Separuh Aku - Cerita Fiksi Inspiratif "Hasrat Meraih Mimpi" #6

Separuh Aku - Cerita Fiksi Inspiratif Hasrat Meraih Mimpi

Separuh Aku

Kalau dari awal semua sudah siap, itu jauh lebih baik. Ambil keputusan benar yang bisa diterima. Cinta itu butuh janji hidup!

-----------------------------
Bagian 1: Cerita Fiksi Inspiratif dengan judul HAFI - "Hasrat Meraih Mimpi", terbit setiap hari senin. Untuk menuju halaman Daftar Bagian Cerita atau Bagian 5.. Selamat menikmati...
-----------------------------


KALA burung telah melantun, menghibur menyambut terbitnya sang mentari, ibunya datang menghampiri, membawa kasih dan cinta yang suci. Tak tega dia melihat anaknya yang murung. Dia tahu kenapa putrinya enggan membangkitkan diri. Biasanya di pagi hari dia telah sibuk dengan aktifitas. Tapi hari ini hanya terbaring di tempat tidur, dengan mata sudah terjaga, namun kosong tak bermakna.

“Mela ayo bangun,” ajak ibunya. 

“Ini sudah bangun kok, Bu,” sahut Mela malas-malasan.

“Maksud Ibu itu bangun dari tempat tidur. Apa Mela sakit?”

“Gak Bu, Mela sehat kok, cuma lagi males ngapa-ngapain.”

“Eh... anak gadis pagi-pagi kok males. Gak boleh gitu. Ayo bangun!” paksa ibunya sambil mengulurkan kedua tangannya ke pundak anaknya. Kemudian dia menarik berlahan, agar anaknya bangkit.

“Uuuh...” desah Mela yang terpaksa harus menuruti kehendak ibunya. Mela tetap enggan untuk berdiri. Usaha ibunya hanya berhasil membuatnya terduduk. Apa yang Mela lakukan membuat ibunya menyerah dan malah ikut duduk di tepi ranjang, tepat di sisi Mela. Dia belai lembut rambut anaknya.

“Memang begitu, La bawaan cinta, makannya harus hati-hati,” sindirnya halus.

“Iya, Bu!”

“Ayah itu benar. Mela juga gak salah cinta mati dengan Hafi. Tapi kalau Ibu yang disuruh milih, Ibu lebih setuju dengan ayahmu, La!”

“Yah, Ibu malah dukung Ayah, bukan aku,” Mela mengeluh.

“Kalau dari awal semua sudah siap, itu jauh lebih baik. Ambil keputusan benar yang bisa Ayah dan Ibu terima. Cinta itu butuh janji hidup, La!”

“Kak Hafi pasti akan mampu memberikan itu, Bu!”

“Tapi kan belum ada bukti yang sudah jelas, La. Bicara soal cinta... Ibu dulu dijodohkan. Nyatanya sekarang keluarga kita hidup penuh dengan cinta tuh!”

Mela menatap wajah Ibunya. Merengut membuatnya makin imut. Bukan untuk melawan atau tidak percaya. Dia sebenarnya terkagum-kagum dan sangat bersyukur telah diberikan orang tua yang selalu harmonis, dalam setiap iringan langkahnya membina keluarga. Cinta mereka adalah gambaran cinta yang ingin Mela dapatkan.

“Lalu, Bu, bagaimana dengan kepentingan cinta Mela?”

“Yang mana?”

“Lho kok yang mana sih, Bu. Aku dengan Hafi lah, Bu!”

“Ikuti saja saran Ayah. Ibu tahu pasti berat. Sekarang tergantung Mela, mau hidup seperti apa nantinya. Mengetahui sesuatu itu baik karena kita juga tahu ada buruk. Ibu kira menuruti Ayah adalah kebaikan buat Mela.”

Ibu Mela yang berprofesi sebagai seorang guru, begitu paham bagaimana cara mempengaruhi orang lain. Adanya celah yang Mela buka saat mempertanyakan nasib cintanya itu adalah momen tepat untuk memperkuat dan mendukung pilihan apa yang akan diambil. Dengan begitu Mela akan dihadapkan pada keyakinan baru, yang melunturkan bagian demi bagian hiasan cinta yang telah Hafi bangun dengannya.

Apalagi di pagi hari seperti ini saat tubuhnya belum terbangun sempurna. Kondisi logika yang masih terkekang oleh kemalasan, sehingga tidak ada daya untuk menolak logika kebenaran yang keluar dari bibir seorang ibu, yang sangat mencintai dan menyayanginya itu.

“Ayo, La bangun. Terus cepat mandi, apa kamu gak ada kuliah hari ini?”

Ibunya pun bangkit untuk membuka jendela, melepas udara yang tak lagi segar. Agar tergantikan dengan yang baru.

“Aduh, Bu...!” desah Mela lirih. Raut mukanya tertumpuk pada sisi-sisi kedua matanya, begitu menerima cahaya yang masuk melalui jendela yang baru saja terbuka.

“Ada, Bu.” Jawab Mela setelah keluhnya.

“Nah itu, nanti kamu telat loh pergi ke kampusnya. Sekarang Ibu juga mau siap-siap ke sekolah,” terangnya.

“Mela yang sabar ya?” Ibu mengusap kepala anaknya itu sebelum pergi meninggalkannya.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Separuh Aku - Cerita Fiksi Inspiratif "Hasrat Meraih Mimpi" #6"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel