Patriarki, Akhirnya Harus Memilih - Cerita Fiksi Inspiratif "Hasrat Meraih Mimpi" #5

Patriarki, Akhirnya Harus Memilih - Cerita Fiksi Inspiratif


Patriarki, Akhirnya Harus Memilih

Harus percaya akan meraih mimpi-mimpinya pada suatu ketika nanti. Tapi itu semua memerlukan proses. dan Proses sangat melelahkan pastinya.
-----------------------------
Bagian 1: Cerita Fiksi Inspiratif dengan judul HAFI - "Hasrat Meraih Mimpi", terbit setiap hari senin. Untuk menuju halaman Daftar Bagian Cerita atau Bagian 4.. Selamat menikmati...
-----------------------------


DI rumah Mela...

“Sini, La, Ayah mau bicara. Gak ada kerjaan kan? Hafi tadi sudah datang.” Ayah Mela duduk di sofa, ditemani segelas kopi dan buku saku yang sedang dipegangnya.

Mela baru pulang dari acara syukuran teman sekelasnya. Di sana dia membantu membereskan sisa-sisa acara, karenanya tadi siang dia tak bisa menemani kekasihnya. Ternyata Hafi benar-benar datang. Dia tidak memberikan kabar kepadanya.

“Terus gimana, Yah?” Segera Mela menyela, tak sabar ingin tahu kabar. Padahal dia baru saja beranjak beberapa langkah dari pintu masuk rumahnya.

“Sini duduk dulu di dekat Ayah,” buku saku kecil diletakkan di atas meja. Mela mengambil posisi duduk, tepat berada di depan ayahnya.

“Kalau Ayah perhatikan, sepertinya dia memang anak baik-baik. Memang di awal Ayah bicara dengannya, dia masih bersikeras mempertahankan prinsipnya. Setelah Ayah terus menasihatinya, dia diam dan hanya manggut-manggut saja. Tapi Ayah masih gak yakin kalau dia itu bisa menerima saran-saran Ayah tadi. Sebenarnya apakah salah, kalau Ayah ini mengkhawatirkan kehidupan anaknya?”

Mela membisu....

Ayah Mela ingin anaknya ikut berpikir tentang masa depannya bersama Hafi, agar nantinya mereka dapat menikmati hidup yang indah dan bahagia.

“Kalau orang disuruh milih, maka apa yang dipilih?” lanjut Ayah Mela.

“Yang terbaik, Yah?” sahut Mela.

“Menurut Mela, Hafi adalah yang terbaik, ya kan?” timpal Ayah Mela penuh keyakinan.

“Iya dong, Yah!” Mela membenarkan pernyataan ayahnya.

Hati Mela berdebar-debar tak menentu. Apakah maksud pembicaraan ayahnya itu? Apakah Ayah telah menerima Hafi?

“Bisakah Ayah minta sesuatu, La?”

“Apa itu, Yah? kalau Mela sanggup pasti Mela laksanakan.”

“Bukannya Ayah tidak sabar menunggu bukti yang Hafi janjikan. Tapi masalahnya ada teman Ayah yang menanyakanmu!”

Mela tersentak. Tentu dia paham mengarah ke mana pembicaraan itu.

“Maksudnya, teman Ayah melamarku?” tanya Mela tegang.

“Iya, dia mengajukan anaknya. Ayah tahu ini pasti berat buat Mela, karena memang belum tahu orang dan kepribadiannya. Ayah tidak bisa menolaknya tanpa alasan. Biar bagaimanapun dia harus diberi hak dan kesempatan. Apalagi dia adalah teman dekat Ayah.”

Ayah Mela ingin bersikap adil dalam hal ini, karena ini menyangkut masa depan anaknya. Dia tak mau Mela salah pilih dan tak jelas mau ke mana arahnya.

Kebaikan dan keseriusan Hafi tidak lantas membuat Ayah Mela yakin pada pemuda itu. Sebenarnya... Ayah Mela percaya Hafi akan meraih mimpi-mimpinya suatu ketika nanti. Tapi itu kan memerlukan proses. Proses yang melelahkan pastinya. Seorang ayah di mana pun pasti tak ingin anak perempuannya menderita. Andaikata Hafi mengikuti sarannya, mencari pekerjaan dulu sambil menggapai mimpi-mimpinya, pastilah dia tak perlu berpikir dua kali untuk merelakan Mela menikah dengan pemuda itu.

Ayah Mela juga merasa tak enak hati kepada anaknya itu. Urusan hati taklah mudah dipindahkan begitu saja. Namun, dia juga tak enak dengan kawan dekatnya itu bila langsung menolak. Posisinya serba salah.

“Kenalan saja dulu Mela, namanya jodoh kita tak pernah tahu.”

Dada Mela tiba-tiba sesak hingga membuatnya seolah sulit bernapas. Matanya mulai digenangi oleh buliran-buliran air cinta. Di pipinya air itu mengalir hingga meluber dari genangan yang tak mampu lagi menampungnya.

Kata-kata ayahnya memberi isyarat untuk membuka hatinya. Bukankah ini merupakan penghianatan terhadap cinta? Apakah dia mampu melakukan? Tetapi jika menolaknya, Mela takut jalan cintanya dengan Hafi sulit mendapat restu sang ayah. Karena ayahnya akan mengira semua itu atas pengaruh Hafi. Nanti nama lelaki itu semakin jelek di mata ayahnya.

“Mengapa itu yang Ayah minta? Hiks,” Mela terisak.

“Tidak usah mikir yang aneh-aneh. Ikuti saja permintaan Ayah. Kamu pikir Ayah nggak bingung menghadapi persoalan ini? Makanya Ayah harap Mela bisa mengerti. Kan Ayah melakukannya semata untuk kebaikanmu kelak. Hanya kenalan saja apa susahnya?” Jelasnya, menentramkan pikiran kalut Mela.

Kemudian Ayah Mela menceritakan panjang lebar tentang anak temannya itu. Mulai dari jalur keturunan, prestasi-prestasinya, perilaku, dan gambaran masa depan yang cerah. Tidak lupa juga dia menyisipkan kalimat yang terkesan membandingkannya dengan Hafi.

Sementara itu, Mela bertahan pada kesedihannya. Dia terisak sepanjang ayahnya bercerita. Ayahnya bukan tak memahami rasa duka yang melanda anaknya. Namun dia membiarkan tangisan itu dan terus bercerita.

Sesungguhnya dia memahami perasaan putrinya. Butuh waktu untuk mengatasinya. Sebagai orang tua, dia sebetulnya bisa memaksakan kehendak. Tapi itu bukanlah tindakan tepat. Memaksakan dua orang yang saling mencintai untuk berpisah adalah tindakan penuh risiko. Apalagi anaknya perempuan.

Banyak kasus di luar sana, mereka yang dipaksa berpisah padahal saling cinta, berbuat nekad. Entah kabur, melakukan perbuatan kotor, bahkan bunuh diri.

Hiii... merinding membayangkannya.

Ketika ceritanya usai, didekati putrinya itu. Diusapnya bahu anak perempuannya itu beberapa kali dengan penuh kasih.

“Sabarlah, Nak. Bantu Ayah memutuskan yang terbaik untukmu,” nada suaranya merendah.

Isakan Mela semakin menyayat hati mendengar permintaan memelas ayahnya.

Mela menyadari keputusan ayahnya adalah untuk kebaikannya. Mela merasakan aliran kasih sayang yang mendalam saat bahunya diusap tadi. Dia merasakan getaran luar biasa yang mengalir dari telapak tangan ayahnya, kemudian menjalar ke seluruh tubuhnya. Ada perasaan sejuk dan tenang menyertai getaran itu. Ayah... aku tahu ini untuk kebaikanku... tapi bagaimana caranya aku membantumu? Aku bingung, Ayah....

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Patriarki, Akhirnya Harus Memilih - Cerita Fiksi Inspiratif "Hasrat Meraih Mimpi" #5"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel