Inilah Kesalahan Fatal Seorang Pemuda


Sahabat adalah seorang pemuda? Ya, aku adalah seorang pemuda! Jika itu jawabanya, maka pastikan perihal yang akan aku sampaikan ini, tidak bersemayam dalam diri sahabat. Perihal itu sesungguhnya adalah racun mematikan yang menjadikan matinya potensi-potensi hebat yang seharusnya bisa dicapai.

Apa itu? Oke, ceritanya begini. Sore itu setalah shalat Ashar, aku dan sahabatku menyantaikan diri di Gazebo, sebuah bangunan kecil tanpa dinding, berada di atas kolam penuh ikan dengan hembusan angin yang menyegarkan. Huh..., suasana itu memang sangat tepat sebagai pendukung alunan pikir hingga pada titik penyadaran diri terhadap apa-apa yang telah dilakukan.

Dia menghentikan ngajinya, "bang aku mau tanya nih?" Ucap sahabatku mengalihkan fokusku yang tengah menikmati suasana menentramkan itu, dengan membaringkan tubuh, merileksasikan diri, tepat berada disebalah kirinya.

Aku bangkitkan diri, mengambil posisi sama persis dengannya. Kaki menggantung di atas air, mata menjelajah memburu tenggak-riak ikan yang silih berganti. Di sana, kemudian di sini, di sana lagi, eh kemudian di sini menyusul lagi, begitu terus bergerak saling bersambut. Sungguh tanda kehidupan yang dinamis dan menyenangkan, indah sekali...

"Begini bang," katanya mulai mengutarakan maksudnya. "Aku itu merasa kalau hidup ini selalu saja aku mulai dari nol!" Lanjutnya mengutarakan permasalahan hidup yang ia temukan dalam dirinya.

"Sampean kan sudah lebih dulu berpengalaman. Pastilah tahu cara menghadapi persoalan hidup seperti yang aku alami ini." Hem..., begitu anggapannya terhadap aku. Padahal aku juga gak jauh beda dengan dia. Tapi sebagai sahabat sudah seharusnyalah aku berusaha untuk ikut serta menghadapi masalah tersebut, meskipun aku belum mampu memberikan bukti contoh nyata yang telah aku lakukan atau kerjakan. Namun setidaknya aku bisa memberikan pandanganku terhadap apa yang dia alami.

Dari pernyataannya itu aku belum bisa menangkap dengan jelas apa sesungguhnya yang dia dimaksud, akupun menanyakan lebih lanjut padanya. "Maksudnya bagaimana, selalu memulai hidup dari nol itu?" tanyaku mempertegas.

"Aku itu bang, tidak pernah bisa mencapai rencana-rencana atau harapanku. Padahal ya bang, ketika aku diberikan atau dipaksa atas suatu tanggung jawab, sebenarnya aku selalu bisa menyelesaikannya. Tetapi kenapa ketika itu adalah rencanaku sendiri aku tidak bisa menggapainya?"

"Hem..." gumamku. Tiga kali aku anggukkan kepala. Kini aku mengerti apa yang dimaksudkannya. Ada dua kata kunci yang aku dapatkan dari pernyataan dan pertanyaannya barusan. Kata kunci pertama berkaitan dengan potensi hebat dan yang kedua adalah potensi penghambat.

"Dari ceritamu barusan, aku bisa ambil kesimpulan bahwa sesungguhnya kamu punya kemampuan dalam menghadapi dan menyelesaikan tantangan." Hehehe, begitu jawabku sok tahu. Tetapi setelah aku renungkan kembali dalam pikir, eh..eh.. ternyata kemudian hatiku pun membenarkannya. Sebab begitulah sejatinya pemuda, selalu mempu menghadapi tantangan. Hal itulah kata kunci pertama yang aku dapatkan.

"Iya bener ya bang!" begitu katanya yang juga ikut membenarkan kesimpulanku. "Terus kenapa dengan rencanaku kok selalu gagal?" Lanjutnya ingin segera tahu dimana letak masalah yang mengagalkan rencana-rencana hidupnya.

"Sabar dulu ya!" sahutku yang belum tertarik untuk menjawab soal masalahnya. Aku masih ingin melanjutkan penjelasanku terkait dengan potensi hebat yang di miliki oleh kebanyakan pemuda termasuk aku dan dia. Itu aku lakukan agar pemahaman tentang potensi diri seorang pemuda dapat secara utuh dipahaminya.

Coba sejenak mari kita ingat sebait lagu tentang gambaran jati diri seorang pemuda, yang dicipta oleh musisi hebat Bang Haji Roma Irama. Begini bunyi baitnya 'Masa muda, masa yang berapi-api...' sudah pernah dengar kan?

Setelah aku mengingatkan lagu itu akupun memberi penjelasan pada sahabatku, "masa muda seperti kita ini jika dihadapkan pada tantangan sejatinya kita pasti bisa mengatasinya. Sebab semangat kita punya, keinginan kita masih banyak, tak berfikir panjang untuk bertindak, mudah belajar, stamina masih optimal, dan masih banyak potensi-potensi lainnya. Minimal dengan potensi yang barusan aku sebutin itu sudah cukup untuk mewujudkan sesuatu itu." Begitulah penjelasannku.

Sahabatku terdiam, menatap serius ke arahku. "Nah, permasalahan yang kamu hadapi adalah selalu bisa menyelesaikan tantangan yang berasal dari luar dirimu, tetapi selalu gagal jika itu berasal dari dirimu sendiri. Benar begitu?" Sambungku...

"Betul sekali bang..." sambutnya...

"Itu artinya masalahnya terletak pada tingkat kepercayaan diri yang lemah, jika kamu ingin sukses dengan rencana-rencanamu sendiri maka buanglah jauh-jauh sifat itu dari dirimu." lanjutku.

Percaya diri inilah kata kunci yang kedua, jika kepercayaan diri ini lemah maka hal itu akan menghambat bahkan menggagalkan usaha untuk mencapai sesuatu yang diinginkan. Sahabat aku masih mending, ketika mendapat tantangan dari luar dia masih mampu mengatasinya. Hanya saja jika tantangan itu dia yang membuatnya dia belum mampu percaya diri untuk mencapainya. Sedang fakta di luaran sana banyak pemuda yang tak percaya diri atas potensi-potensi dirinya, meskipun mereka ditawari tantangan tersebut, tak lantas mereka menangkapnya.

"Sebagai pemuda hadapilah hidup ini dengan percaya diri, maka kesuksesan ada digenggamanmu. Sebagai pemuda lebih hebatnya lagi harus mampu menciptakan dan menyelesaikan tantangan dari dirinya sendiri, begitulah cara mengendalikan hidup, bukan dikendalikan oleh hidup." Pesanku pada sahabatku ketika kami akan mengakhiri obrolah.

Sobat muda, AYO kita ciptakan tantangan pada diri kita sendiri, agar hidup yang kita jalani sehebat yang kita mau. Jangan tunggu tantangan datang mengajak, tapi buatlah tantangan agar kita segera bertindak.

Bagaimana cara membuat tantangan hebat dan terwujudkan, ikuti postinganku berikutnya ya? Salam...      

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Inilah Kesalahan Fatal Seorang Pemuda"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel