Mendidik Anak Tanpa Marah, Apapun Pilihannya Buatlah Menjadi Anak Yang Membanggakan

Mendidik Anak Tanpa Marah, Apapun Pilihannya Buatlah Menjadi Anak Yang Membanggakan

Mendidik anak tanpa marah, mungkin saja itu bisa terjadi dalam sebuah keluarga. Tetapi perjalanan hidup ini adalah penuh likuan, apalagi jiwa-jiwa anak yang masih labil. Orang dewasa saja banyak melakukan kesalahan-kesalahan, apalagi anak-anak yang belum banyak makan asam garam kehidupan.

Setiap orang tua pastinya menginginkan anaknya dapat tumbuh dan berkembang hingga meraih pencapaian-pencapaian sesuai yang orang tua harapkan, itu semua adalah untuk mendapatkan kebanggaan dalam arti adalah rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tetapi untuk meraih itu semua bukanlah perihal yang mudah, butuh perjuangan yang menguji diri dan materi. Begitu juga dengan emosi, baik ketika anak masih balita, ataupun sudah dewasa. Orang tua harus mengambil keputusan yang tepat menghadapi situasi saat harapan pada anak tidak sesuai dengan kenyataannya. Haruskah mendidiknya tanpa marah, atau perlukah kemarahan agar apa yang menjadi harapan dapat tercapai.

Pengalaman diri, teringat ketika orang tua kala dulu mendidik, ketidaktaatan pada perintahnya akan berakibat pada kemarahan dan bahkan tidak segan-segan untuk memukul, sangat jelas dalam ingatan ketika asyik bermain lupa akan waktu hingga berlarut-larut senja, ketika tiba di rumah azan maghrib telah berkumandang.

Tampak sosok bapak duduk-duduk di tangga rumah dengan wajah memerah penuh kekecewaan menatap dengan tatapan kosong, sedang di tangannya menggenggam pelepah daun pisang yang telah dihilangkan daunnya. Sungguh bentuk pelepah itu menyerupai cambuk yang siap meletuskan bunyinya saat dihempaskan.

Mungkin bapak telah menunggu lama atas kedatangan sosok-sosok kecil tumpuan harapannya yang tak kunjung pulang hingga hari akan berganti malam. 

Baca Juga: Bukti Harapan Orang Tua Kepada Anaknya Adalah Dengan Cara Mendidik Anak Sebaik Mungkin

Ketika kaki-kaki mungil mulai melangkah melewati pagar halaman rumah. Bapak yang berada di tangga rumah, kini mulai berjalan menghampiri kami dengan sedikit tergesa, setelah dalam jangkauannya diapun menggerakkan tangannya. Cetar… cetar… cetar… Benar, bunyi hempasan pelepah itu sungguh sangat mengerikan, kulit betis dan paha terasa membilur, air mata meleleh menahan sakitnya.

Yah, hanya bisa pasrah sambil menikmati sakit dan pedihnya, sambutan pelepah pisang tadi yang diayunkan berkali-kali banyaknya ke betis dan paha, membuat mata mengalir membawa tangis dan rintihan pesakitan.

Ada juga cerita lain yang penting, yaitu ketika kakak menemukan uang sebesar Rp. 5.000 rupiah yang terjatuh di kamar mandi. Ketika itu sekira tahun 1995 dengan uang sebesar itu dibelanjakan bombon, luar biasa dapat banyak sekali. Mengetahui kakak membawa bombon yang begitu banyak itu adalah ketidak wajaran dengan standar uang jajannya pada zaman itu.

Akhirnya orang tua mencurigai bahwa itu pasti adalah hasil dari mencuri. Kakak diinterogasi oleh orang tua. Entah mungkin karena takut kakak pun tidak mengaku dari mana dia mendapatkan itu semua. Maka karena orang tua tidak mau anaknya berbuat yang tidak benar, akhirnya dihajar sambil terus diinterogasi.

Karena tidak kunjung berterus-terang, orang tua pun setiap ada kesempatan menghampiri kakak yang masih meratapi kesedihan dan kesakitannya, sembari memarahinya dan memberikan nasihat-nasihat tentang kekecewaannya jika anaknya menjadi seorang pencuri, ketika emosi kembali naik sesekali dia mendaratkan pukulannya, tangis kakak pun kembali pecah.

Entah apa yang ada dipikiran kenapa dia tidak mau menceritakan secara jelas tentang asal muasal darimana dia mendapatkan bombon tersebut. Ia malah memilih mengatakan sesuatu yang tidak jelas bahwa dia menemukannya, itu sesuatu yang tidak dapat dipercaya nalar orang tua kami.

Hingga akhirnya sholat maghrib ibu yang juga ikut memarahinya dan juga mencubitinya sedari tadi siang. Beliau datang menghampirinya, di situlah kemudian kakak memberitahukan bahwa dia mendapatkan uang di kamar mandi dan kemudian dia belikan bombon semuanya.

“Oalah kenapa tidak ngomong dari tadi, jadi kamu engak dipukul sampai begini” ujar Ibu menyesalkan pengakuan kakak yang tidak dari awal mengatakannya.

Baca Juga: Cara Mendidik Anak Ala Ibu Muda Yang Belum Berpengalama

Ada lagi cerita lain, namanya juga anak-anak. Pada saat sekolah dasar, kakak lagi-lagi melakukan kesalahan yang terekam jelas diingatan. Namanya juga anak-anak pagi hari itu bawaanya malas sekali untuk bergegas bangun dari tidur.

Hingga Ibu berulang-ulang membangunkan dengan terus-menerus memanggil. Pada waktu itu kakak sudah kelas 2 (dua) SD, sedang saya masih berusia 6 tahun, belum cukup umur untuk masuk sekolah, untuk wilayah kampung sekolah TK belum populer pada zaman itu. Karena di kampung keadaan sangat kondusif dan ramah anak, pada waktu itu kakak yang baru kelas 2 (dua) SD sudah tidak perlu lagi diantar, apalagi sekolahnya sangat terjangkau.

Tetapi karena susah dibangunkan akhirnya dia terlambat, ketika dia sampai di sekolah ternyata sudah pada masuk kelas semua. Alhasil dia tidak melanjutkan sekolah pada hari itu dan memutuskan untuk kembali pulang. Entah gejolak jiwa apa yang terjadi, dia pulang sambil, sesenggukan karena menangis.

Seperti itulah mungkin ya psikologi anak, ketika sesuatu yang tidak diinginkan atau tidak sesuai dengan harapannya, dia hanya bisa menangis, mungkin itu dilakukan untuk sebuah alasan rasa iba atau mungkin juga rasa kecewa atau takut.

Sederhananya sebutlah dia ngambek dan memutuskan untuk kembali pulang itu ternyata adalah petaka untuknya. Setelah tau alasannya kenapa dia kembali pulang, bukannya mendiamkan ngambeknya, tetapi justru malah membangkitkan kemarahan bapak, dihajarlah dia dengan ranting-ranting tanaman yang ada di halaman rumah yang membuat kakak makin menangis menjadi-jadi. Hingga membuat bapak melemparnya ke kolam dangkal yang ada di depan rumah dan membiarkannya sejenak.

Kisah ini menghadirkan apa yang dialami oleh kakak saya, lalu bagaimana dengan saya? Tidak jauh beda saya juga akan menerima resiko sama seperti yang dialami kakak, ketika saya melakukan kesalahan atau tidak bertanggung jawab atas diri saya. Seperti halnya ketika diminta bertanggung jawab atas gembala, untuk memelihara dan memberi makannya, namun saya lalai. Maka saya akan menerima konsekuensinya sama seperti apa yang dialami kakak di atas? Dan masih banyak lagi peristiwa-peristiwa lainnya, namun kali ini biarlah kakak saya yang menjadi korbannya.

Begitulah pengalaman hidup ini, dididik dengan begitu rupa, namun setiap kali ada kemarahan bahkan sampai diberi pelajaran-pelajaran kekerasan seperti itu, orang tua akan selalu menyertainya dengan nasehat-nasehat tentang bagaimana seharusnya berperilaku dan serta akan diberikan gambaran-gambaran yang jelas tentang masa depan seperti apa yang harus diraih. Semua itu bisa diperoleh dengan mengikuti arahan-arahan yang orang tua berikan. Jika taat kepada mereka, maka semua itu adalah untuk kebaikan buat kami sendiri. Intinya seperti itu yang diinginkan mereka atas anaknya ini.

Apapun pilihan cara mendidik semua adalah bentuk kasih sayang yang orang tua berikan untuk anaknya, hanya perlakuannya saja yang berbeda. Dengan memarahinya dan sedikit kekerasan adalah mungkin dianggap sebagai cara yang jitu untuk memberikan efek jera pada anak, agar anak dapat kembali pada jalan kehidupannya yang benar.

Begitu juga dengan cara mendidik yang lemah lembut, mungkin itu adalah cara yang tepat untuk tetap memberikan pemahaman kepada anak tentang cara seperti apa meraih kesuksesan-kesuksesannya.

Mungkin mereka memilih dasar ini kala mendidik anak dengan cara keras, "Perintahkan anak-anak kalian untuk melakukan shalat saat usia mereka tujuh tahun, dan pukullah mereka saat usia sepuluh tahun. Dan pisahkan tempat tidur mereka." (Abu Daud : 495 dan Ahmad :6650, dishahihkan oleh Al-Albany dalam Irwa'u Ghalil, no. 247)


Kemudian mereka yang memilih mendidik anak tanpa marah atau lemah lembut juga ada dasarnya. Anas berkata: Demi Allah, sudah tujuh atau sembilan tahun aku mengabdi kepadanya, aku tidak pernah (mendengarnya mengomentari) kesalahan yang kulakukan dalam mengerjakan sesuatu dengan berkata: “Kenapa kau melakukannya begini dan begini,” atau mengomentari (kelalaianku) melakukan sesuatu dengan berkata: “Kenapa kau tidak melakukan ini dan ini.” (Imam Abu Dawud, Sunan AbĂ® Dawud, Beirut: al-Maktabah al-‘Ashriyyah, tt, juz 4, h. 246-247)

Meskipun dididik dengan dasar yang pertama seperti itu, sama sekali tidak dirasakan sebagai kejahatan, tetapi yang dirasakan adalah kasih sayang mereka, meskipun terlihat mengerikan, namun tidak ada kebencian sedikitpun. Justru semua itu adalah pelajaran yang aman bermanfaat atau mungkin karena nasehat-nasehat setelah marah itulah yang mencerahkan sehingga tidak berdampak pada psikologi.

Makna itu semua saya ketahui setelah berkeluarga dan mempunyai anak, bahwa mengajarkan norma dan sikap yang baik adalah keharusan. Baik norma kesalehan sosial maupun spiritual. Namun menanamkan itu semua pada anak tidaklah mudah, karena yang dihadapi adalah manusia yang punya perasaan dan pikirannya sendiri. Akan menjadi fatal akibatnya jika tidak tepat dalam penanganannya.

Apapun pilihannya mendidik tanpa marah maupun mendidik dengan cara lemah lembut, semua tidak dipermasalahkan dan ada dasarnya. Yang harus menjadi perhatian saat mendidik baik dengan perilaku mendidik keras atau lemah lembut adalah ingatlah pada tujuannya yaitu menjadikan anak sebagai anak yang membanggakan dan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. 

Baca Juga: 3 Tips Agar Anak Balita Mau Mengaji - Balita Mengaji Sejak Dini

Mendidik dengan keras, hingga memberikan pukulan-pukulan yang bertujuan untuk memberikan efek jera atas kesalahan-kesalahan yang dilakukan adalah cara yang kadang dapat membuahkan hasil yang positif, tapi ada juga memberikan efek buruk pada anak, dia akan menjadi keras dan menentang.

Mendidik anak dengan lemah lembut dan memanjakannya bisa juga sukses, namun ada juga yang justru mendidik dengan lemah lembut dapat membuat anak lemah dan tidak terarah.

Apapun pilihan cara mendidik fokuslah pada menjadikan anak sebagai kebanggaan dihadapan Tuhan Yang Maha Esa.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Mendidik Anak Tanpa Marah, Apapun Pilihannya Buatlah Menjadi Anak Yang Membanggakan"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel