Asa di Barak Hafi - Cerita Fiksi Inspiratif "Hasrat Meraih Mimpi" #3

Asa di Barak Hafi - Cerita Fiksi Inspiratif "Hasrat Meraih Mimpi" #3

Asa di Barak Hafi

Mampukah dia mempertahankan prinsipnya? Hafi tahu, tak mudah menjalani prinsipnya, apalagi dia masih hijau, miskin pengalaman. Pasti itulah nanti yang akan dikatakan calon mertuanya. 

-----------------------------
Bagian 1: Cerita Fiksi Inspiratif dengan judul HAFI - "Hasrat Meraih Mimpi", terbit setiap hari senin. Untuk menuju halaman Daftar Bagian Cerita atau Bagian 2.. Selamat menikmati...
-----------------------------

DI kota Sangatta Hafi tinggal di rumah barak. Dia menyewanya seharga 700 ribu rupiah per bulan. Barak itu dia tinggali bersama temannya. Bayar sewanya mereka bagi berdua, masing-masing 350 ribu rupiah per bulan. Keadaan itu terpaksa harus Hafi lalui, sebab orang tua Hafi tidak bermukim di kota Sangatta. Mereka tinggal di desa yang berjarak kira-kira 200 km dari kota Sangatta. Hafi pergi ke kota Sangatta, ibu kota Kabupaten Kutai Timur, untuk melanjutkan pendidikannya ke perguruan tinggi. 

Umumnya, barak di kota Sangatta adalah sebuah bangunan memanjang yang disekat-sekat ke beberapa bagian. Nah bagian-bagian itulah yang disewakan dengan harga 700 ribu rupiah, atau bahkan lebih. Biasanya masyarakat menyebut bagian-bagian itu dengan sebutan pintu. Jadi kalau ada rumah barak yang terdiri dari tiga bagian, maka orang-orang menyebutnya ‘barak tiga pintu’, kalau terdiri dari lima bagian disebutnya ‘barak lima pintu’, begitulah istilahnya. 

Hafi tinggal di barak lima pintu. Kebetulan dia dapat pintu nomor tiga. Letaknya tepat berada di tengah-tengah. Tetangga kanannya, Pak Dimas, sedang yang kiri Pak Hadi. Pemilik barak yang Hafi sewa sangat memperhatikan fasilitas-fasilitasnya. Seperti misalnya air, listrik, serta perawatan-perawatan kecil lainnya. Ditambah lagi lokasi barak yang berada di tempat strategis, sehingga mereka pada betah menyewanya. Contohnya saja Pak Dimas, padahal tempat kerjanya yang sekarang lebih jauh dari baraknya, namun tetap saja dia bertahan di barak itu. Hubungan mereka yang tinggal di barak semakin lama semakin akrab. 

Semua penyewa di barak lima pintu itu telah berkeluarga, kecuali Hafi dan temannya. Banyak senangnya hidup berdampingan dengan mereka, sering diantari makanan, sayur, diajak ngopi, dan lain-lain. Tapi ada satu hal yang membuat Hafi iri dan jengkel, yaitu saat tidak bisa balas NGEBOOM, alias buang angin. Padahal ingin sekali dia melakukannya. Tapi dia merasa kurang beretika bila membalas dendam. 

Maklumlah, karena baraknya dibangun dengan menggunakan material kayu dan sekat antar bagian hanya menggunakan playwood, jadi suara-suara yang terdengar tak mampu teredam. Termasuk suara... buang angin, alias kentut! 

Di pagi hari, Hafi sering dengar Pak Dimas dan Pak Hadi saling serang, “Doutttt....” suara dari kamar Pak Dimas. Beberapa menit kemudian Pak Hadi membalasnya, “Brettt...t..t..tttt....” ah begitu mereka bergantian saling serang. Inilah yang membuat Hafi iri, karena tak bisa ikut bermain. 

Yang kurang ajar itu Ali, sahabat Hafi. Pernah sekali Pak Dimas dikerjai. Waktu itu Ali menginap di barak Hafi. Ketika pagi tiba, dingin masih mencekam, sebab malamnya terguyur hujan. Saat Ali mendengar Pak Dimas berdehem, tanpa basa-basi Ali langsung melempar tanya, “Pak Dimas, mana ini BOM nuklirnya kok belum diledakkan?” teriak Ali dari kamar Hafi. Soal bom-boman itu Ali sudah tahu dari pengalaman-pengalamannya saat menginap di barak Hafi. 

Ali memang akrab dengan Pak Dimas, mereka sering kali bercanda berdua. “Tunggu bentar, Li, aku pompa dulu!” sahut Pak Dimas. “Bup... bup... bup...” terdengar suara perut digebuk-gebukinya. Tiga detik kemudian, satu, dua, tiga, “Bruetttt...t.t.t.t.t.t.t... prettttt!” 

“Huak... huak... huak!” Ali, Hafi, Ijul, dan Pak Dimas sendiri juga ikut tertawa terbahak. 

“Mantap, Pak Dimas... kayaknya itu harus pake cebok deh?!” umpan Ali. 

“Iya, Li, ini ada yang ikut keluar.” 

Hahaha... kembali mereka tertawa. 

Saat Hafi mengkritik perilaku Ali, sahabatnya itu membela diri, katanya tidak apa silaturahim dengan canda. Yang penting jangan sampai menyinggung dan melukai perasaannya. 

Senja ini usai Hafi mengantar Mela, kemudian rapat dengan Uda, dia pun langsung balik ke barak untuk beristirahat, setelah itu berencana akan melanjutkan skripsinya. Biasanya di sore hari, keadaan relatif aman terkendali tanpa ada serangan bom nuklir yang mengerikan itu. 

Tak terasa waktu berlalu dengan cepat. Detik demi detik terlewati, menit ke menit pun terlalui, hingga jam di sudut kanan bawah layar laptop Hafi bertuliskan pukul 22:00. Angka yang menandakan bahwa malam telah larut. Meski begitu tetap saja pemiliknya sibuk dengan pekerjaannya. Tumpukan buku dan keyboard laptop tetap asyik dia mainkan. 

“KOPERASI DAN PEREKONOMIAN....” bacanya terputus. 

Kemudian dia menekan-nekan keyboard. Muka serius dan fokus mengiringi aktifitasnya. Sering kepalanya dia angkat, memandang dinding dengan tatapan kosong. Bukan untuk membaca atau menangkap sesuatu. Biasanya seseorang melakukannya untuk menemukan ide di otaknya. Begitu juga yang Hafi lakukan. Setiap kali dia selesai memandang dinding, dia lalu mengetik lagi dengan lancar. Hafi melakukan ritual itu berulang-ulang. 

Paragraf pendek berhasil Hafi selesaikan, dia baca ulang. Memastikan apakah kalimat telah tersusun dengan tepat. 

“Budaya gotong royong-kolektivitas-yang telah ada sejak lama, dan diwariskan turun-temurun oleh nenek moyang kita, seharusnya kita jaga dan pertahankan. Ini adalah usaha melawan individualisme yang terus menjangkiti anak negeri. Tetapi kita juga tidak ingin kolektivitas yang statis dan tradisional. Alangkah baiknya jika kolektivitas itu bersifat dinamis dan menuju pada kemajuan. Usaha bersama dengan asas kekeluargaan yang dianut koperasi, tampaknya mampu mempertahankan budaya dan menjawab hasrat modernisasi.” 

“Oke mantap” gumamnya. Lalu dia bangkit, entah apa yang akan dilakukannya, yang jelas dia berjalan ke arah dapur. 

Hitungan menit di laptop Hafi terus bertambah. Saat dia ke dapur, terlihat angka sepuluh, kini ketika dia muncul kembali, angka telah bertambah menjadi tujuh belas. Berarti tujuh menit Hafi telah menghabiskan waktunya di dapur. Hafi muncul dengan menenteng gelas yang mengepulkan asap panas. Aroma khas pembangkit mata, semerbak menusuk hidung. Hem, betapa nikmatnya kopi itu. 

“Sruppp... ah... mantap,” Hafi menyeruput kopinya. Mata Hafi yang tadi mulai sayu, kini bangkit lagi dengan pancaran sinar terangnya. “Srupp... ah... benar-benar mantap,” kembali dia menikmatinya. Setelah itu gelas kopi dia letakkan di sisi kanan laptop. Tempat yang terbebas dari tumpukan buku dan peralatan tulis. 

Hafi kembali mengetik dan berjibaku dengan buku-buku yang dia pinjam dari perpustakaan kampus. Energi baru yang dia dapatkan dari kopi, membantunya fokus dan memperlancar menemukan gagasan-gagasan yang ada dalam buku, gagasan yang dia gunakan sebagai pendukung teori tugas akhir kuliahnya itu. 

“Uinggg... uinggg... uinggg...!” dering ponsel Hafi, nada angry birds kesukaannya. Aktivitas mengetik pun dihentikan. Dia segera mengambil ponselnya yang berada di antara tumpukan buku-buku referensi. Ada satu pesan dari Mela. 

“Kakak besok siang disuruh ke rumah sama Ayah.” 

Singkat saja. 

Hafi pun membalasnya,”Ada apa, Dek?” 

Tidak lama kembali ponsel Hafi berbunyi. 

“Aku juga gak tahu Kak. Yang penting besok datang aja, Ayah cuma bilang begitu.Aku gak berani tanya.” 

Kegelisahan merambati wajah Hafi. Mengapa gerangan Ayah Mela meminta untuk bertemu. Apakah dia sudah tahu kalau dirinya telah berencana akan menemuinya? Untuk menyampaikan tekadnya mendampingi Mela dengan cara yang telah dipilihnya. 

Meskipun Hafi merasa konsepnya telah matang, tetap tak membuatnya tenang. Perasaan gelisah masih saja merasukinya, hingga mempengaruhi semangat bekerjanya malam itu. Buku-buku dia rapikan ke dalam tas. Lalu dia menekan tombol ctrl + s pada keyboard laptop. Setelah itu laptop dia matikan. Meski segelas kopinya masih menyisakan setengah, dia tak peduli. 

Sambil berbaring Hafi mengakses facebook. Mengalihkan suasana hati yang kacau. Membaca status facebook teman mungkin membantunya sedikit meredakan kekacauan itu. 

Hafi tersenyum kecil, dia membaca status temannya sekali lagi, “Ya... Allah, jika dia bukan jodohku. Maka jangan berikan dia jodoh selain aku.” 

“Ah... ada-ada saja kelakuan orang untuk menghibur diri. Itu namanya meminta solusi masalah dengan masalah,” Hafi memberikan komentar di bawah status itu. 

Suasana hati yang sedikit terhibur membantunya melayangkan pikir. Kadang muncul bayangan hidup di luar kehendaknya. Semakin lama bayang itu semakin menguasainya. Hingga tidak memberi kesempatan padanya untuk ikut berencana. 

Saat kelopak matanya siap menutup rapat, bayangan-bayangan menegangkan perjumpaan dengan Ayah Mela bermunculan. Berbagai kemungkinan dan praduga saling melesak masuk dalam kepalanya. 

Bagaimana kalau Ayah Mela memaksanya mencari pekerjaan? Mampukah dia mempertahankan prinsipnya? Hafi tahu tak mudah menjalani prinsipnya, apalagi dia masih hijau, miskin pengalaman. Pasti itulah nanti yang akan dikatakan calon mertuanya. 

“Ah, sial! Bikin gak bisa tidur saja itu bayangan,” Hafi mengeluh. 

Dia membolak-balik tubuhnya di atas kasur. Namun terus ketegangan merayap. Dia mencintai Mela dan ingin mempersuntingnya, namun keinginan calon mertuanya sulit dia penuhi. “Ah, bagaimana nanti saja!” Hafi berusaha memejamkan matanya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Asa di Barak Hafi - Cerita Fiksi Inspiratif "Hasrat Meraih Mimpi" #3"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel