Fenomena Poligami, Perlukah Hidayah Atau Cukup Dengan Logika



Baru-baru saja kita semua dipertontonkan dengan fenomena poligami yaitu seorang suami yang memiliki istri lebih dari satu. Yah, mulai dari pejabat wakil rakyat hingga pendakwah kaya raya. Sepertinya mereka terlihat bahagia, dan mudah-mudahan memang begitu keadaannya.

Ya, mungkin hanya sebuah doa yang bisa menepis perasangka buruk ini, karena sebuah keajaiban kenapa mereka bisa melakukan hal itu, ditengah-tengah mayoritas penolakan dari kaum wanita yang tidak menginginkan cintanya diduakan oleh pasangannya dengan melakukan praktik poligami.

Apalagi dengan adanya publikasi video seorang wanita yang dengan ikhlasnya -katanya- mempersiapkan segalanya mulai dari mencarikan calon istri keduanya -madunya- hingga mengurus semua proses pernikahannya. Video tersebut viral sehingga banyak orang menyaksikan, akibatnya ada yang merespon positif, tetapi banyak sekali yang meresponnya dengan negatif.

Ada diantara mereka yang berkata-kata bahwa apabila ada wanita yang mau dipoligami, berarti wanita tersebut sudah tidak waras lagi. Sungguh ini sebuah perkataan yang juga menyakitkan bagi wanita yang berpoligami tersebut, bahkan juga bagi orang-orang yang sangat cinta pada junjungannya Nabi Muhammad dan Istri-istrinya, beliau juga adalah pelaku poligami, sehingga mereka merasa tersinggung karena junjungannya, yaitu istri-istri Nabi yang masuk dalam anggap tidak waras tersebut.

BACA JUGA: Istri Adalah Motivasi Kerja Suami, Jagalah Sikap Ini Agar Suami Tetap Semangat

Tetapi setidakknya memang seperti itu naluri wanita, berbeda dengan naluri lelaki yang kebanyakan mereka sangat menginginkan tambah istri, apalagi dengan adanya pembolehan secara syariat, sehingga kebanyakan mereka merasa mampu untuk melaksanakan parktik poligami tersebut.

Pada dasarnya berbagi kebahagiaan itu sangat baik, dan dianjurkan oleh agama, barang siapa mampu melaksanakannya maka akan mendapatkan balasan yang besar bagi pelakunya. Sebagaimana sering kita dengar sebagai bahasa motivasi, bahwa barang siapa yang mau dimadu, maka Insya Alloh surgalah balasannya.

Meskipun demikian tidak lantas motivasi surga tersebut mampu mendorong banyak wanita untuk melakukannya, hanya sebagian kecil saja, dan itu sangat kecil sekali, berjuta-juta orang banding satu. Bahkan pada dasarnya mereka menganggap motivasi surga itu adalah surga yang tak dirindukan.

Menurutnya jalan menuju syurga itu banyak tidak harus melalui pintu yang berat itu, banyak kok hal-hal yang mudah dan menyenangkan yang bisa ditempuh untuk menuju syurga. Banyak jalan menuju syurga, kalau ada yang mudah dan menyenangkan, kenapa harus berbagi cinta, begitu mungkin pemikiran banyak wanita.

BACA JUGA: Cara Bisnis Ibu Rumah Tangga Agar Bisa Meraih Sukses

Apakah itu murni hidayah ilahi atau logika hebat untuk kebahagiaan hidup yang mampu membuatnya mau berbagi cinta? Oleh sebab itu harus ada alasan tepat untuk menjawab persoalan fenomena poligami ini, memang prespektif kenapa orang mau berpoligami adalah prespektik personal. Hal tersebut akan menjadikan motif yang tidak pasti antara seseorang dengan seseorang yang lainnya.

Alasan yang bersifat personal tersebut menjadi sangat relatif, pada akhirnya tidak dapat dijadikan sebuah teori atau alasan umum yang bisa diikuti, tetapi juga alasan pelaku poligami juga tidak bisa disalahkan, sebab ukuran seseorang atas dirinya adalah berbeda mereka memiliki keunikannya masing-masing.

Hidayah adalah faktor keimanan yang mendalam, menempuh jalan untuk berbagi cinta apakah karena kedalaman imannya, atau cukup dengan logika kehidupan bahwa memang praktik poligami dibutuhkan dalam kehidupan ini.

Jika mendasarkan pada logika kehidupan maka tabiat lelaki memang sangat membuncah bahwa sebagaian besar dari mereka memiliki hasrat untuk memiliki banyak istri, atau kebutuhan akan saling tolong menolong, atau kebutuhan mengelola rumah tangga sehingga memerlukan banyak wanita, atau kebutuhan memperbanyak menyambung silaturrahmi, dan atau kebutuhan memperbanyak keturunan.

Tetapi logika itu semua sangat bertentangan dengan logika wanita yang pada dasarnya secara garis besar tidak menginginkan berbagi cinta. Para wanita secara psikologi pastinya menginginkan sehidup semati hanya dengan satu cinta yang abadi.

Kenyataanya bahwa dengan keinginan satu cinta abadi tidak seindah yang dibayangkan, karena dasar pijakan keimanan masih memberikan peluang, atau melegalkan sang suami untuk bisa berbagi cinta dengan yang lain. Dengan keadaan seperti ini maka jelas bertentangan dengan hasrat akan cinta tersebut. Hal ini menjadi tantangan tersendiri yang harus dientaskan oleh wanita, ketika menghadapi kenyataan bahwa suaminya akan berbagi, entah itu karena alasan hasrat sang suami, materi, menolong wanita lemah, dan lain-lain.

BACA JUGA: Kata Mereka Menuliskan Mimpi Adalah Langkah Awal Menuju Sukses

Gejolak hati seorang istri dalam merelakan kehidupan poligaminya apakah membutuhkan sentuhan-sentuhan keyakinan ilahiyah sehingga ia mampu melaksanakannya, atau cukup logika pikir saja, bahwa benar kehidupan ini haruslah berpoligami.

Pada dasarnya kerelaan itu adalah sebuah pengorbanan yang berat untuk dilaksanakan, maka untuk sampai pada kesimpulan atas kerelaan itu, peran hidayahkah atau peran logika yang mampu mendorongnya. Jika peran hidayah, maka cukuplah yakin dengan ketentuan normatif, bahwa semua itu akan membawa kebaikan bagi kehidupan. Atau peran logika yang harus menemukan alur pikir yang benar terhadap kesadaran bahwa itu semua adalah kebaikan bagi kehidupan.

Maka dengan demikian tidak ada pembenaran yang baku kebenarannya atas semua alasan, baik yang setuju atas keyakinan normatif, ataupun yang tidak setuju karena belum memahami secara logika pikir yang benar tentang makna berbagi cinta.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Fenomena Poligami, Perlukah Hidayah Atau Cukup Dengan Logika"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel