Hubungan Suami Istri Yang Saling Mengerti Adalah Rezeki Sejati

Hubungan Suami Istri Yang Saling Mengerti Adalah Rezeki Sejati

Salam bahagia wahai dunia, pagi ini kau sambut kami dengan sejuk, kau turunkan butiran-butiran air yang akan membawa kehidupan di muka bumi ini. Ya, itu sama halnya dengan butiran-butiran cinta yang saling berinteraksi dalam hubungan suami istri yang didasari atas saling mengerti. Jadi ibarat hujan yang diturunkan dengan membawa keberkahan.

Sudah pasti kami akan rela menerima dan menyambutnya dengan senyum dan tidak lupa selalu tersirat doa dan rasa syukur atas nikmat ini. Hem, akan tetapi pagi ini cuaca yang dingin bawaannya mau baring saja.

Tengok anak yang bentar lagi bakal jadi kakak sedang sibuk dengan mainannya. Minta doanya ya, para pembaca yang budiman, agar nanti si adik tetap sehat, lancar saat persalinan, dan kelak jadi anak sholeh.

BACA JUGA: Perjuangan Ibu Hamil Itu Berat, Jangan Sampai Tersia-siakan

Tengok ke sebelah lain, eh suami masih pulas tidurnya, karena sudah jadi kebiasaannya tidurnya selalu larut malam, entah itu karena bekerja atau karena sedang mempelajari sesuatu. Pandang-pandang wajah jadi ingat kritiknya, “dinda ini lho sudah beberapa tahun hidup bersama, enggak pernah mas lihat pengang buku.” hihihi, jamankan udah canggih lewat hp kan juga bisa, begitu cara ngelesnya.

Nah pas lagi ngelamun-ngelamun gitu kok tiba-tiba langsung kepikiran pengen nyoret-nyoret sesuatu di atas kertas, ya okelah kita coba nyoret-nyoret lagi, mengeluarkan isi hati, menggagas ide, menemukan inspirasi, semoga apa yang ditulis bisa membawa manfaat bagi diri pribadi maupun orang lain.

Memulai Hubungan Suami Istri

Dulu waktu umur 19 tahun, kepikiran buat nikah muda, ngebayangin seneng gitu kalau masih mudah sudah punya anak, nanti kayak adik kakak aja gitu. Tapi semua keinginan itu awalnya ditentang oleh keluarga, secara saat itu masih awal-awal kuliah jadi masih muda baget, dan keluarga sangat berharap besar agar bisa selesai kuliah dulu baru menikah. Jadi kalau mereka pikir kayaknya memang aku belum siap untuk berumah tangga, karena kata orang tua nikah itu tidak mudah menjalaninya.

Tapi kehidupan memang penuh rahasia Ilahi, justru malah pada saat itu aku dipertemukan dengan sosok laki-laki, ya laki-laki itu penuh dengan keseriusan dan ketulusan. Padahal awal pertemuan kami tidak terduga-duga, cuman gara-gara celotehan teman saja, bercanda-canda begitu, ya namanya juga aku orangnya santai, jadi ya aku tanggapi dengan senyum saja celotehan temanku itu. Eh, malah dia seriusin dan terus berkelanjutan, mau langsung memintaku pada orang tuaku.

Sedang aku yang tau harapan orang tuaku, aku harus berhati-hati dan cari momen yang tepat untuk mengizinkannya menemui orang tuaku, karena sebelumnya juga pernah ada yang datang tapi orang tua dan keluarga tidak menyetujuinya.

Singkat cerita, mulailah aku memberanikan diri lagi, aku awali dengan ngomong ke saudara-saudaraku terlebih dahulu sebelum ke orang tua. Bahwa ada sosok lelaki yang ingin ngajak nikah, tapi memang buat menuju nikah itu tidak mudah butuh yang namanya perjuangan.

Sampai-sampai butuh 3 (tiga) kali ngomong baru dapatlah respon dari kakak, dan kemudian apa yang aku inginkan disampaikan pada orang tua. Nah disitulah dia langsung disuruh datang, dan alhamdulillah suami langsung diterima baik oleh keluarga.

Alhamdulillah sekarang si kakak nggak terasa sudah besar, sudah hampir 3 tahun usianya, dan sebentar lagi adiknya si kakak bakal melihat dunia yang indah namun penuh tantangan ini, mudahan jadi anak yang soleh, manfaat, dan penuh dengan keberuntungan.

Hubungan Suami Istri Itu Saling Melengkapi

Sekarang jadilah kami sepasang suami istri yang saling melengkapi satu sama lainnya. Memang betul apa kata orang tua menjalani sebuah pernikahan tidak semudah apa yang dibayangkan apalagi awal pernikahan ada saja masalah yang datang silih berganti, kalau tidak kuat menghadapinya bisa ambyar semuanya..

Cobaan dalam rumah tangga itu, entah karena ekonomi, emosi, kesetiaan, sikap keluarga, dan banyak lagi yang lainnya. Karena menikah, bukan saja soal menyatukan dua hati, tapi menikah juga menyatukan dua keluarga besar yang berbeda pandangan.

BACA JUGA: Dalam Kerinduan, Doa Aku Panjatkan Untuk Keabadian Cintaku Pada Kalian Yang Tersayang

Nah ketika ujian ekonomi datang, waktu itu pas awal-awal pernikahan, bahkan sampai sekarang, hihihi. Ya namanya saja suami pekerjaanya pegawai biasa, kelas bawah gitu, gajinya kecil apalagi disertai penundaan pembayarannya. Kondisi seperti itu cukup membuat tidak tenang hati, langsung berpikir kemana-mana, waduh gimana ini hidup kalau tidak pegang uang, gimana mau makan begitu pikirku.

Tapi dasar suami orangnya santai nggak pernah ambil pusing, begitulah dia tidak pernah aku mendengar keluhannya nanti bagaimana dan bagaimana, tidak takut kelaparan, mungkin karena dia sudah pengalaman hidup menderita kali ya jadi tetap santai saja.

Apalagi setiap kehamilan yang aku alami pasti disertai keadaan yang tidak bersahabat sehingga lemas dan sakit terus menerus karena tidak enak badan. Jadi butuh uang banyak, sedang suami belum kunjung terima uang juga.

Tapi entah meskipun keadaan seperti itu suami tidak pernah merepotkan orang tua kami, kami juga tidak pernah bercerita tentang kesusahan kami pada mereka. Jadi yang mereka tahu kehidupan kami nyaman dan enak-enak saja, terlihat adem ayem, begitu mungkin pikir mereka.

Mengapa aku tidak berani mengutarakan keluh kesahku pada mereka, karena sebelum nikah aku sudah berjanji pada diri sendiri tidak akan mau merepotkan orang tua lagi. Ya begitulah meskipun banyak cobaan, yang aku ungkap itu hanya masalah ekonomi saja, masih banyak cobaan-cobaan lainnya diluar itu.

Namun dengan semua cobaan itu dan belajar pada suami cara menghadapi semuanya, setidaknya kini aku memahami bahwa dengan berdamai pada keadaan, akan membawa kelapangan yang luas, sehingga kekurangan yang ada dapat dapat ditutupi dengan saling melengkapi, diantara kami.

Ayunan-ayunan indah, kanan kiri, atas bawah, yang berjalan seimbang dan selaras, saling melengkapi dalam kehidupan kami itu, sehingga terciptalah kenampakan yang membahagiakan.

Pertahankan Hubungan Suami Istri dengan Kesetiaan dan Kesabaran

Berumah tangga ternyata memang seperti itu menjalaninya, harus penuh kesabaran dan yang terpenting juga adalah kesetiaan, dalam keadaan apapun kesetian pada pasangan itu penting. Bukankah indah menemani pasangan dari sesuatu yang tidak ada hingga sukses seperti apa yang diharapkan bersama.

Usia tua belum tentu dewasa, sebaliknya usia muda bisa jadi telah dewasa dalam mensikapi kehidupan ini. Semuanya tergantung pada diri masing-masing, yaitu dengan menyikapi semua masalah dengan kesetiaan dan kesabaran, tenang dan tetap berusaha mencari solusi adalah cara yang bisa ditempuh.

BACA JUGA: Istri Adalah Motivasi Kerja Suami, Jagalah Sikap Ini Agar Suami Tetap Semangat

Kesetiaan dan kesabaran akan mampu menghilangkan rasa takut dan bersedih hati, karena dalam diri terdapat keimanan yang begitu kuat atas usaha dan doa kepada Sang Maha Pemberi, yang akan meluaskan akan rezekiNya kepada setiap orang yang menjalani semua tahapan-tahapan tersebut dengan lapang dada, yang pada akhirnya Dia akan memberikan cerita-cerita indah buat hambaNya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Hubungan Suami Istri Yang Saling Mengerti Adalah Rezeki Sejati"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel