Siang Itu - Cerita Fiksi Inspiratif "Hasrat Meraih Mimpi" #1

Cerita Fiksi Inspiratif - Hasrat Meraih Mimpi

Siang Itu...

Bukankah mimpi adalah prasangka, dan bukankah Tuhan itu menurut apa yang disangka? Lalu kenapa memprasangkakan kehidupan dengan hal yang kecil, apakah tidak boleh jika memprasangkakan kehidupan ini dengan hal-hal yang besar? 
-----------------------------
Bagian 1: Cerita Fiksi Inspiratif dengan judul HAFI - "Hasrat Meraih Mimpi", terbit setiap hari senin. Untuk menuju halaman Daftar Bagian Cerita atau Bagian Sebelumnya.. Selamat menikmati
----------------------------

SEPASANG kekasih berboncengan motor. Namun lagaknya jauh dari sikap kemesraan. Yang lelaki seperti kaku, wajah mengeras karena berpikir, yang wanita mulutnya mengoceh tiada henti. 

“Aku sudah sering bilang, cepet dong Kak Hafi cari kerjaan. Atau paling tidak Kakak sudah mempersiapkan diri. Dengan segera mencari relasi. Di mana Kakak nanti akan bekerja? Kak Hafi sebentar lagi kan sudah mau lulus!” kata Mela dengan suara tajam. Suara yang mampu membelah derasnya angin. Di antara kecepatan motor yang mereka kendarai. Kala menuju kampus, tempat mereka berdua kuliah. Entah apa yang membuat Mela melontarkan seruannya di saat-saat seperti itu, seolah tak ada lagi waktu, untuk membicarakannya di tempat yang lebih nyaman.

Hafi lalu menegakkan badannya. Tangan kiri dia lepas dari stang motor, membuka kaca helm yang dikenakannya. Sedang tangan kanan, yang mengendalikan laju motor dia kendurkan. Seketika roda berputar melambat. Motor menyisih pada lajur kiri. Membuat kendaraan di sisi kanan melesat cepat mendahului. Kadang kendaraan itu dengan tega mengempaskan debu untuk Hafi dan Mela. Dalam kondisi seperti itu, melawan sesaknya debu yang menyerang, adalah cara yang lebih aman daripada harus di tengah jalan.

Berusaha menahan perasaannya, Hafi berkata, “Kenapa ya, kok orang tua Adek menyuruh kita cepat-cepat?”

“Itulah Kak, orang tua aku gak mau melihat kita yang selalu bersama ini, tanpa ada ikatan yang sah. Aku kira mereka ingin menjaga, agar kita tidak sampai melangkah pada jalan yang salah.” Mela beralasan.

“Oh, kalau begitu saat ini Kakak cukup meyakinkan mereka, bahwa kita akan selalu di jalan yang benar, ya kan?” Hafi coba menawarkan solusinya.

Tangan kiri Hafi yang tadi menyibak kaca helm, tak lantas kembali memegang stang motor, tetapi dia malah meletakkannya pada pangkal paha yang mengangkang di atas jok. Gaya itu membuatnya terlihat gagah bernyali.

Sayang Mela tak segera menjawab...

“Ya kan, Dek?” kembali Hafi menegaskan. Dia ingin kekasihnya sepakat bahwa itu adalah solusi yang tepat.

“Ah gak taulah, Kak...” jawab Mela lesu. Mela tahu jika kekasihnya tidak akan tertarik untuk membahas seruannya tadi. Seruan agar Hafi segera merencanakan diri untuk mencari pekerjaan yang mapan.

Hafi punya cara sendiri soal bagaimana dapat memenuhi kebutuhan hidup setelah dia mandiri. Cara itu adalah bukan dengan mencari pekerjaan, tapi dengan menciptakan pekerjaan. Mencari pekerjaan adalah sesuatu yang menakutkan bagi Hafi, dia tidak mau terjebak pada zona nyaman. Zona yang dapat membuat dirinya mandul, itu adalah keyakinannya. Padahal apa yang menjadi harapanya tidak sedangkal itu, mimpi-mimpi besar adalah targetnya.

Dia begitu yakin bahwa wujud yang diraih adalah tergantung dari kadar mimpi yang ditanam. Apa jadinya, jika keyakinan yang dia bangun, dengan susah payah membuang kesadaran lama yang menyesatkan, akan terhambur begitu saja, hanya gara-gara zona nyaman.

Zona yang akan dengan mudah mempengaruhi, dengan mengatakan ‘begini saja cukup, begini saja sudah bagus, begini saja kita bahagia, dan masih banyak lagi teman-temannya yang berserakan di otak’. Lalu jika itu yang terjadi, dikemanakan semua potensi diri, dan kehidupan besar yang menanti?

Bukankah mimpi adalah prasangka, dan bukankah Tuhan itu menurut apa yang disangka? Lalu kenapa memprasangkakan kehidupan dengan hal yang kecil, apakah tidak boleh jika memprasangkakan kehidupan ini dengan hal-hal yang besar?

“Hah... mimpi besar... pastinya otak dengan sadar akan mengatakan, ya karena memang segini kemampuan yang aku miliki. Jadi, tidak mungkin hal besar itu dapat aku capai.” Kalimat pesimis yang selalu Hafi lawan ketika berani mempengaruhi tekadnya, dengan menyadari bahwa kehidupan harus dipelajari. Bukankah banyak yang sudah membuktikan bahwa mimpi besar itu bisa terwujud?

Keluarga Al-Fatih-lah yang membawa pengaruh besar terhadap keyakinan Hafi, bahwa apa yang dia impikan pasti dapat terwujudkan. Cerita bagaimana keluarga Al-Fatih membuktikan mimpi dari seorang pemimpin besar umat. Tentang Kerajaan Persia yang pasti bisa ditaklukkan, dan itu hanya butuh pemimpin perang dengan usia 19 tahun.

Pada waktu itu pastinya otak sadar akan mengatakan, bagaimana mungkin Kerajaan Persia dapat ditaklukkan oleh pasukan yang dipimpin pemuda berusia 19 tahun? Padahal Kerajaan Persia berada pada puncak kejayaannya, dengan konsep pertahanan kota yang sukar untuk diruntuhkan oleh teknologi perang yang ada. Tetapi nyatanya hal itu benar-benar terwujud. Dan Al-Fatih mampu menaklukkannya di usianya yang belum genap 21 tahun.

Itulah mengapa Hafi tidak tertarik untuk membahas seruan Mela, yang menyarankannya untuk mencari pekerjaan. Ya, kehidupan mandiri memang segera akan dijalani. Itu akan Hafi mulai seperti apa yang dikatakan orang tuanya, bahwa dia harus mampu membiayai kehidupannya sendiri, setelah lulus kuliah atau telah mengambil keputusan untuk menikah.

Motor besar warna merah berkilau itu, masih merangkak tak bertenaga. Kedua penunggangnya juga dalam keadaan diam tak berkata. Wajah-wajah mereka tampak bagaikan patung di persimpangan jalan, yang baru saja mereka lalui. Sepertinya patung itu terbuat dari batu dengan tekstur yang amat getas. Sehingga para pemahat mengalami kesulitan untuk membuat rona wajah agar tampak indah berseri.

Motor besar yang seolah tak bertenaga itu, akhirnya sampai juga pada suatu tempat, yang tidak asing lagi bagi mereka berdua. Dengan perasaan lega, Hafi menghentikan motornya tepat di bangunan tanpa dinding, namun atap bangunan itu tetap mampu bertengger di udara dengan kokohnya. Berkat tiang-tiang kayu ulin khas Kalimantan yang terkenal kekokohannya itu. Dia tak akan pernah lapuk meski panas hujan menderannya.

Lebar atap seng hanya mampu menaungi satu motor saja, namun panjangnya ada yang lima puluh meter, hingga seratus lima puluh meter. Bangunan itu tersebar di sudut-sudut lokasi kampus, yang strategis untuk memarkirkan kendaraan.

“Adek langsung masuk ya, Kak? Ini sudah waktunya jam kuliah, untung belum telat.” Pinta Mela, sambil menunjukkan alrojinya pada Hafi.

Hafi sedikit tersentak mendengarnya, “Oh, hampir telat?!”

“Kakak sih tadi bawa motornya pelan banget, jadi Adek gak sempat ke kantin deh. Padahal Adek haus banget lho, Kak!” Mela mengusap kerongkongannya dengan tangan kanan.

“Ya sudah, masuk saja dulu, hausnya ditahan ya? Nanti jam istirahat kita ke kantin sama-sama,” Hafi menenangkan belahan jiwanya.

“Oke, Kak” Mela pun pergi dengan langkah cepat, sepatunya mendarat dengan keras pada tiap langkah yang dientakkan. Alunan kaki bertepuk merdu beriring pada setiap langkahnya. Memang jarak tempat parkir dengan ruang kelas Mela agak jauh, sehingga butuh waktu dua hingga tiga menit untuk sampai di sana. Hafi sempat lama memandangi Mela, yang berlagak bak model terkenal yang sedang catwalk itu. Mata Hafi fokus, tak sedikitpun terganggung oleh aktifitas mahasiswa lain di kanan kiri Mela.

Tidak berapa lama setelah Mela menghilang dari pandangannya, Hafi juga pergi meninggalkan tempat parkir tersebut. Namun dia menuju arah yang berbeda. Dia menyusuri deretan-deretan gedung. Mulai dari gedung jurusan, gedung rektorat, hingga beberapa gedung kuliah, semua telah berhasil Hafi lewati tanpa masalah. Hingga sampailah dia pada gedung yang berada tepat di belakang komplek kampusnya itu.

Di atas pintu masuk terdapat papan nama besar dengan banyak tulisan, namun ada satu kata yang jelas terlihat mata, “PERPUSTAKAAN”, itulah yang selalu terbaca oleh Hafi saat akan melintasinya. Ya, perpustakaanlah yang menjadi tujuannya saat ini.

Sebagai mahasiswa semester delapan, Hafi termasuk mahasiswa yang berprestasi. Tak ada mata kuliah yang menunggak. Jangankan menunggak, mata kuliah dengan nilai B, maksimal hanya ada dua yang bertengger di KHS nya –kartu hasil studi- di tiap semesternya. Di semester delapan ini dia harus menyelesaikan skripsinya. Jadi akhir-akhir ini Hafi pergi ke kampus hanya untuk mencari bahan, untuk bimbingan, atau terkadang hanya jalan-jalan saja.

‘Perintah’ calon mertuanya itu, sebenarnya membuat hati Hafi galau dan tertantang. Dia tertantang untuk membuktikan kalau dia takkan menelantarkan Mela bila kelak dipersuntingnya nanti. Namun takkan mungkin pula dia mempersunting seorang gadis bila belum berpenghasilan.

Di satu sisi dia memahami kegelisahan orang tua Mela, namun di sisi lain dia tertantang mempertahankan idealismenya. Sebagai pemuda dia harus mempunyai prinsip yang kuat, yang tak mampu digugat siapa pun.

Ah, baiklah... berarti dia harus menyelesaikan skripsinya sesegera mungkin!

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Siang Itu - Cerita Fiksi Inspiratif "Hasrat Meraih Mimpi" #1"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel