Biar Mimpiku Yang Bicara - Cerita Fiksi Inspiratif "Hasrat Meraih Mimpi" #2

Biar Mimpiku Yang Bicara - Cerita Fiksi Inspiratif

Biar Mimpiku Yang Bicara

Andai engkau telah benar mengenalku, pastilah engkau paham, mengapa aku harus berbuat seperti itu. Aku ini selalu siap untukmu, tapi bukan untuk cinta yang semu. Aku mau cinta yang kuat, memikul kita menjadi besar dan mampu menebar banyak manfaat. 
-----------------------------
Bagian 1: Cerita Fiksi Inspiratif dengan judul HAFI - "Hasrat Meraih Mimpi", terbit setiap hari senin. Untuk menuju halaman Daftar Bagian Cerita atau Bagian 1.. Selamat menikmati
----------------------------


“AKU di Gazebo, kalau sudah selesai kuliahnya ke sini ya? Aku sudah belikan minum untuk kamu.” Isi pesan Hafi yang baru saja Mela terima. 

“Ok, Kak.... bentar ya, 5 menit lagi,” balas Mela. 

Gazebo itu bangunan segi empat tanpa dinding, namun diberi pagar setinggi lima puluh senti meter, dengan luas delapan meter persegi dan ada juga yang empat meter persegi. Tempat itu biasa digunakan mahasiswa untuk kongkow-kongkow, diskusi, baca buku, internetan, atau bahkan acara-acara resmi. Mereka selalu berujar: berada di gazebo sama dengan berada di surga. 

Persis dengan cerita tentang surga yang sering mereka dengar. Duduk bersimpuh dan bersandar di pagar, kemudian melempar pandang ke arah luar. Menyaksikan riak kecil air rawa nan jernih kehitaman, dihiasi beragam jenis ikan yang terus saja berlalu-lalang, tanpa kenal takut pada orang, membuat betah berlama-lama memandang. Bersantai di tempat itu benar-benar bisa membuat perasaan jadi tentram dan nyaman. 

Hafi yang sedang berada di tempat itu pun merasakan ‘surga’ itu. Ditambah dia tengah menanti sang kekasih pujaan hati. Serasa bertambah indah dunia dirasanya. 

“Sudah lama, Kak di sini?” sebuah suara lembut menyapanya. 

Hafi menoleh dan seulas senyum langsung bertengger di bibirnya. 

“Belum, ya waktu aku SMS Adek tadi itu,” jawabnya pada Mela. “Aku tadi habis baca buku di perpus, pas aku lihat jam, eh ternyata sudah mau jam istirahat. Jadi aku sudahi dan langsung pergi ke kantin. Aku lihat dari kantin Gazebo kosong. Makanya langsung saja aku ke sini, sekalian bawain minuman untuk Adek,” Jelas Hafi panjang lebar. 

Mela duduk di sisinya. Hafi membuka tutup botol minuman yang telah dibelinya, kemudian menyodorkannya kepada Mela. 

“Ini Adek minum dulu, katanya tadi haus,” pinta Hafi. Tangan Mela meraih botol minuman itu dengan lembut. 

“Makasih, Kak,” ucapnya dengan wajah berbinar. 

Tidak perlu menunggu aba-aba lagi, langsung saja Mela membanjiri tenggorokannya dengan minuman teh dingin itu. Suasana wajah Mela yang awalnya kering dan tandus, kini tergantikan dengan pancaran kesegaran, hingga mampu menambah keindahan kelopak pipi merah delima miliknya. 

Wajar saja jika Mela begitu sensitif dengan udara panas. Dia adalah gadis rumahan yang tidak mampu bertahan lama berpanas-panasan. Sungguh Hafi tadi begitu tega menjemurnya, di sepanjang jalan. Konsentrasi tak terfokuskan membuatnya harus berkendara dengan pelan. Hafi sendiri tidak masalah, dengan panasnya kota Sangatta, yang luar biasa itu. Karena kulit lelakinya lebih kuat menahan. Sangat berbeda dengan Mela. Apalagi saat di jalanan banyak debu yang beterbangan. Tanpa kenal ampun menyerang siapa pun yang ada di dekatnya. Meski dia adalah gadis cantik seperti Mela. Maklum, Sangatta kota baru. Masih dalam tahap peningkatan fasilitas umumnya. 

“Bagaimana Kak, dengan keinginan Ayah?” suara Mela memecah keheningan sesaat, di antara mereka. Hafi sedikit menyodorkan kepala ke depan, menatap bingung wajah Mela, “Keinginan apa, Dek?” sahutnya tak mengerti. “Itu lho Kak, Ayah minta agar kita segera menjalin hubungan yang sah.” 

“Emm itu... aku sih siap, kapan pun Ayah Adek mau. Soal bagaimana aku mencukupimu, Adek tidak perlu khawatir, aku akan berusaha dengan kerja keras. Tapi jangan paksa aku melakukan keinginan ayahmu, ” ucap Hafi penuh keyakinan. 

“Tapi masalahnya Ayah yang tidak siap, Kak!” timpal Mela. 

“Lah, kok malah Ayah Adek yang tidak siap? Bukannya dia yang mau agar kita segera menikah?” 

Mela menarik napas panjang. “Iya benar, bagaimana mungkin Ayah bisa siap menerima kalau Kakak tetap mempertahankan prinsip?!” jelas Mela memberikan alasan ketidaksiapan orang tuanya. 

“Tapi apakah Adek yakin dengan prinsip Kakak?” tanya Hafi memastikan, bahwa Mela tetap berada pada pihaknya. “Adek yakin dengan sepenuh hati, Kak!” 

Hafi memperhatikan garis-garis wajah Mela. Mencari kepastian di sana. Wajah kekasihnya itu menegang, seperti menantang untuk membuktikan kesiapannya menerima prinsip kekasihnya. Hafi menarik napas lega.... 

Keyakinan Mela bukanlah keyakinan yang mengambang. Keyakinan itu dia peroleh setelah melakukan kajian-kajian mendalam, terhadap buku-buku tentang motivasi yang bernuansa religi ataupun umum. 

“Wah, kalau itu masalahnya, berarti aku harus meyakinkan Ayah Adek... bahwa aku pasti bisa memberikan kehidupan yang layak. Bukan soal bahwa kita salah dalam menjalin asmara yang belum diikat dengan sah ini. Iya, kan?” Hafi coba menyimpulkan masalah yang mereka hadapi. 

“Itu artinya kapan kita harus menikah bukan menjadi soal, iya kan?” Hafi ingin menegaskan, karena Mela tak bersuara. “Baiklah aku akan segera menemui mereka, bagaimana?” 

Mela masih terdiam. 

Hafi mulai gelisah karena kekasihnya tak kunjung mengeluarkan kata-kata. Dia mencoba memahami keadaan, mungkin Mela sedang menimbang antara keinginan orang tuanya dan tanggapan-tanggapan yang Hafi berikan. Ketika akhirnya Mela malah menunduk, Hafi mengalah dan membiarkan kekasihnya itu terdiam. Dia tidak memaksanya agar menyetujui apa yang baru saja dia simpulkan. 

Dalam hatinya Hafi bertanya-tanya, apa makna di balik diamnya Mela. Perempuan memang begitu, kalau bingung memilih diam. Diam yang sulit ditebak. Diam yang menyebalkan, membuat lelaki salah tingkah dan merana. 

Oh, Mela... bicaralah.... 

Apakah mungkin diamnya itu tanda bahwa Mela sulit menolak atau pun setuju dengan pendapatnya? Hafi bertekad akan berusaha meyakinkan calon mertuanya, bahwa tak ada yang perlu dikhawatirkan tentang kemampuannya memberikan kehidupan yang layak pada putrinya. 

Tapi melihat diamnya Mela yang semakin membuatnya salah tingkah, keyakinan Hafi perlahan memudar. Dalam diamnya, tampak gurat-gurat yang sulit Hafi tafsirkan, meski bila dia memaksakan diri menafsirkan makna diam tersebut, rasanya seperti ada ketakutan yang amat kuat, yang membebani jiwa kekasihnya. 

Hafi pun tak mau mengganggunya, justru dia malah ikut terlarut dalam diamnya Mela.... 

Dengan gerakan nan elok, Hafi memutar tubuhnya hingga tak lagi saling bersitatap dengan kekasihnya. Pria berwajah tampan itu tak tahan jika harus terus-menerus menatap wajah yang mulai suram. 

Mela andai engkau telah benar mengenalku, pastilah engkau paham, mengapa aku harus berbuat seperti itu. Aku ini selalu siap untukmu, tapi bukan untuk cinta yang semu. Aku mau cinta yang kuat, memikul kita menjadi besar dan mampu menebar banyak manfaat. 

Saat tubuhnya membelakangi Mela, sekumpulan ikan tertangkap oleh mata Hafi. Mereka timbul tenggelam bergantian, bagaikan grup tari yang sedang unjuk gigi. Menggoyang-goyangkan ekor dan siripnya, menari serasi menghibur hati. Lirikan bola mata Hafi bergerak mengikuti gerak-gerik tarian mereka yang menyejukkan itu. Melihat kekasihnya menemukan sesuatu, Mela pun mengikuti arah pandangnya, berharap juga dapat menemukan kesejukan mata dan batinnya. 

Cukup lama mereka hening dalam tarian makhluk air.... 

Hingga langkah-langkah mahasiswa yang mulai berlalu-lalang mengusik ketenangan mereka. Para mahasiswa itu berjalan menuju bangunan berkubah khas arsitektur timur tengah, yang berada sekitar lima puluh meter dari tempat mereka sekarang. Namun usikan tersebut toh menyadarkan sesuatu bagi mereka. Suatu kewajiban yang harus mereka tunaikan segera. 

Hafi melirik arlojinya. “Sudah Ashar Dek, ayo kita sholat dulu,” ajaknya. “Setelah itu aku antar pulang. Aku setelah Ashar nanti ada pertemuan dengan Uda,” lanjut Hafi mengutarakan rencananya setelah mereka usai sholat nanti. 

“Mata kuliah cuma satu kan?” tanya Hafi memastikan. 

“Iya Kak, cuma satu.” 

Mereka berdua mulai berjalan menuju mushola dan berwudhu. Hafi berjalan lebih dulu di depan Mela, layaknya pengawal yang sedang menyisir jalan, agar sang putri sampai tujuan dengan aman. Selesai dengan wudhunya, Hafi tak lagi mempedulikan Mela. Dia langsung saja menuju dalam mushola dan bergabung dengan mahasiswa lain untuk berjamaah. 

Selesai sholat mereka langsung meninggalkan kampus, menuju rumah Mela. 

***

“Aku langsung saja ya?” Hafi pamit, ketika Mela telah turun dari motornya. 

“Tidak masuk dulu, Kak?” cegah Mela. “Apa sekarang Ayah Mela ada di rumah? Kalau gak ada mending aku langsung. Gak enak, nanti Uda nungguin aku,” tolak Hafi. 

Oh benar, Mela baru ingat kekasihnya sedang ada janji dengan Uda. Tadi Hafi memberitahunya kalau mereka akan mengadakan kegiatan seminar wirausaha. 

“Ayah masuk kerja siang. Oke, Kak... gak apa kalau gitu Kakak langsung saja. Hati-hati ya, Kak?” akhirnya Mela tak memaksa. 

Hafi mengacungkan ibu jarinya dengan mantap. Dia pun pergi meninggalkan Mela yang masih berada di halaman rumahnya. Mela tak langsung beranjak masuk ke rumahnya, dia ingin memastikan kekasihnya itu selamat, hingga lenyap dari penglihatannya. 

Ah, tampan sekali kekasihnya itu. Hidung Mela kembang kempis, pupil matanya melebar. Rasa bangga menyusupi relung hatinya. Tak hanya satu, dua gadis di kampusnya yang menyukai Hafi. Beruntunglah dia terpilih. 

Dalam hatinya, sebuah harapan besar berlabuh. Mela berangan-angan kekasihnya itu mampu meyakinkan ayahnya. Mela berharap ayahnya mengerti idealisme dan gejolak muda mereka berdua sehingga memberikan restu. 

Kak Hafi... berjuanglah untukku.... untuk kita.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Biar Mimpiku Yang Bicara - Cerita Fiksi Inspiratif "Hasrat Meraih Mimpi" #2"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel