Karakter Unggul Manusia Dalam Transaksi Hutang Piutang

transaksi hutang piutang, pinjam uang

Pinjam uang sudah lazim dipraktikan Sejak zaman dahulu hingga sekarang, banyak hal yang melatarbelakangi mengapa harus meminjam uang atau berhutang, namun semua latar belakang tersebut berasal dari satu sumber utama yaitu pada pemenuhan keperluan hidup. Pada pemenuhan keperluan tersebut bisa karena keinginan ataupun karena kebutuhan atas suatu perkara yang harus dilaksanakan. Nah dalam upaya pemenuhan terkadang sumber daya yang dimiliki tidak sebesar keperluan yang diperlukan yang harus dipenuhinya, oleh sebab itu diperlukan tambahan sumber daya dari pihak lain untuk menyelesaikannya.

Sungguh beruntung bagi orang yang memiliki banyak sumber daya, yang berkemampuan untuk memenuhi kebutuhannya tanpa harus berhutang kepada orang lain. Namun hidup memang seperti itu, ada aturan mainnya yang selalu diperputarkan kapasitas dan kesempatan sehingga terciptalah konsep transaksi hutang piutang ini. Dari proses ini sisi manusia yang beruntung dan yang kurang beruntung dapat diketahui karakter unggul yang ada dalam dirinya. Mereka akan menciptakan pertalian yang hebat yang ujian bagi eksistensi manusia sebagai makhluk sosial.

Banyak data bicara bahwa keberadaan orang-orang yang kurang beruntung lebih banyak dibandingkan dengan orang-orang yang berkemampuan lebih. Ya, hal ini terjadi juga karena karakter manusia yang memilih hasrat atau keinginan, sehingga banyak diantarannya selalu mengikuti egoisme yang ada pada hasratnya tersebut, dari sinilah ketika apa yang dimilikinya tidak mampu memenuhi apa yang diperlukannya maka jadilah seseorang tersebut melakukan prilaku hutang piutang.

Sebenarnya dalam hukum Islam ada perbedaan yang sangat signifikan antara pemenuhan keinginan dengan pemenuhan kebutuhan, pemenuhan keinginan dapat dilakukan dengan sistem kerjasama atau jual beli, sedangkan untuk pemenuhan kebutuhan dapat dilakukan dengan sistem kebajikan (tolong menolong). Sistem pertama dapat diorentasikan keuntungan namun pada sistem yang kedua tidak diperbolehkan berorientasi keuntungan, karena pada sistem yang kedua ini akan berdampak pada riba jika pada transaksi tersebut ada unsur yang berorientasi pada keuntungan. Oleh sebab itu sistem kedua harus atas dasar belas kasih atau tolong menolong.

Selanjutnya kami tidak akan membahas tentang kedua sistem tersebut dalam artikel ini, kami hanya ingin membahas sisi karakter manusia yang ada dalam kedua transaksi tersebut, yaitu antara orang yang melakukan pinjaman dan orang yang memberikan pinjaman. Untuk memenuhi kepentingan hasrat tersebut, jika kebutuhan yang bersifat tidak prioritas maka bisa ditunda tapi bagaimana jika kebutuhannya adalah bersifat darurat maka bagaimana pun caranya seseorang harus bisa mendapatkan pemberi pinjaman untuk mengatasi masalah kebutuhan daruratnya tersebut.

Meskipun dalam kondisi darurat, untuk jual beli, atau untuk kerja sama usaha yang berorentasi laba, namun ternyata bukan berarti keadaan tersebut mudah untuk mendapatkannya kepercayaan atas harta orang lain untuk dikelola baik dalam urusan kebajikan ataupun urusan mencari laba tersebut, persoalan ini berpangkal pada persoalan jaminan. Jadi pada dasarnya apakah harta yang diamanatkan tersebut dapat kembali kepada pemiliknya atau akan lenyap bersama kepercayaannya.

Moneysmart.id merilis bahwa salah satu faktor kenapa banyak orang yang tidak bisa bayar hutang, atau banyak yang mengalami keterlambatan dalam melakukan pengembalian, hingga parahnya lagi sampai-sampai pemiliknya berkali-kali menagih amanah yang telah disepakati, ini karena menurut moneysmart.id seseorang tersebut salah satunya memiliki niat untuk tidak menepati amanah yang telah diberikan kepadanya.

Padahal perinsip utama ketika diberikan amanah adalah wajib membayarnya. Oleh sebab itu ketika memutuskan untuk berhutang maka kewajibannya adalah membayarnya. Segala upaya tulus dan prioritas seseorang penerima amanah adalah mentaatinya, oleh sebab itu perihal ini dimulai dari analisa kemampuan dalam membayarnya baik besaran bayara ataupun jangka waktunya, dan ada hal yang paling penting adalah ketika kita telah berhutang maka menurut islampos.com maka seharusnyalah kita berserah diri atas pertolongan Allah dan selanjutnya bersungguh-sungguh akan dengan segera melunasinya.

1. Karakter Unggul Pada Orang Yang Berhutang

Menjaga amanah ini adalah sesungguhnya prinsip yang harus dimiliki ketika kita menjalani hidup yang kemungkinan besar akan bertemu pada aktivitas hutang piutang. Jikalau kita memiliki kepribadian yang unggul dalam hal ini adalah terkait dengan aktivitas hutang piutang. Yaitu niat akan selalu membayar dan berserah diri tawakkal pada Allah maka urusan ini akan selalu mendapatkan kemudahan. Baik disaat kita mencari pinjaman uang atau pun saat kita akan melakukan pembayarannya.

Mengapa demikian karena kita telah menjaminkan di kita pada orang yang kita minta pinjaman dan kepada Allah yang mengusai pembendaharaan dunia dan alam seisinya. dengan begitu kehidupan ini akan berjalan dengan penuh keberkahan dan keindahan. baik dari manusia maupun dari Allah.

Perilaku tersebut telah sesuai dengan ketentuan bahwa orang yang saleh/baik itu bisa dilihat cirinya ketika dia berhutang. yaitu sesungguhnya sebagai dari orang yang paling baik adalah orang yang paling baik dalam menbayar hutang. Ini adalah juga tanda bahwa orang tersebut adalah orang yang bisa dipercaya dan amanah. Dikutip dari islam.nu.or.id bahwa urusan hutang piutang adalah termasuk urusn hak sesama manusia artinya bahwa seseorang belum menerima haknya maka orang yang berkewajiban atas hak tersebut wajib untuk menunaikannya sampai kapanpun. baik didunia maupun sampai akhirat.

2. Karakter Unggul Pada Orang Yang Memberi Hutang

Mempercayakan harta kepada orang lain memang bukanlah hal yang mudah karena belum bisa dipastikan apakah benar harta tersebut yang dihutangkan akan dikelola dengan amanah, baik pemanfaatannya ataupun pengembaliannya.

Olehnya ketika seseorang rela melepas apa yang dimiliki untuk dipinjamkan kepada orang lain, maka tentunya seseorang tersebut -penerima pinjaman- sudah dipastikan karakternya, bahwa dirinya benar-benar dapat menjalankan amanah tersebut.

Pada dasarnya karakter manusia adalah menumpuk-numpuk harta atau menimbunnya sehingga akan terasa berat untuk mengeluarkannya kepada pihak lain apalagi hanya karena masalah sosial, yaitu kebajikan. Sudah dapat dipastikan agar seseorang tersebut mau mengeluarkan hartanya pastilah disertai dengan syarat-syarat yang ketat.

Tetapi sejatinya jika pemberi pinjaman ini memiliki orentasi menjalankan syariat Islam yang mengajarkan agar harta dijadikan alat untuk dikembangkan dan bukan untuk disimpan seperti yang dilansir dari pengusahamuslim.com. Sudah barang tentu seseorang tersebut akan memiliki karakter ringan tangan untuk membantu, baik untuk membantu pengembangan usaha, jual beli, atau pun bantuan kebajikan. Karena sesungguhnya Allah menciptakan harta untuk diputar, berpindah dari satu tangan ke tangan yang lain, dan tidak hanya mengendap di satu tangan orang kaya saja.

Kesimpulannya adalah jika berkesempatan memiliki banyak harta maka ringan tanganlah untuk membantu, agar harta dapat berputar kepada banyak orang, dan menciptakan banyak manfaat dari perputarannya. Namun ketika harus berlaku sebagai orang yang membutuhkan uluran tangan dari orang lain, maka berlakulah dengan penuh tanggung jawab dalam menjaga amanah yang diemban.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Karakter Unggul Manusia Dalam Transaksi Hutang Piutang"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel