Tak Semudah Itu - Cerita Fiksi Inspiratif "Hasrat Meraih Mimpi" #4

Tak Semudah Itu - Cerita Fiksi Inspiratif "Hasrat Meraih Mimpi"

Tak Semudah Itu

Aku takkan pernah membiarkan hidupku dipermainkan. Makanya aku punya mimpi besar. Itulah caraku untuk tidak dipermainkan oleh kehidupan!

-----------------------------
Bagian 1: Cerita Fiksi Inspiratif dengan judul HAFI - "Hasrat Meraih Mimpi", terbit setiap hari senin. Untuk menuju halaman Daftar Bagian Cerita atau Bagian 3.. Selamat menikmati...
-----------------------------


“BAGAIMANA Nak Hafi, sudah mengerti maksud Bapak? Bapak percaya, pemuda dengan kemampuan seperti Nak Hafi ini banyak yang membutuhkan. Jadi mudahlah untuk dapat pekerjaan,” puji Ayah Mela. Sebuah teknik yang baik dalam mengawali pembicaraan.

Hafi tersenyum sedikit, kemudian mengangguk. “Saya paham sekali maksud Bapak. Tapi... maaf, Pak, saya memegang teguh keyakinan akan mimpi besar saya. Saya bertekad mewujudkannya!” Hafi berkata dengan gagah. Matanya dia tancapkan pada mata calon mertuanya. Penuh keyakinan namun tetap santun.

Ayah Mela terlihat menarik napas singkat sebelum menjawab. “Iya, tapi sampai sekarang itu kan belum ada wujudnya. Berapa lama lagi Mela dan Bapak disuruh menunggu?”

“Begini, Pak, sebenarnya saya ini siap kapan saja untuk mengikat hubungan saya dengan Mela agar menjadi halal.”

Ayah Mela memotong ucapannya, “Masalahnya bukan hanya terletak pada kesiapan diri, Nak Hafi. Tapi banyak hal. Salah satunya kebutuhan hidup. Bagaimana cara Nak Hafi akan memenuhinya nanti? Semua itu tidak mudah.”

“Benar, Pak.”

“Iya memang seperti itu Nak, jadi tidak salah jika Bapak ini memintamu untuk mempersiapkan diri.”

Hafi mulai salah tingkah. Dia merasa tersudut. Dia menyandarkan tubuhnya ke sofa agar lebih nyaman. Ada sekelumit amarah berdesir dalam dadanya karena dia merasa tampak lemah di hadapan Ayah Mela. Dia tak rela.

“Mengapa saya berani menikah kapan pun, meski tanpa harus mempertimbangkan kemampuan yang saya miliki, itu karena saya tidak meragukan janji Allah, bahwa Dia akan memampukan saya dengan karunia-Nya. Begitu, Pak!”

Terdengar klise? Masa bodoh!

“Hem... Bapak juga tidak meragukan hal itu. Yang Bapak ragukan adalah mimpi besarmu. Mela sudah cerita pada Bapak tentang mimpi-mimpimu dan bagaimana cara-cara kamu dalam menggapainya nanti. Maksud Bapak... apakah tidak lebih baik Nak Hafi cari pekerjaan dulu, sambil mewujudkan mimpi besarmu itu?”

Hafi menggeleng. “Sepertinya tidak bisa disambi seperti itu, Pak. Karena saya takut terjebak, begitulah pemahaman saya.”

Ayah Mela menarik napas panjang. Dasar anak muda! Idealis tapi tidak realistis!

“Begini Nak Hafi... Bapak paham mimpi besarmu. Tapi itu kan butuh proses. Sementara hidup harus realistis. Apa yang bisa membuat Bapak yakin, bahwa Nak Hafi sanggup memberikan kehidupan layak kepada Mela?”

Hafi membisu.

Ayah Mela kemudian memberi gambaran tentang bagaimana mengarungi kehidupan ini. Berharap pemuda yang mencintai putrinya dapat berpikir dan bertindak realistis, seperti harapannya. Kehidupan setelah menikah bukanlah kehidupan yang gampang. Mengarungi kehidupan nyata tidak semudah mengarungi dunia mimpi. Tidak boleh asal-asalan.

Hafi hanya mengangguk-anggukan kepala untuk sekadar menghargai nasihat calon mertuanya. Tetapi prinsipnya telah begitu kuat tertancap dalam jiwanya.

Prinsip yang sebenarnya juga realistis, jika itu dilihat dari sudut pandang yang benar. Menggunakan sudut pandang Ayah Mela untuk melihatnya, jelas itu merupakan kesalahan besar. Karena itu adalah prinsip untuk menggapai kehidupan-kehidupan yang besar. Bukan kehidupan yang banyak dilalui sebagian besar orang. Hafi tidak mau terjerumus dalam zona itu. Dia menginginkan dirinya lebih besar dan dapat memberikan manfaat, bagi orang di sekitarnya atau bahkan semua orang yang membutuhkan.

Ayah Mela terus memberikan nasihatnya.

Hafi masih tak mau berkata apa-apa...

Terasa jurang semakin menganga karena orang tua Mela tidak akan pernah bisa menerima prinsip yang dia pegang. Seperti mungkin dirinya yang juga tidak bisa dengan mudah menerima prinsip mereka.

Karena pemuda di hadapannya diam saja, Ayah Mela menyangka Hafi telah mengerti maksudnya. Dia pun beralih topik, “Sekarang kuliahmu bagaimana?”

“Tinggal menyusun skripsi, Pak, sudah mau selesai.”

“Bagus dong, segera diselesaikan ya. Kalau sudah selesai kamu kan bisa langsung berpindah pada pekerjaan yang lain!”

“Iya Pak.”

“Mudah-mudahan lancar.”

“Terima kasih, Pak.”

“Begitu ya Nak Hafi. Tolong nasihat Bapak tadi kamu renungkan baik-baik. Jangan main-main dengan kehidupan ini. Jika kita tidak mau dipermainkan olehnya.”

Hati Hafi berteriak kencang.

Aku takkan pernah membiarkan hidupku dipermainkan. Makanya aku punya mimpi besar. Itulah caraku untuk tidak dipermainkan oleh kehidupan!

Pertemuan ini di luar dugaannya. Harapannya semula, dia dapat meyakinkan Ayah Mela akan mimpi-mimpi besarnya. Nyatanya dia kalah telak! Orang tua itu terus bertutur tentang apa yang seharusnya dia lakukan.

Mela entah di mana. Gadis itu sengaja memberinya ruang untuk bicara dengan ayahnya. Ah, andaikata Mela di sisinya, mungkin dia akan membelanya mati-matian. Atau mungkin dia sudah menebak alur pertemuan itu, jadi Mela memilih keluar rumah sejenak.

Hafi merasa siang ini adalah hari yang paling menyesakkan. Perasaan yang tidak pernah dirasakan sebelumnya. Nasihat-nasihat yang diterimanya tidak mungkin diabaikan begitu saja. Dia harus memikirkan dan merenungkannya kembali. Karena ini menyangkut nasib cintanya pada Mela. Cinta yang kuat. Ternyata tak mudah jalur menuju kebahagiaan cinta yang abadi. Haruskah dia mengorbankan mimpi besarnya, agar dapat terus dalam cinta? Ataukah cinta yang harus dikorbankan untuk mimpi besarnya?

“Arh... Ya Allah kuatkan aku. Dan berikanlah petunjuk-Mu pada Ayah Mela!” seuntai doa terlepas, dengan masih membawa egonya.

Hafi pulang dengan wajah masam.


Sesampainya di barak, Ijul langsung menyapa, “Kok kusut, Mas, skripsi dicoret-coret ya sama pembimbing?” godanya. Dia adalah sahabat yang menyewa barak bersamanya. Ijul memang lebih muda dari Hafi. Di kampus pun Ijul adalah mahasiswa dua angkatan di bawahnya. Ijul inilah yang sering membantunya dalam segala urusan. Baik untuk kegiatan-kegiatan kampus yang diselenggarakannya, atau kegiatan-kegiatan pribadi. Ijul menganggap Hafi sebagai kakaknya yang selalu dia mintai pendapatnya dalam segala hal.

“Aku gak ada bimbingan hari ini, Jul.” Hafi melepas helmnya. Dia merenung sejenak di atas motornya.

“Jul ikut aku yuk. Kita jalan-jalan ke Bundaran Pesawat. Sore-sore gini kan enak nongkrong-nongkrong di sana.”

“Ayok, Mas, mantap tuh!”

Ijul melompat ke boncengan motor Hafi.

Motor lalu bergerak menyusuri jalan. Dengan kecepatan 60 km/jam, maka mereka hanya butuh waktu 30 menit untuk sampai di tempat tujuan..


Sampailah mereka di sana....

Dua pasang mata berbinar, menyaksikan burung besi yang bertengger di atas anyaman silang besi selengan. Di sekelilingnya terdapat bunga pagar yang tingginya satu meter. Rumput sekitar terpotong rapi seperti lapangan bola. Semua unsur yang ada mempercantik tampilan.

Pada diameter berikutnya, kira-kira berjarak sepuluh meter dari bunga, dibuat cor semen. Dua-tiga orang bergantian menggunakannya untuk berjalan. Bahkan kadang untuk berlari-lari kecil.

Bentuknya yang melingkar-lingkar dan ada pesawatnya. membuat banyak orang menyebutnya sebagai Bundaran Pesawat. Perbukitan di sekitarnya semakin menobatkannya sebagai tempat spesial. Itulah tempat paling dekat, yang biasa dikunjungi masyarakat kota Sangatta untuk menghibur diri. Meskipun sederhana dan tidak memiliki area yang luas, tetap harus disyukuri adanya.

Lokasi Bundaran Pesawat berdekatan dengan kantor Pusat Pemerintahan Kabupaten Kutai Timur. Di sana juga bisa menikmati keindahan dan kemegahan deretan gedung-gedung perkantoran. Dari kantor Bupati, DPRD, Masjid Islamic Center, dan kantor-kantor dinas lainnya. Pusat perkantoran itu adalah simbol kebanggaan masyarakat Sangatta.

Sore itu Hafi ingin larut dalam pesonanya. Udara dia hirup dalam-dalam kemudian dia embuskan secara perlahan. Terapi alami menetralkan energi negatif yang menguasainya. Pandangannya terus menjarah setiap keindahan yang dia temukan, warna hijau dedaunan terhampar mengelilingi kota Sangatta, sungguh menyejukkan dan memanjakan mata.

“Segar ya, Mas!” seru Ijul.

“Jul, coba kalau di dalam kota begini juga suasananya. Hidup kita semua pasti sehat, ya?”

“Ya pasti lah, Mas.”

Ijul larut juga menikmati pesona, keindahan, dan kesegarannya. Mereka tak banyak bicara. Gerakan-gerakan kecil untuk merelaksasi jiwa dan raga, mereka lakukan. Mulai dari pernapasan hingga peregangan otot-otot.

Hari mulai redup. Udara panas sudah tak terasa. Tiupan angin sepoi mulai terasa dingin. Semakin banyak orang datang dan pergi, seperti lebah yang mencari madu silih berganti.

“Ayo kita naik ke atas sana, Jul. Lihat matahari mau tenggelam!” Ajak Hafi sambil menunjuk suatu tempat, di arah selatan. Tempat yang paling tinggi, yang menyajikan pandangan bebas hambatan, saat menyaksikan matahari terbenam.

Garis lingkar matahari terlihat jelas. Sinarnya tak lagi menyilaukan. Pancaran kemerah-merahan menghiasi langit di sekitarnya. Awan-awan dengan warna merah dan putih kegelapan, menambah indah langit yang menakjubkan. “Tak ada mata yang tak terpesona melihatnya. Tak ada hati yang tak tentram merasakannya. Tak ada mulut yang tak memuji keindahannya. Sungguh itu adalah tanda kebesaran-Nya....” puji Hafi sembari menikmatinya.

Sementara itu senja mulai menghilang. Gelap malam merangkak menyelimuti kota. Hafi dan Ijul bergegas untuk kembali ke barak. Mereka megejar waktu agar tidak terlambat untuk sholat. Sebenarnya mereka dapat melaksanakan kewajibannya di Masjid Agung Islamic Center nan megah itu. Yang berada tak seberapa jauh dari situ. Namun Hafi merasa risih dengan badannya yang kotor dan berdebu. Dia ingin membersihkan badannya terlebih dahulu sebelum menunaikan sholat. Mereka harus bergegas agar waktu sholat tak habis.

Kelar sholat, Hafi mengeluh perlahan... dalam hatinya. Jiwanya berkecamuk perang. Dia menyesali Mela tak berada di rumahnya saat dia berjumpa ayahnya tadi. Dia menyesali pula mengapa kurang keras berjuang mempertahankan pendapatnya. Mengapa dia bisa dikalahkan begitu saja oleh pendapat Ayah Mela.

Hafi merasa berjuang sendirian tadi. Ah, seandainya Mela tadi ada, mungkin hasilnya akan berbeda. Walau Hafi tahu Mela sebenarnya tipe anak penurut, belum tentu juga dia akan membantu mempertahankan prinsip kekasihnya. Tapi paling tidak dengan tampil berdua, kekuatan mereka akan menyatu.

Setidaknya begitulah yang Hafi harapkan tadi....

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Tak Semudah Itu - Cerita Fiksi Inspiratif "Hasrat Meraih Mimpi" #4"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel