Masih Adakah Ampunan, Bagi Seseorang Yang Menitipkan Anak Pada Orang Tua

Masih Adakah Ampunan, Bagi Seseorang Yang Menitipkan Anak Pada Orang Tua
Bersantai Ria Bersama Anak dan Ibu Tercinta
Masihkah ada ampunan, buat kami yang menitipkan anak kepada orang tua, untuk beberapa saat lamanya? Sementara seharusnya orang tua tidaklah boleh dibebani dengan kesusahan, karena mengasuh cucunya.

Seperti yang telah saya alami, ikut mengasuh anak pertama yang masih berusia batita, bersama istri tercinta, sungguh sangat melelahkan. Menjaganya, merawatnya, menimang, dan menina bobokkannya adalah pekerjaan yang berat. Bagaimana mungkin saya tega beban berat itu dilimpahkan pada orang tua, yang sudah berusia lanjut.

Saat malam hari harus terbangun dari tidur, mengayunnya, menimangnya, atau membuatkan sebotol susu. Keterpaksaan harus bangun dari tidur adalah hal yang tidak menyenangkan, setelah sehari penat dengan berbagai pekerjaan, ketika malam hari yang seharusnya dipergunakan untuk beristirahat melepas lelah, eh malah harus disibukkan kembali dengan pekerjaan-pekerjaan berat.

Belum lagi jika si kecil rewel, menangis meronta-ronta karena tak enak badan, kondisi ini menambah beban pikiran yang juga menambah lelah badan.

Disisi lain dengan terpaksa kami harus mengambil keputusan sulit ini, dengan membebani orang tua kami untuk beberapa saat lamanya, merawat dan mengasuh anak kami, hingga terselesaikannya kesibukan, yang itu semua adalah hanya untuk ego kami saja.

Baca Juga: Bukti Harapan Orang Tua Kepada Anaknya Adalah Dengan Cara Mendidik Anak Sebaik Mungkin

Kami berdua sama-sama sedang menyelesikan studi. Istri sedang menyelesaikan studi S1 sedang saya lanjut studi S2. Merawat anak saat seperti itu tidaklah mungkin dilakukan ketika kita sebagai orang tua harus melakukan pekerjaan-pekerjaan di luar rumah. Dan apalagi pekerjaan itu membutuhkan konsentrasi dan formalitas, sehingga tidak boleh ada yang menggaggunya.

Masalahnya adalah kami tidak bisa mempercayaan anak kami begitu saja pada orang lain, apalagi orang-orang yang tidak kami kenal. Entah mengapa kami berdua begitu sensitif terhadap perasaan kami kepada anak.

Entah kenapa hati ini percaya hanya kepada engkau. Tapi jujur tidak kami merasakan senang, saat harus mengambil solusi ini, perasaan kami justru gelisah tak bisa tenang, dan merasa terbebani oleh dosa, tapi apalah daya kami sungguh terpaksa.

Kami selalu terpikirkan perasaan takut, takut engkau terbenani, engkau kelelahan, dimana saat ini fisikmu kami tahu sudah semakin rapuh.

Engkau dulu telah merawat dan memberikan kasih sayang pada kami. Itu artinya engkau telah berjasa memberiku kehidupan juga. Seharusnya sekarang giliran kami secara penuh yang meneruskan tanggung jawab pada anak-anak kami, merawatnya, memberikan kasih sayangku sepenuhnya layaknya engkau dahulu.

Meskipun dia orang tua kami (mertua) memang punya pengalaman dalam mengasuh anak, bahkan tetangganyapun berulang kali mempercayakan kepadanya untuk mengasuh beberapa anaknya dari masa ke masa.

Mungkin karena kebiasaannya dan kepiawaiannya dalam mengasuh anak, maka beliau menawarkan diri untuk mengasuh anak kami.

Namun kami dalam kondisi yang serba salah, mengingat bahwa seharusnya orang tua tidak lagi dibebani dengan cucu, karena tugas merawat dan mendidik anak adalah kewajiban kami sebagai orangtuanya.

Entah apakah perilaku kami ini bisa dimaafkan, kami tau bahwa orang tua pasti akan megalami kesulitan dan kelelahan dalam mengurus anak cucunya tersebut. Sehingga rasa itu akan menjadi dosa yang besar buat kami.

Kami akan selalu memohon ampun pada mereka dan bertaubat pada Alloh, dan juga memohon untuk diberikan jalan yang lapang untuk menebus perbuatan ini dengan terus berusaha berbuat baik pada mereka.

Sebagaimana hakikatnya prilaku anak kepada orang tuanya yaitu harus bersyukur dan berbuat baik kepada mereka, bukan malah membebaninya.

Prilaku Anak Pada Orang Tua

Sebagai anak sudah sepatutnya menjaga prilaku kepada orang tua. Ya, ibu telah megandung berbulan-bulan lamanya, fisiknya dari hari ke hari akan semakin lemah dan kesusahan hingga 9 (sembilan) bulan.

Baca Juga: Berbakti Kepada Orang Tua, Mereka Adalah Anugrah Yang Harus Dimuliakan

Saat melahirkan dia harus mempertaruhkan nyawanya demi lahirnya anak tercintanya, yang akan membuka mata, menangis dan tertawa karena dunia. Kelak anak yang dilahirkannya itu bisa membanggakan dan meneruskan kehidupannya.

Begitu juga dengan sosok ayah, dia akan banting tulang, memikul baban dipunggungnya, demi mencari penghidupan buat keluarga, dia tidak peduli meskipun harus mempertaruhkan jiwa dan raganya, melawan rintangan-rintangan yang dihadapinya.

Itu adalah bentuk kasih sayang pada anak, tanpa kasih sayang itu, mustahil kita akan dibela oleh mereka. Sebab itu sebagai anak sudah seharusnya membalas kasih sayang mereka dengan bersyukur dan berupaya selalu berbuat baik kepadanya, meskipun kasih sayang itu tak akan pernah terbalaskan.

Bersyukur Pada Orang Tua

Cara bersyukur adalah bentuk dari ketaatan atau jika dikaitkan dengan syukur kepada orang tua adalah dengan cara berbakti kepadanya.

Berbakti adalah bagaimana agar disetiap langkah kaki kita selalu mendapatkan ridho dari mereka, itu artinya kita sebagai anak selalu taat pada apa yang diharapkannya, ini adalah bakti.

Selama apa yang diharapkan orang tua bukanlah suatu kekufuran maka wajib hukumnya bagi kita untuk mengikutinya, jika ada sedikit perbedaan jangan sampai menyakitinya, merendahkannya, menghinakannya atau bahkan menghakiminya. Yang diutamakan adalah adab dan ilmu, tanpa mengguruinya.

Selalu mendoakan adalah juga bentuk rasa syukur kita pada mereka, hal sepele ini sering sekali dilupakan anak, namun mengirim doa untuk mereka memang tidaklah terlihat secara langsung dan nyata manfaatnya, tetapi ini adalah bekal yang amat dinantikan mereka dikehidupan kelak?

Berbuat Baik Pada Orang Tua

Berbuat baik banyak macamnya, misalnya dengan memberikan hadiah apa yang mereka sukai, atau membantu mereka sesuai dengan yang kita mampu.

Sopan santun berkata maupun sikap kita pada mereka, menjalin silaturrahmi pada kerabat dan teman dekat orang tua juga merupakan perbuatan baik yang selayaknya kita lakukan untuk mereka.

Intinya adalah perilaku kita yang berdampak nyata buat kebaikan orang tua baik dari sisi materi maupun perasaan mereka.

Dasar Perilaku Anak Pada Orang Tua

Secara etika moral manusia yang memiliki akal pengetahuan dan hati nurani yang dapat memilah mana yang baik dan relevan. Modal dua hal tersebut manusia dengan kesadarnnya pasti akan mengatakan bahwa seorang anak harus berbuat baik pada orang tuanya, itu biasa disebut juga sebagai tata krama.

Untuk mempertegas persoalan ini maka agama-agama yang mengatur tentang moral pasti akan memberikan pedoman-pedomannya atas tatakrama tersebut, begitu juga dengan al Qur'an adalah sebagai pedoman dalam melakukan etika, seperti apa yang harus dilakukan pada kedua orang tuanya.

Dua ayat ini saja sudah bisa mewakil kebutuhan dan dasar hukum yang kuat bagaimana berprilaku kepada orang tuanya, sebagaimana berikut.

Dan Kami perintahkan kepada manusia (agar berbuat baik) kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam usia dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada kedua orang tuamu. Hanya kepada Aku kembalimu. (31:14)



Dan Kami perintahkan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya telah mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Masa mengandung sampai menyapihnya selama tiga puluh bulan, sehingga apabila dia (anak itu) telah dewasa dan umurnya mencapai empat puluh tahun dia berdoa, “Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sungguh, aku termasuk orang muslim.” (46:15)

Alasan Ampunan Menitipkan Anak Pada Orang Tua

Telah mafhumnya informasi yang kita terima bahwa ridho orang tua adalah ridho Alloh, sehingga membebani orang tua dengan tanggung jawab yang seharusnya kita emban adalah perbuatan yang buruk, yang bisa berakibat fatal. Jikalau orang tua saat mengasuh anak ada saat-saat mereka tidak ridho diperlakukan seperti itu, maka habislah kita.

Baca Juga: 3 Tips Agar Anak Balita Mau Mengaji - Mengajari Anak Balita Mengaji - Mengaji Sejak Dini - Balita Belajar Mengaji

Sebagai manusia biasa yang tidak bisa melihat hati seseorang apa lagi dalam keadaan tidak berada bersama mereka, sehingga tidak bisa melihat seperti apa perilaku mereka saat mengasuh, senang kah, mengumpatkah, atau kelelahan, akibat ulah anak kita.

Ini lah sebabnya ampunan dari mereka berdua sangat dibutuhkan agar dapat terselamatkan dunia akhirat. Semoga kedua orang tua yang kita titipi mengerti mengerti, karena memang ini adalah kondisi keterpaksaan bukan direncanakan.

Sungguh kami tidak berniat untuk menyusahkan kedua orang tua kami dengan melimpahkan beban tanggung jawab kami kepada mereka. Jujur hati ini tidak tenang, namun kami adalah manusia yang lemah, yang tidak mampu melawan ketidak mampuan diri.

Melalui ungkapan ini semoga Alloh semakin menguatkan kami untuk bisa berbakti pada kedua orang tua kami, dengan sebenar-benarnya. Dan melalui tulisan ini pula kami berharap banyak kiriman doa dari pembaca agar Alloh memberikan ampunan atas kesalahan kami tersebut. Amin.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Masih Adakah Ampunan, Bagi Seseorang Yang Menitipkan Anak Pada Orang Tua"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel