Ufuk - Cerita Fiksi Inspiratif "Hasrat Meraih Mimpi" #8

Ufuk - Cerita Fiksi Inspiratif - Hasrat Meraih Mimpi

Ufuk

Meskipun berkemampuan, berpeluang untuk bisa mendekati dan mendapatkannya, tetapi kalau tidak ada kemauan, itu tidak akan bisa terjadi!

-----------------------------
            2 HASRAT : Cerita Fiksi Inspiratif dengan judul HAFI - "Hasrat Meraih Mimpi", terbit setiap hari senin. Untuk menuju halaman Daftar Bagian Cerita atau Bagian 7. Selamat menikmati...
-----------------------------


ALI memandangi Hafi dengan rasa kasihan. Meski tetap tampan wajahnya, namun tak berekspresi. Dan terlihat tak menawan. Sindiran-sindiran kecil tak mampu mempengaruhinya bangkit dari keterpurukan. Benar-benar Hafi tak peduli atau tak mau peduli pada sahabatnya yang mengkhawatirkannya.

Banyak gadis yang telah Ali rujuk, termasuk gadis mata rembulan yang baru dikenal. Dia mahasiswa baru di kampusnya. Ali mengenal gadis itu saat bersama Uda membagikan brosur untuk menghimpun mahasiswa baru, yang memiliki minat dan bakat di bidang wirausaha. Di saat itulah dia menemukan gadis bagai mutiara itu. Dia begitu murni. Sepertinya dia belum terjamah oleh pria.

Brosur Ali dan Uda bagikan satu per satu, di sekitar tempat registrasi ulang mahasiswa baru yang telah diterima oleh kampus. Suasana sangat ramai-riuh oleh percakapan-percakapan yang tak jelas terdengar. Mereka berkerumun bagai semut di deretan meja yang penuh dengan tumpukan map dan kertas-kertas yang berserakan. Meja itu dijaga oleh beberapa orang pegawai kampus.

Tertarik dengan sosok gadis yang baru saja tiba, Ali menghampirinya sambil menyodorkan brosur. Sambil berdiri mereka berinteraksi. Ali diam-diam melirik gadis itu, lihatlah gayanya yang terjaga, perilakunya yang hormat, bicaranya yang lembut. Dialah pancaran keanggunan dan kesopanan. Ya, gadis dengan karakter seperti itulah yang Hafi suka.

Pagi ini, gadis itu yang selalu dibicarakan Ali, namun Hafi menolak dengan halus. “Halah, biarpun dia berwajah cantik, proporsional, bermata rembulan... apalagi katamu? Oh iya, anggun dan sopan, tetap saja, jika dia atau aku gak mau, mana mungkin itu terjadi.”

“Ya, betul sekali teman. Meskipun betulnya ucapanmu itu hanyalah karena kebetulan saja, tapi aku percaya kok sama kamu, hahaha....”

“Sialan kamu, Li, ucapan sempurna gini kamu bilang kebetulan. Asal kamu tahu ya, potensi yang ada pada diriku ini. Padahal hanya kamu pancing dengan roti isi coklat. Mana harganya cuma tiga ribuan, aku sudah tahu duluan maksudmu. Gak bisa aku bayangin, Li, kalau aku bisa makan roti tiap hari, bakal jadi apa aku ini. Hah, sukses besar pasti bakal aku raih.”

“Mulai nih mulai, candanya.”

Hafi menatap Ali dengan senyum. Berkharisma unik. Wajah itulah sesungguhnya yang Ali mau.

“Habis kamu duluan sih. Aku ngomong serius malah kamu ngajak canda.”

“Tapi bener lho kalau optimismu yang barusan itu dipakai untuk membangkitkan hatimu yang hancur, pasti hidupmu akan penuh warna lagi,” nasihat Ali.

Hafi terbengong, dia tidak segera menjawab pernyataan Ali. Seperti ada yang dia pikirkan. Memang sudah beberapa minggu ini perilaku Hafi begitu dingin. Semenjak dia tidak lagi berhubungan dengan Mela. Apakah sikapnya itu indikasi kehancuran hatinya? Sepertinya begitu, tetapi tidak biasanya. Kegagalan demi kegagalan, kesalahan dan kesalahan yang pernah dia alami sebelumnya, dapat dihadapi dengan ketenangan. Dengan begitu hikmah dari kegagalan atau kesalahannya selalu mudah dia temukan.

Apa mungkin karena perasaan yang dia bangun dengan Mela sudah menjadi bagian dari dirinya? Sehingga begitu Mela tidak lagi bersamanya dia merasa tidak sempurna, sampai-sampai tidak mampu lagi menyikapi apa yang saat ini terjadi? Mengapa dia tak bisa menyikapi kegagalan ini seperti yang sudah-sudah?

Dulu setiap dia gagal, dia mampu bangkit sendiri. Tanpa perlu orang lain memotivasi atau menasihatinya. Ini menjadi prestasi tersendiri baginya.

Begitu dalamkah cintanya pada Mela? Atau harapan-harapan yang dibangunnya itu dia tujukan untuk Mela? Benarkah dia terlalu cepat menyerah?

Kenangan bersama Mela membuat Hafi terdiam dalam penghayatan. Menyibak lembaran-lembaran ketegaran yang lalu. Nasihat Ali adalah pemicunya. Mengingatkan pada apa yang seharusnya, tentang jati diri yang sesungguhnya. Apa pun yang terjadi, membiarkan diri berlalu tanpa arti, adalah yang harus Hafi akhiri.

“Iya, Li, Aku baru sadar ternyata aku terlarut dalam kegagalan,” aku Hafi.

“Yups, Aku bisa menyadarkanmu bukan karena roti lho. Hahaha....” Ali mengutarakannya dengan ringan.

“Ah... kamu ini, Li, ada ada saja. Terus apa lagi saranmu untukku?”

“Gampang, sekarang kamu lihat gadis di sana itu!” Ali mengarahkan tangannya tepat pada lima orang gadis yang sedang ngobrol di sudut gedung. Mereka sesekali membuka buku dan menunjukkannya pada yang lain. Sepertinya sedang mendiskusikan sesuatu.

“Itu lagi, itu lagi. Emang ada apa dengan gadis-gadis yang di sana itu?” Hafi menggelengkan kepalanya tak percaya. Apa manfaatnya gadis-gadis itu baginya. Padahal Hafi berharap solusi yang tepat. Apa coba hubungannya gadis-gadis itu dengan keinginannya bangkit dari hati yang sakit?

“Fi, liatlah gadis yang pakai baju hijau.”

“Ya, memangnya kenapa?”

“Nah, gadis itulah gadis mata rembulan yang aku maksud tadi.” Ali menunjuk seorang di antara mereka.

“Eem!” gumam Hafi tak berarti.

“Am.em.am.em, paham tidak? Jangan-jangan kamu tidak mengerti apa yang aku maksud? Sekarang kecerdasanmu kan sedang jeblok, seperti jebloknya cintamu pada Mela?” Begitulah Ali, ceplas-ceplos kayak bebek. Pembawaannya blak-blakan melepas semua, apa saja yang ingin diucapkan, tanpa ada saringan.

“Hatimu ini kan sedang hancur. Segera dapatkan dia! Siapa tahu gadis itu bisa memperbaikinya dan menjadi masa depan kehidupanmu. Masa depan yang cerah, berkilauan cinta, dan bahagia,” goda Ali.

“Oalah, Li, masih di sekitaran situkah maksudnya?”

“Yups, dari awal tadi aku sudah mengisyaratkan ke sana. Kamunya gak paham, malah kamu jawab remeh. ‘Kalau dia atau kamu gak mau, kan gak bakal jadi.’ gitu katamu,” ungkap Ali menyeringai.

“Memang betul seperti itu kan? Meskipun aku menurut kamu berkemampuan, berpeluang untuk bisa mendekati dan mendapatkannya, tetapi kalau aku tidak ada kemauan, itukan tidak bakal bisa terjadi!” Jelas Hafi memberikan alasan.

Haaa... Ali telah salah menilainya. Dia mengira kemurungannya yang berlarut-larut itu semata karena Mela. Memang Mela adalah pembukanya. Tapi masalah sesungguhnya itu terletak pada ketidaksiapan dirinya. Bukan pada Mela yang meninggalkannya. Mempersalahkan diri itulah yang membuat Hafi berat melangkahkan kaki, menyusuri lorong-lorong kehidupan yang penuh liku-liku ujian.

Diam-diam Hafi mengepalkan tangan kanannya. Beberapa kali dia mendaratkan pada telapak tangan kirinya. Sebelum tangan kiri itu meremasnya dengan erat. Muka sadis mengancam. Lawan pasti lari tunggang-langgang takut karenanya.

Ali kebingungan, ada apa dengan ekspresi itu. Apa mungkin Hafi telah bersemangat. Timbul niat Ali untuk segera mengajaknya menyapa gadis itu, “Tidak usah bicara kemauan, bicara kemampuan! Ribet aku mikirnya. Ayo sudah kita datangi saja mereka!”

Hafi kaget. Bingung menderanya. Bisa-bisanya Ali langsung mengajaknya menemui gadis itu. Ini konyol. Benar-benar memalukan. Pasti ini gara-gara ekspresi keoptimisannya tadi.

Enggan sebenarnya Hafi melakukannya. Karena sama sekali tak ada hasrat untuk mencari penganti Mela. Saat ini hasrat kuatnya hanyalah untuk segera mengukir prestasi bisnisnya.

Tapi Ali dengan kuat menarik tangannya. Sudahlah akhirnya dia ikut saja. Kalau dia tetap berusaha keras menolaknya, dia takut akan membuat sahabatnya kecewa. Hafi pun mengikuti gerak langkah sahabatnya, dengan tangan yang masih tertenteng. Ayunan-ayunan kaki mereka berdua begitu mantap dan pasti. Memberikan gambaran bahwa, mereka adalah orang-orang yang mampu menghadapi tantangan kehidupan dunia.

Seayun-dua ayun langkah kaki berganti. Tak butuh waktu lama akhirnya sampai juga. Ali langsung menyapa mereka. Beberapa orang menjawab sapaan Ali tanpa canggung. Tanda bahwa di antara mereka telah terjalin keakraban.

Sedangkan Hafi tidak mengenal seorang pun. Ini membuatnya diam tak menyapa. Seperti kebiasaan Hafi bila berhadapan dengan cewek, dia tidak bisa banyak basa-basi. Berbeda dengan Ali yang begitu lihai bercanda gurau. Hafi itu rasa malunya tinggi saat berhadapan dengan cewek, sehingga tak mampu fokus memandang wanita di hadapannya. Sungguh cintanya dengan Mela dulu adalah kejadian yang tak disangka. Dengan sikapnya yang seperti itu dia mampu membangun ikatan cinta. Ya, itu pun berkat bantuan Ali, yang memang ahli.

Syukurlah, ketakutannya akan kekonyolan tak terjadi. Sebab Ali hanya mendiamkannya, sementara Ali mengobrol dengan mereka. Bahkan diperkenalkan pada gadis-gadis itu saja tidak. Sungguh strategi yang tak mampu Hafi pahami.

Berlangganan update artikel terbaru via email:

Belum ada Komentar untuk "Ufuk - Cerita Fiksi Inspiratif "Hasrat Meraih Mimpi" #8"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel