tercapainya suatu tujuan." Beberapa orang di antara mereka ada yang mengangguk-anggukkan kepalanya, dia telah memahami apa yang aku maksudkan.

"Jadi menantang diri melakukan sesuatu hal yang menjadi penyebab tercapainya harapan-harapan besar adalah keniscayaan, dan lebih baiknya lagi ditentukan batasan-batasan waktunya." Begitu nasehatku, utamanya untuk aku sendiri sih. Tapi kalau di antara mereka ada yang mau ngikut ya monggo, begitu aku membathinnya.

Sebab aku telah mendedar kekasihnya, sepertinya ada sedikit rasa entah itu disebut rasa apa? Yang jelas dia langsung cros cek, atas pernyataan-pernyataanku. Apakah benar itu telah aku lakukan, "kalau boleh tau apa yang ingin kakak gapai dalam waktu-waktu tertentu?" Ya kan, sepertinya pertanyaan itu adalah respon dari apa yang aku lakukan pada pacarnya tadi.

Sejenak aku terdiam, tiba-tiba sahabatku yang berada tepat di sebelah kiriku angkat bicara, "Oh kalau dia itu akan membuat begini, begitu, dia sudah melakukan ini, itu, dan akan melakukan ini, itu." Sahabatku itu nyrocos hingga habis sedetail-detailnya apa-apa yang ingin aku capai dan apa-apa yang telah aku kerjakan.

"Orang lain saja tahu secara detail bagaimana konsep hidupku, jelas ya!" ucapku tak ingin mengulang jawaban yang telah diutarakan secara jelas oleh sahabatku.

"Tapi kak, itu semuakan sesuatu yang besar. Bagaimana caranya kakak melakukan itu semua?" Kembali gadis cantik itu melemparkan rasa penasarannya.

Oke, untuk persoalan itu aku akan bahas di postingan berikutnya ya. Untuk kali ini sudahlah cukup, pada apa yang seharusnya kita lakukan. Bahwa menantang diri untuk melakukan dari penyebab tercapainya harapan adalah keniscayaan.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Hidup Tak Cukup Hanya Menerima Tantangan, Tapi Harus Menciptakannya!"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel