Page Break - Cerita Fiksi Inspiratif "Hasrat Meraih Mimpi" #7

Page Break - Cerita Fiksi Inspiratif Hasrat Meraih Mimpi

Page Break

Mewujudkan harapan adalah membangun MENTAL. Lalu berbuat sekecil apa pun yang bisa dilakukan, begitulah cara kerjanya.

-----------------------------
            1 KESALAHAN : Cerita Fiksi Inspiratif dengan judul HAFI - "Hasrat Meraih Mimpi", terbit setiap hari senin. Untuk menuju halaman Daftar Bagian Cerita atau Bagian 6.. Selamat menikmati...
-----------------------------


“APA yang harus aku lakukan? Ayah Mela tidak mempercayaiku. Beberapa hari ini aku selalu memikirkan nasihatnya. Semakin aku memikirkannya, justru aku semakin mantap dengan prinsipku. Entah, sepertinya ada dorongan yang kuat dalam diriku. Aku merasa semakin tertantang untuk membuktikan. Aku janji akan segera melakukannya. Masalahku sebenarnya hanyalah terletak pada persoalan kepastian. Jika aku sudah bergerak, Ayah Mela mungkin akan lain melihatnya.” Hafi bergumam sendirian.

Semalam Hafi telah memutuskan. Dia akan mencoba membuka usaha konsultan pemasaran. Usaha yang paling mungkin dia jalankan saat ini. Itu saja yang menjadi pertimbangannya. Meskipun modal belum dipegang dan belum ada jam terbang atau pengalaman. Keahliannya pun belum teruji di lapangan. Hanya tekad untuk harapan sajalah yang menopang. Hafi punya patokan, bahwa semua harapan itu di luar kemampuan. Keyakinanlah yang mendorong menggapai harapan itu. Dalam dunia usaha, keyakinan itu ada karena punya dana, pengalaman, dan keahlian.

Cukup sederhana Hafi menyikapi keadaan dirinya yang belum memiliki dana, pengalaman, dan keahlian tersebut. Karena menurutnya meskipun berkemampuan, namun tidak ada hasrat, maka semua itu juga tidak akan terjadi. Inti yang Hafi pegang untuk mewujudkan harapannya adalah membangun MENTAL. Lalu berbuat sekecil apa pun yang bisa dilakukannya.

Hafi menunggu Mela dengan perasaan senang. Di depan gang yang menuju barakan. Dia menunggu persis di tempat yang ditentukan Mela. Kekasihnya itu akan mengikuti pengajian ibu-ibu, di masjid depan gang sebelah. Untuk sampai ke masjid, pastinya Mela melewati gang yang menuju barak Hafi.

Mereka berdua sama-sama menanggung rindu karena beberapa hari belakangan tak berjumpa. Mereka sedang mencari ketenangan masing-masing, pasca konflik pengertian.

Hafi yang telah mendapatkan pencerahan, begitu rindu ingin bertemu. Rasa kangen begitu membuncah di dadanya. Dia akan menceritakan rencananya kepada Mela. Semoga ini membuat calon mertuanya percaya dan memberi restu.

“Hai, Kak, kok melamun?” Tiba-tiba Mela sudah ada di belakangnya.

“Loh kok Adek sudah ada di sini? Lewat mana tadi?” Hafi kaget, tak menduga Mela muncul dari belakangnya. Perhatian Hafi tertuju pada jalan yang akan dilalui Mela ketika menuju masjid. Dia tidak tahu kalau ternyata Mela sudah ada di masjid lebih dulu, sebelum dirinya sampai di depan gang.

“Ya lewat sini lah, Kak. Aku sudah dari masjid. Antar Ibu dulu tadi. Barusan melamun apa hayo?” Hafi dicibir.

“Melamun... ah gak tahu, pastinya aku lagi memikirkan nasib cinta kita.”

“Apa Kakak sudah memutuskan melaksanakan saran Ayah?”

“Untuk itu sepertinya aku tidak bisa!”

“Jadi apa yang Kakak perbuat untuk memperjuangkannya?”

“Mulai hari ini aku akan mulai mewujudkan konsep-konsep mimpi besarku. Dan ini sebagai bukti aku untuk menjawab kepercayaan ayahmu. Bantu aku untuk menunjukkannya, ya?”

“Tapi, Kak, aku tidak yakin. Ayah telah memintaku berkenalan dengan anak sahabat lamanya. Saat ini aku masih bisa menolak untuk bertemu, dan sepertinya aku mulai tidak sanggup jika harus terus-menerus menetang mereka.”

Dada Hafi terpukul hebat mendengarnya. Sebelumya tak terpikirkan jauh ke sana. Bahwa status Mela memang sangat mungkin untuk dilamar pria lain. Inikah tujuan Mela menemuinya? Menyampaikan berita pedih ini?

Keluh kesah Mela itu menyiratkan ketidakberdayaan. Haruskah cinta mereka putus di awal perjalanannya, demi kebahagiaan orang tua? Tak seharusnya mereka merampas kebahagiaan mereka berdua!

Mela iba melihat wajah Hafi yang berubah merah padam. Ragu-ragu dia melanjutkan kalimatnya, “... yang aku butuhkan saat ini adalah kepastian, bukan mimpi yang butuh waktu,” dengan nada yang begitu rendah. Merayu agar inginnya dituruti.

“Benarkan begitu, Dek? Ayah sudah ada calon lain?”

“Benar, Kak, aku belum mau bertemu dengan dia karena aku tidak mau mengkhianati cinta kita. Aku masih menunggu keputusan Kakak. Tapi aku tadi sudah bilang, mungkin aku tak bisa menahannya lebih lama lagi.”

Saling berdiam diri....

Lima menit berlalu....

Muka lesu Hafi begitu terasa. “Sudahlah kalau begitu. Dari awal, saat aku mengutarakan semua ini pada Ayah Adek, aku tidak bisa membuatnya yakin terhadap apa yang aku impikan. Kalau sudah begini, aku bisa berbuat apa? Jadi sudahlah, Adek turuti saja permintaan mereka!” Hafi putus asa.

“Kok begitu sih, Kak? Apa Kakak sudah tidak cinta lagi dengan Mela? Teganya Kakak berkata seperti itu. Sungguh Kakak tidak menghargai usahaku, itu menyakitkan, Kak!” sentak Mela penuh kemarahan.

“Tidak seperti itu, Dek, maksudku. Sedikit pun aku tidak ingin menyakiti,” sambut Hafi merendah. Mela tetap saja membantah, “lalu mengapa harus berkata seperti itu?” Geramnya.

“Itu artinya Ayah Mela tidak mempercayai aku. Buktinya dia mencari yang lain daripada meyakinkanku atau mendorongku untuk segera membuktikan mimpi-mimpiku.”

“Tidak, Ayah tidak mencarikanku. Sahabatnyalah yang datang kepadanya. Dan yang jelas dia tidak enak hati menolak permintaan sahabatnya,” bantah Mela.

“Seharusnya kan bisa sedikit bersabar dan menanyakan kembali kepadaku, bagaimana baiknya. Kalau sudah begitu pandangannya pasti akan terpengaruh oleh mereka. Aku kira apa pun yang akan aku lakukan, akan banyak terlihat salahnya. Sepertinya aku tidak sanggup menghadapinya, Dek.”

“Kenapa Kak Hafi putus asa?”

“Tidak, Dek, kita harus menerima keadaan ini. Mela sekarang bebas, lakukanlah yang diinginkan orang tuamu.”

Mela menangis. Hafi pun tak tahu harus berbuat apa. Sebab keadaan sudah jelas tak berpihak kepadanya. Terpaksa dia harus melepaskan ikatannya untuk membebaskan Mela pada hati yang lain tanpa harus berkhianat.

“Mela...” panggil Hafi lirih.

“Tidak ada yang perlu ditangisi. Kita harus kuat dan merelakan semuanya. Kebahagiaan cinta bukan hanya untuk diri kita saja. Tapi juga untuk orang-orang yang kita cintai,” jelas Hafi, “Mela, aku tidak akan menyalahkanmu dan aku mohon kamu juga tidak menyalahkanku,” lanjutnya

“Kak... jadi kita bubar?” Mela mengucurkan air matanya. Tiga orang ibu-ibu majelis talim dari gang sebelumnya, berjalan kaki melintas di depan Mela. Mereka mendengar jelas apa yang baru saja Mela katakan. Mereka memperhatikannya, terdengar lamat-lamat oleh Hafi. “Heleh... cinta abal-abal,” salah satu dari mereka mencibir.

Mungkin Mela juga mendengar sindiran itu. Dia berada lebih dekat dengan mereka. Ketika jamaah itu sudah menjauh, Hafi berusaha menenangkan Mela, “Sudahlah, Dek. Jangan menangis. Aku aja kuat. Cinta itu ibarat bahtera yang berlayar di laut. Menentukan arah, berusaha mendayungnya, dan menjaga dari kebocoran. Ternyata angin dan ombak lebih besar dari dayanya. Ketika bahtera itu hancur dan karam, apakah kita harus mempersalahkan bahteranya atau angin dan ombaknya? Aku kira seperti itu kebenaran ini. Kita serahkan saja kepada-Nya agar kita mampu untuk bersabar. Jika kita terus melanjutkannya di atas keburukan, maka aku yakin itu pasti akan mendatangkan keburukan-keburukan lainnya di kemudian. Apakah kamu mau? Yang jelas aku tidak mau.”

Namun Mela tetap berpendapat Hafi kurang berjuang untuknya. Begitu mudahnya lelaki di hadapannya menyerah. Sungguh kecewa dia.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Page Break - Cerita Fiksi Inspiratif "Hasrat Meraih Mimpi" #7"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel